SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Menuju dan Melalui Persimpangan Jalan Muharram

Menuju dan Melalui Persimpangan Jalan Muharram

Menuju dan Melalui Persimpangan Jalan Muharram
Menuju dan Melalui Persimpangan Jalan Muharram

 

SURAU.CO – Muharram datang bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Hijriah. Ia adalah sebuah persimpangan jalan, tempat manusia berhenti sejenak untuk menimbang langkah, melihat jejak yang telah dilalui, dan menentukan arah perjalanan berikutnya.

Di persimpangan itu, ada yang memilih jalan kenangan, mengenang amal yang telah diperbuat. Ada yang memilih jalan penyesalan, meratapi waktu yang terbuang sia-sia. Ada pula yang memilih jalan harapan, menyusun niat dan cita-cita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Muharram mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan yang terus bergerak. Tidak ada seorang pun yang dapat kembali ke jalan kemarin, sebagaimana air sungai tidak pernah mengalir ke hulu. Yang dapat dilakukan hanyalah memperbaiki arah agar tujuan semakin mendekat kepada ridha Alloh.

Alloh SWT berfirman:

Apa Hubungan Haji Dengan Qurbãn?

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ

Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhi itsnā ‘asyara syahran fī kitābillāh.
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Alloh ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah.” (QS. At-Taubah: 36)

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan

Kemuliaannya bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diisi dengan peningkatan iman, amal, dan ketakwaan.

Persimpangan Muharram juga mengingatkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan nilai; dari gelap menuju terang, dari lalai menuju sadar, dari ego menuju penghambaan kepada Alloh.

Rasululloh SAW bersabda:

Jangan Sampai Dilupakan Allah Karena Maksiatmu: Telaah Ilmiah terhadap QS. Al-Hasyr Ayat 18–19 tentang Bahaya Kelalaian Spiritual

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Wal muhājiru man hajara mā nahallāhu ‘anhu.
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Alloh.” (HR. Bukhari)

Maka ketika berada di persimpangan Muharram, pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri bukanlah: “Sudah berapa umurku?” melainkan: “Sudah sejauh mana langkahku menuju Alloh?”

Jalan dunia sering menawarkan kemegahan, pujian, dan kebanggaan sesaat.

Namun jalan akhirat mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan ketundukan. Keduanya tampak berdampingan di persimpangan kehidupan, dan setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih.

KEHEBATAN SISTEM KEDOKTERAN NABI MUHAMMAD (THIBB NABAWI) DALAM MENYEMBUHKAN WABAH PENYAKIT: PERSPEKTIF AL-QUR’AN, AL-HADITS, AS-SUNNAH, ILMU KEDOKTERAN, DAN ILMU FARMASI (FARMAKOLOGI)

Muharram adalah undangan untuk berhenti sejenak tanpa berhenti melangkah.

Menundukkan kepala tanpa kehilangan semangat. Mengoreksi diri tanpa kehilangan harapan.

Renungan

Jangan takut menghadapi persimpangan Muharram.

Takutlah bila terus berjalan tanpa arah.

Sebab jalan yang benar tidak selalu yang paling ramai, dan jalan yang ramai tidak selalu menuju kebenaran.

Muharram mengajak kita menjadi pengembara jiwa yang bijak: Mengingat masa lalu sebagai pelajaran.

Menjalani hari ini sebagai amanah.

Menatap masa depan sebagai harapan.

Semoga pada setiap persimpangan Muharram, kita tidak sekadar berganti tahun, tetapi juga bertambah iman, bertambah ilmu, bertambah adab, dan semakin dekat kepada Alloh SWT.

“Muharram bukan hanya tentang memasuki tahun baru, tetapi tentang memasuki diri yang baru.”

 

 

 


Haluan Kapal “Tangan Kiri dan Kanan Berpusat di Pikiran Sesuai Ayat”

 

Haluan kapal mengarah ke tujuan, menembus gelombang dan menghadapi perubahan arah angin. Kapal yang besar tidak akan sampai ke pelabuhan tanpa nahkoda yang bijaksana dan petunjuk yang benar.

Demikian pula manusia.
Tangan kiri dan tangan kanan adalah alat, namun penggeraknya adalah pikiran, sedangkan penuntunnya adalah hati dan iman. Apa yang dilakukan tangan, sesungguhnya berawal dari apa yang dipikirkan dan diniatkan.

Alloh SWT. berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Pendengaran menerima suara, penglihatan menangkap kejadian, pikiran mengolah, hati menimbang, lalu tangan melaksanakan.

Karena itu, tangan tidak dapat dilepaskan dari pikiran, dan pikiran tidak boleh dilepaskan dari petunjuk Alloh.

Alloh juga berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18)

Bila ucapan saja dicatat, maka perbuatan tangan pun tidak luput dari hisab

Tangan memberi atau mengambil, menolong atau menyakiti, menulis ilmu atau menyebar fitnah, semuanya bermula dari arah pikiran yang dipilih.

Rosululloh SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka pikiran yang diterangi ilmu, dan hati yang diterangi iman, akan mengarahkan tangan menuju amal saleh.

Sebagaimana haluan kapal menentukan arah pelayaran, pikiran menentukan arah perbuatan, dan hati menentukan nilai perjalanan.

Jangan biarkan tangan bergerak tanpa tuntunan, karena setiap gerak memiliki tujuan, setiap tujuan memiliki pertanggungjawaban, dan setiap perjalanan akan berakhir di hadapan Alloh Yang Maha Mengetahui.

“Tangan kiri dan kanan adalah dayung kehidupan, pikiran adalah haluan perjalanan, dan iman adalah kompas menuju ridho Alloh.” (Bambang JB.)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.