SURAU.CO – Awan datang dari timur, barat, utara, dan selatan. Ada yang berarak perlahan, ada yang berlari bersama angin. Mereka saling silang dan berselang, namun tidak saling berebut langit. Begitulah kehidupan manusia; berbeda jalan, berbeda pemikiran, berbeda pengalaman, namun tetap berada dalam satu bumi dan di bawah satu langit ciptaan Alloh.
Ayat-Ayat Al-Qur’an
- Tentang Perbedaan sebagai Rahmat dan Tanda Kekuasaan Alloh
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ
Latin
Wa min āyātihi khalqus-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfu alsinatikum wa alwānikum.
Artinya
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi dan berlain-lainnya bahasamu dan warna kulitmu.”
QS. Ar-Rum [30]: 22
Makna Lukisan
Sebagaimana bentuk awan tidak pernah sama, manusia pun diciptakan dalam keberagaman agar saling mengenal dan mengambil hikmah.
- Tentang Awan yang Dikendalikan Alloh
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا
Latin
Alam tara annallāha yuzjī saḥāban tsumma yuallifu bainahu tsumma yaj‘aluhu rukāmā.
Artinya
“Tidakkah engkau melihat bahwa Alloh mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara bagian-bagiannya lalu menjadikannya bertindih-tindih.”
QS. An-Nur [24]: 43
Makna Lukisan: Awan yang saling silang dan berselang menunjukkan bahwa segala pertemuan dan perpisahan terjadi atas ketetapan Alloh.
- Tentang Pergantian dan Perjalanan Kehidupan
إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ
Latin
Inna fīkhtilāfil-laili wan-nahāri wa mā khalaqallāhu fis-samāwāti wal-arḍi la āyātil liqaumin yattaqūn.
Artinya
“Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang serta apa yang diciptakan Alloh di langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang bertakwa.”
QS. Yunus [10]: 6
Hadis Nabi SAW
Hadis Riwayat Muslim
Dari Abu Hurairah, Rasululloh SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya
“Sesungguhnya Alloh tidak melihat rupa dan jasad kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Makna Lukisan: Awan memiliki bentuk yang berbeda-beda. Demikian pula manusia. Yang menjadi ukuran bukan bentuknya, melainkan isi hati dan amalnya.
Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Artinya
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Bukhari Muslim)
Makna Lukisan: Awan yang berkumpul dapat menjadi hujan yang bermanfaat. Manusia yang bersatu dapat menjadi kekuatan bagi sesama.
Pandangan
Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali menjelaskan bahwa dunia selalu berubah. Orang bijak tidak terpaku pada perubahan, melainkan mengambil hikmah di baliknya. Awan yang saling silang adalah gambaran perjalanan hidup yang tidak pernah tetap.
Ibnu Athaillah As-Sakandari(tokoh tarekat syadziliyah)
Dalam hikmahnya, beliau mengajarkan bahwa pergantian keadaan adalah cara Alloh memperkenalkan kekuasaan-Nya kepada hamba. Kadang cerah, kadang mendung, semuanya adalah pendidikan ruhani.
Jalaluddin Rumi (penyair)
Rumi mengibaratkan manusia sebagai musafir. Pertemuan hanyalah persinggahan, dan perpisahan adalah kelanjutan perjalanan menuju Alloh.
Sedikit Guyonan Abu Nawas
Pada suatu sore, Abu Nawas duduk menatap awan.
Raja bertanya:
“Wahai Abu Nawas, apa yang kau lihat?”
Abu Nawas menjawab:
“Hamba sedang melihat lalu lintas langit.”
“Lalu lintas langit?”
“Iya, Yang Mulia. Awan dari timur mau ke barat, awan dari barat mau ke timur.”
“Kenapa tidak bertabrakan?”
Abu Nawas tersenyum:
“Karena mereka tidak punya rasa paling benar.”
Raja tertawa.
“Lalu manusia?”
Abu Nawas menjawab:
“Kadang belum sampai tujuan sudah bertabrakan dulu karena merasa jalannya paling lurus.”
Guyonan Nusantara
Pak Lurah dan Pak Joko duduk di sawah.
Pak Lurah berkata:
“Lihat awan itu saling silang.”
Dan Pak Joko menjawab:
“Seperti rapat desa, Pak.”
“Maksudnya?”
“Arahnya banyak, usulnya banyak, yang pulang tetap satu jalan.”
Pak Lurah tertawa.
Pak Joko melanjutkan:
“Bedanya, awan habis silang jadi hujan. Kalau rapat habis silang kadang malah tambah rapat lagi.”
Semua yang mendengar tertawa.
Renung diri
Awan mengajarkan bahwa perbedaan arah bukan alasan untuk bermusuhan. Ia bergerak sesuai ketentuan Alloh, memberi manfaat tanpa banyak bicara.
Akhir lukisan
“Awan saling silang di langit, tetapi tidak saling menyalahkan. Manusia saling bertemu di bumi, semoga tidak saling menjatuhkan. Sebab yang membuat langit indah bukan satu awan, melainkan banyak awan yang mampu berbagi ruang.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
