SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Meluruskan Makna “Qurban bukan Aqiqah dan Aqiqah bukan Qurban”

Meluruskan Makna “Qurban bukan Aqiqah dan Aqiqah bukan Qurban”

Meluruskan Makna “Qurban bukan Aqiqah dan Aqiqah bukan Qurban”
Meluruskan Makna “Qurban bukan Aqiqah dan Aqiqah bukan Qurban”

 

SURAU.CO – Di sebuah obrolan siang hari, beberapa orang duduk di teras rumah sambil menikmati angin yang berembus pelan.

Percakapan mengalir dari hal sehari-hari sampai urusan ibadah.

Lalu seorang di antara mereka bertanya,
“Kadang ada yang menganggap qurban dan aqiqah itu sama-sama menyembelih hewan, jadi bisa saling menggantikan.

Benarkah begitu?”

Bahaya Zina dalam Perspektif Islam: Ancaman terhadap Nasab, Moral, dan Peradaban

Seorang yang lebih tua tersenyum, lalu berkata, “Di situlah pentingnya meluruskan makna.

Qurban bukan aqiqah, dan aqiqah bukan qurban. Meski sama-sama menyembelih hewan, keduanya berbeda niat, waktu, dan tujuan.”

Ia melanjutkan, “Idul Adha atau ibadah qurban dilakukan pada hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah sebagai bentuk ketaatan dan mendekatkan diri kepada Alloh, meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Maknanya adalah pengorbanan, keikhlasan, dan berbagi kepada sesama.”

“Sedangkan Aqiqah,” katanya, “adalah ibadah yang berkaitan dengan kelahiran anak. Sebagai bentuk syukur orang tua atas amanah baru.

Kisah Hikmah Ilmu “Dzulhijjah Hari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10”

Biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran, walau bisa juga di waktu lain.

Maknanya adalah rasa syukur, doa, dan tanggung jawab terhadap anak.”

Seorang pemuda mengangguk. “Jadi meski sama-sama kambing atau hewan sembelihan, niatnya berbeda?”

“Betul,” jawabnya.

“Dalam ibadah, niat itu pokok. Menyembelih hewan untuk qurban tidak otomatis menjadi aqiqah. Begitu pula aqiqah tidak dapat menggantikan qurban.

Berjihad Dengan Jihad Yang Besar: Refleksi Fungsi Jiwa yang Berfluktuasi Bersama Al-Qur’an dalam Konsep “Berfikir Qur’ani”

Seperti shalat subuh tidak bisa diganti dengan shalat magrib, walau sama-sama shalat.”

Semua tertawa kecil mendengar perumpamaan itu.

Lalu orang tua itu menutup obrolan dengan kalimat sederhana:

“Meluruskan makna berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Qurban adalah ibadah pengorbanan di waktu tertentu. Aqiqah adalah ibadah syukur atas kelahiran. Keduanya sama-sama mulia, tetapi masing-masing punya maksud sendiri.

Jangan dicampuradukkan, agar ibadah tetap lurus sesuai ajarannya.”

Siang itu percakapan berakhir, namun pesannya jelas:

Dalam hidup, banyak hal tampak serupa di luar, tetapi berbeda hakikat di dalam. Maka memahami niat dan tujuan adalah jalan agar tidak keliru menempatkan makna.

 

 

 

 


Obrolan Tepi Jalan “Mencapai Tempat Kemuliaan dengan Syarat Ketulusan, Kewajiban, Menggugurkan Kewajiban atau Keikhlasan”

Di tepi jalan, saat matahari baru naik dan suara kendaraan mulai bersahutan, beberapa orang duduk di bangku kayu dekat warung kecil. Ada yang memegang segelas kopi, ada yang hanya menatap jalan sambil sesekali menghela napas.

Seorang bapak tua membuka obrolan, suaranya pelan namun mengena.

“Setiap orang ingin sampai ke tempat yang mulia. Ingin dihormati, ingin selamat, ingin hidupnya bermakna.

Tapi jalan menuju kemuliaan itu tidak hanya soal tujuan, melainkan soal syarat yang harus dibawa.”

Orang-orang menoleh

Seorang pemuda bertanya,
“Memangnya syaratnya apa, Pak? Bukankah cukup berbuat baik saja?”

Bapak itu tersenyum.

“Berbuat baik belum tentu membawa ke kemuliaan, kalau hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Ada orang bekerja karena takut dimarahi. Ada orang beribadah karena takut dianggap lalai. Dan ada pula yang menolong karena ingin dipuji. Semua itu terlihat baik, tetapi belum tentu bernilai mulia.”

Suasana hening. Suara sepeda motor lewat, lalu kembali sunyi.

Bapak itu melanjutkan,
“Ketulusan itu beda.

Ketulusan lahir dari hati yang tidak menghitung untung-rugi. Kewajiban memang harus dijalankan, sebab itu tanggung jawab. Tapi kalau hanya sekadar menggugurkan kewajiban, jiwa kita kosong. Yang mengangkat amal menjadi mulia adalah keikhlasan.”

Seorang ibu yang sejak tadi menyapu halaman warung ikut menyela,
“Jadi orang yang melakukan tugas karena terpaksa, nilainya tidak sama dengan yang ikhlas ya?”

“Betul,” jawab bapak itu.

“Dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama. Satu karena ingin selesai saja, satu lagi karena merasa itu amanah. Secara kasat mata hasilnya sama.

Tapi di hadapan nurani dan Tuhan, nilainya jauh berbeda.”

Pemuda tadi mengangguk pelan.
“Berarti tempat kemuliaan bukan dicapai dengan jabatan, bukan juga dengan banyaknya harta?”.

Bapak tua tertawa kecil

“Jabatan bisa membuat orang dikenal. Harta bisa membuat orang disegani. Tapi kemuliaan sejati adalah ketika hati tetap jernih dalam menjalankan kewajiban, dan tulus tanpa berharap pujian.

Banyak orang tinggi kedudukannya, tapi rendah akhlaknya. Ada juga orang sederhana, tapi mulia karena keikhlasannya.”

Angin pagi berembus membawa aroma gorengan dari warung.

Semua terdiam, seakan masing-masing sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Sebelum beranjak, bapak tua menutup percakapan:
“Kalau ingin mencapai tempat kemuliaan, jangan hanya tanya apa yang harus dikerjakan.

Tanyakan juga: dengan hati seperti apa kita mengerjakannya. Sebab yang sampai bukan hanya langkah kaki, tapi juga niat yang dibawa.”

Di tepi jalan itu, obrolan sederhana kembali mengajarkan bahwa kemuliaan bukan hadiah dari dunia, melainkan buah dari ketulusan, kewajiban yang dijalankan sepenuh hati, dan keikhlasan yang tidak mencari nama. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.