SURAU.CO – 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗞𝗲𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗥𝗮𝘀𝘂𝗹𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 ﷺ: Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah ketika ketaatan dan kepemimpinan terbalik:
“Apabila seorang laki-laki mentaati istrinya, orang fasik memimpin suatu kaum, para penyanyi wanita merajalela, maka tunggulah datangnya angin merah, gempa bumi, longsor, dan tanda-tanda kiamat yang beruntun bagaikan untaian mutiara yang putus talinya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2210; al-Hakim, al-Mustadrak)
Hadits ini bukan sekadar teks klasik. Hari ini kita menyaksikan sendiri kebenarannya.
𝗞𝗲𝘁𝗮𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝗹𝗶𝗸: 𝗥𝘂𝗻𝘁𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮 𝗕𝗲𝗻𝘁𝗲𝗻𝗴 𝗨𝗺𝗮𝘁
Rumah tangga adalah benteng pertama umat. Allah ﷻ menegaskan:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS. an-Nisa: 34).
Namun, ketika suami tunduk pada hawa nafsu istrinya yang menyimpang, benteng ini runtuh. Ketaatan terbalik ini membuka pintu kehinaan, membiarkan istrinya menjadi durhaka dan menyeret dia ke neraka karena membiarkan itu semua, bukan hanya bagi keluarga itu, tetapi bagi masyarakat luas.
Secara psikologis, seorang lelaki yang membiarkan perempuan memimpin rumah tangganya, dia sedang melatih dirinya untuk tunduk pada sistem yang nantinya menghasilkan pemimpin-pemimpin fasik.
𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗧𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗸𝗲 𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝗙𝗮𝘀𝗶𝗸
Ketaatan yang terbalik dalam rumah tangga akhirnya terinstitusionalisasi dalam masyarakat. Sistem kufur bernama demokrasi menjadikan suara mayoritas sebagai hukum, bukan wahyu Allah.
Dari sinilah lahir pemimpin fasik. Mereka berkuasa bukan karena syariat, tetapi karena politik uang, popularitas, dan permainan media. Bahkan, demokrasi memungkinkan munculnya pemimpin perempuan yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam.
Fakta sejarah modern di Indonesia: sejak era Megawati Soekarnoputri (PDIP), bangsa ini pernah dipimpin oleh seorang perempuan. Sejak itu pula konsep kepemimpinan perempuan dalam skala negara dianggap wajar. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan.” (HR. al-Bukhari, no. 4425).
Bukankah hadits ini seharusnya cukup jelas menjadi peringatan?
𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗝𝗮𝗵𝗶𝗹𝗶𝘆𝗮𝗵 𝗠𝗼𝗱𝗲𝗿𝗻: 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝘁𝗼𝗻𝘁𝗼𝗻𝗸𝗮𝗻
Islam sejak awal datang untuk menjaga kemuliaan perempuan. Tetapi hari ini, perempuan justru dijadikan alat politik dan hiburan.
Fakta hari ini:
Di istana, penyanyi perempuan diundang, berjoget fasik di hadapan para pemimpin dan pejabat tinggi negara.
Di media, perempuan dipertontonkan sebagai komoditas hiburan.
>Di politik, perempuan didorong tampil sebagai pemimpin, padahal ini bertentangan dengan sunnah Rasulullah ﷺ.
Inilah jahiliyah modern—mereka tak lagi memuliakan perempuan, malah mengeksploitasi, mempertontonkan, dan menjadikannya alat maksiat.
𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗣𝗲𝗻𝗷𝘂𝗮𝗹 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮
Kerusakan ini semakin parah ketika ada ulama suu’ yang membenarkan kebatilan. Mereka berdiri di mimbar, tetapi bukan untuk membela Islam, melainkan menjadi corong penguasa.
Mereka menutupi ayat-ayat Allah dan seakan melegitimasi demokrasi sebagai bagian dari Islam.
Allah ﷻ memperingatkan:
“Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahuinya.” (QS. al-Baqarah: 42).
𝗔𝘇𝗮𝗯 𝗧𝗲𝗿𝗵𝗮𝗺𝗽𝗮𝗿: 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 & 𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗞𝗲𝗸𝗶𝗻𝗶𝗮𝗻
Ketika rumah tangga rusak, sistem rusak, ulama menyesatkan, dan mereka mengagungkan hiburan maksiat—maka janji Allah pun dekat:
“…maka tunggulah datangnya angin merah, gempa bumi, longsor, dan tanda-tanda kiamat yang beruntun bagaikan untaian mutiara yang putus talinya.”
Dan lihatlah fakta empiris di negeri ini, bagaimana bencana beruntun terjadi:
Data Bencana Besar Indonesia 20 Tahun Terakhir
2004: Tsunami Aceh, korban > 220.000 jiwa.
2006: Gempa Yogyakarta, korban > 5.700 jiwa.
2010: Letusan Merapi & tsunami Mentawai.
2018: Gempa & tsunami Palu-Donggala, korban > 4.300 jiwa.
2021–2024: BNPB mencatat rata-rata >2.000 bencana per tahun (gempa, banjir, longsor, kebakaran hutan).
Semua ini adalah tanda bahwa sabda Rasulullah ﷺ benar adanya. Azab bukan hanya peringatan, tapi realita yang kita rasakan.
𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗨𝗺𝗮𝘁
Kita hidup di masa yang sama dengan gambaran hadits Rasulullah ﷺ. Apa yang beliau sabdakan kini nyata:
Perempuan memimpin rumah tangga.
Pemimpin fasik lahir dari demokrasi.
Masyarakat (atau Orang-orang) sudah menganggap wajar pemimpin perempuan sejak era Megawati (PDIP). Masyarakat sudah menganggap wajar pemimpin perempuan sejak era Megawati (PDIP). Mereka mempertontonkan penyanyi perempuan dan hiburan fasik bahkan di istana. Pemerintah/Elit bahkan mempertontonkan penyanyi perempuan dan hiburan fasik di istana.
Ulama suu’ membenarkan sistem kufur.
Azab berupa bencana silih berganti menimpa negeri.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan takutlah kalian terhadap fitnah (azab) yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.”
(QS. al-Anfal: 25).
𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵
Kembalilah kepada syariat Islam yang kaffah. Jangan biarkan demokrasi menipu umat.
Tolak kepemimpinan fasik, tolak kepemimpinan perempuan.
Lawan ulama palsu yang menutup-nutupi kebenaran.
Hentikan pengagungan hiburan fasik.
Sebarkan kebenaran ini! Karena menyembunyikan kebenaran hanya akan mempercepat datangnya murka Allah. (Rahmat Daily)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
