SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesehatan
Beranda » Berita » Menolak Kepikunan demi Kesehatan dan Kebermanfaatan Hidup

Menolak Kepikunan demi Kesehatan dan Kebermanfaatan Hidup

Menolak Kepikunan demi Kesehatan dan Kebermanfaatan Hidup
Menolak Kepikunan demi Kesehatan dan Kebermanfaatan Hidup

 

SURAU.CO – Usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, langkah boleh melambat, namun semangat menjaga akal, hati, dan kebermanfaatan hidup tidak boleh berhenti.

Kepikunan adalah bagian dari ketentuan Alloh yang dapat terjadi pada sebagian manusia, tetapi Islam mengajarkan ikhtiar agar usia senja tetap dihiasi ilmu, ibadah, kesehatan, dan amal saleh.

Menolak kepikunan bukan berarti menolak takdir, melainkan menjaga amanah akal yang telah Alloh karuniakan. Akal yang sehat digunakan untuk mengingat Alloh, menebar manfaat, membimbing keluarga, dan menjadi pelita bagi masyarakat.

Alloh SWT berfirman:

Keutamaan Berdoa pada Hari Jum’at di Akhir Waktu Ashar: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ مِنۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ

Wa minkum man yuraddu ilā ardzalil-‘umuri likailā ya’lama ba’da ‘ilmin syai’ā.

“Dan di antara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu telah diketahuinya.”
(QS. An-Nahl: 70)

Ayat ini mengingatkan bahwa kepikunan dapat terjadi pada manusia.

Karena itu, selama akal masih sehat, hendaknya digunakan untuk kebaikan, pembelajaran, dan ibadah.

Menuju dan Melalui Persimpangan Jalan Muharram

Alloh juga mengajarkan doa perlindungan:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ

Rabbi awzi’nī an asykura ni’mataka allatī an’amta ‘alayya.

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu.”
(QS. An-Naml: 19)

Hadis Nabi SAW
Dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah SAW berdoa:

Apa Hubungan Haji Dengan Qurbãn?

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ

Allahumma inni a’ūdzu bika minal bukhli wal kasali wa ardzalil-‘umur.

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, malas, dan usia yang sangat lemah (pikun).”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memohon perlindungan dari keadaan usia yang menyebabkan hilangnya kekuatan dan kemampuan berpikir.

Pandangan Ulama

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akal adalah anugerah besar yang harus dipelihara melalui ilmu, dzikir, tafakur, dan pengendalian diri. Hati yang hidup akan membantu menjaga kejernihan pikiran.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
menerangkan bahwa kesehatan ruhani melalui dzikir, membaca Al-Qur’an, dan amal saleh memberikan pengaruh positif terhadap kekuatan jiwa dan akal manusia.

Imam An-Nawawi menekankan pentingnya menjaga kesehatan badan dan memanfaatkan waktu untuk ilmu serta ibadah, karena keduanya merupakan nikmat yang sering dilalaikan manusia.

Menolak Kepikunan dengan Ikhtiar

Membiasakan membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Menuntut ilmu sepanjang hayat.

Menjaga kesehatan fisik dengan olahraga dan pola makan yang baik.

Memperbanyak dzikir dan doa.

Aktif bersosialisasi serta berbagi pengalaman kepada generasi muda.

Menjaga semangat berkarya dan beramal saleh.

Menghindari kemalasan serta membiasakan berpikir positif.

Tataran

Masa tua yang indah bukanlah ketika tubuh masih kuat semata, melainkan ketika akal tetap jernih, hati tetap bening, dan hidup tetap memberi manfaat.

Jangan biarkan usia mengurangi semangat untuk belajar, mengajar, beribadah, dan berkarya.

“Menolak kepikunan bukan menolak usia, melainkan merawat amanah akal agar tetap menjadi cahaya bagi diri, keluarga, dan sesama. Selama nafas masih berhembus, kebermanfaatan harus terus tumbuh.”

 

 

 


“Bertemu Saudara dalam Komunikasi Bagai Kehampaan Nyata”

Di zaman yang dipenuhi kata-kata, pesan, dan perjumpaan maya, manusia semakin mudah berkomunikasi.

Namun tidak semua komunikasi menghadirkan kedekatan hati. Ada kalanya percakapan berlangsung panjang, tetapi makna terasa pendek. Ada kalanya suara terdengar jelas, tetapi pesan tidak sampai ke jiwa.

Dalam keadaan demikian, seseorang dapat bertemu saudara dalam komunikasi, namun merasakan bagai kehampaan yang nyata. Bukan karena tidak ada kata, melainkan karena hilangnya keikhlasan, perhatian, dan zikir kepada Alloh dalam setiap perbincangan.

Sebaliknya, satu kalimat yang lahir dari hati yang tulus dapat menjadi penyejuk jiwa, penguat langkah, dan pembuka pintu hikmah.

Ayat Al-Qur’an
1. Berkata yang Baik

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Wa qūlū lin-nāsi ḥusnā.

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Qur’an)

Komunikasi yang baik bukan hanya indah di telinga, tetapi juga membawa manfaat bagi hati dan kehidupan.

  1. Berkata Benar

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha wa qūlū qaulan sadīdā.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Qur’an)

Kejujuran dan ketepatan ucapan merupakan pondasi komunikasi yang diberkahi.

  1. Ketenangan Hati

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Alā bidhikrillāhi taṭma’innul-qulūb.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.”
(QS. Al-Qur’an)

Kehampaan dalam komunikasi sering kali muncul ketika hati kehilangan hubungan dengan Alloh.

Hadist Rosululloh SAW

  1. Berkata Baik atau Diam

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil ākhir falyakul khairan aw liyashmut.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

  1. Mukmin yang Menguatkan

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Al-mu’minu lil-mu’mini kal-bunyān.

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Komunikasi yang baik hendaknya menguatkan, bukan melemahkan; menyatukan, bukan memecah.

Pandangan Ulama

Imam Al-Ghazali

Beliau menjelaskan bahwa lisan adalah penerjemah hati. Jika hati dipenuhi keikhlasan dan hikmah, maka ucapan akan membawa manfaat. Namun jika hati kosong dari nilai-nilai kebaikan, banyaknya kata tidak akan menghasilkan keberkahan.

Imam An-Nawawi

Beliau menekankan bahwa menjaga lisan termasuk akhlak utama seorang muslim.

Banyak kerusakan hubungan berawal dari kata-kata yang tidak dipikirkan dengan baik.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Beliau menerangkan bahwa hati yang hidup akan memancarkan nasihat yang hidup pula.

Karena itu, kualitas komunikasi bergantung pada kualitas hati yang berbicara.

Tataran

Bertemu saudara dalam komunikasi bagai kehampaan nyata, mengajarkan bahwa tidak semua pertemuan menghadirkan kedekatan, dan tidak semua percakapan menghadirkan pemahaman.

Ada kalanya banyak kata kehilangan makna, dan ada kalanya satu kalimat menjadi cahaya.

Maka berbicaralah dengan hati yang bersih, dengarkan dengan jiwa yang lapang, dan hadirkan Alloh dalam setiap komunikasi.

Karena persaudaraan tidak hanya dibangun oleh pertemuan, tetapi oleh ketulusan yang menghidupkan makna.

Dan kehampaan yang nyata akan berubah menjadi keberkahan, apabila komunikasi menjadi jalan untuk saling mengingatkan kepada kebaikan dan ketakwaan. (Bambang JB.)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.