SURAU.CO – Pendahuluan; Salah satu musibah terbesar yang dapat menimpa seorang manusia bukanlah kemiskinan, penyakit, atau kehilangan harta benda. Musibah terbesar adalah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan seorang hamba tenggelam dalam kemaksiatan hingga ia lupa kepada-Nya. Lebih tragis lagi, akibat kelalaian tersebut Allah menjadikan dirinya lupa terhadap hakikat dirinya sendiri, tujuan hidupnya, dan nasibnya di akhirat.
Fenomena ini telah diperingatkan Allah dalam firman-Nya:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18–19)
Ayat ini mengandung pesan mendalam tentang hubungan antara ketakwaan, muhasabah, dan keselamatan manusia di dunia serta akhirat.
Makna Lupa kepada Allah
Dalam penafsiran para ulama, “lupa kepada Allah” bukan berarti hilangnya pengetahuan tentang keberadaan Allah dari ingatan seseorang. Yang dimaksud adalah meninggalkan perintah-Nya, mengabaikan syariat-Nya, dan tidak menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup.
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang melupakan Allah adalah mereka yang meninggalkan ketaatan kepada-Nya. Sebagai balasannya, Allah membuat mereka lupa terhadap maslahat diri mereka sendiri sehingga tidak mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.^1
Akibatnya, seseorang mungkin terlihat sukses secara duniawi, namun sesungguhnya sedang berjalan menuju kebinasaan tanpa menyadarinya.
Maksiat Sebagai Sebab Jauh dari Allah
Maksiat bukan hanya pelanggaran hukum agama, tetapi juga racun yang menggerogoti hati manusia. Setiap dosa yang dilakukan akan meninggalkan noda hitam pada hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam pada hatinya.”^2
Apabila dosa terus dilakukan tanpa taubat, hati menjadi keras, sulit menerima nasihat, bahkan merasa nyaman dalam kemaksiatan.
Inilah salah satu bentuk “dilupakan Allah” dalam kehidupan dunia, yaitu ketika seseorang tidak lagi merasa bersalah saat melanggar larangan-Nya.
Ketika Allah Membiarkan Seorang Hamba
Para ulama menjelaskan bahwa tanda kemurkaan Allah tidak selalu berupa kesulitan hidup. Kadang-kadang seseorang diberi kesehatan, kekayaan, dan kedudukan, namun terus bergelimang dosa tanpa pernah tersentuh untuk bertaubat.
Keadaan ini dikenal dengan istilah istidraj, yaitu pemberian kenikmatan yang justru mengantarkan seseorang kepada kehancuran.
Allah berfirman:
> فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka.” (QS. Al-An’am: 44)
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh tertipu oleh keberhasilan dunia yang tidak disertai ketaatan kepada Allah.
Muhasabah: Kunci Keselamatan
Pada ayat ke-18, Allah memerintahkan agar setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok, yaitu hari kiamat.
Perintah ini merupakan dasar penting dalam konsep muhasabah (evaluasi diri).
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
> حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”^3
Muhasabah membuat seorang muslim selalu bertanya:
Apakah shalat saya sudah benar?
Apa rezeki yang saya peroleh halal?
Apakah saya sudah berbakti kepada orang tua?
Dan Apakah saya masih menyimpan dosa yang belum ditaubati?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjaga hati agar tetap hidup dan dekat dengan Allah.
Dampak Melupakan Allah terhadap Kehidupan
- Kehilangan Tujuan Hidup
Manusia yang jauh dari Allah akan mudah kehilangan arah. Hidupnya hanya berputar pada kesenangan dunia tanpa memahami tujuan penciptaannya.
Padahal Allah berfirman:
> وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
- Hati Menjadi Gelisah
Ketenangan sejati hanya diperoleh melalui mengingat Allah.
Allah berfirman:
> أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Maksiat mungkin memberikan kenikmatan sesaat, tetapi meninggalkan kegelisahan yang panjang.
- Sulit Mendapat Hidayah
Dosa yang terus-menerus dapat menjadi penghalang datangnya petunjuk Allah.
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksiat adalah sebab utama terhalangnya ilmu, rezeki, dan hidayah.^4
Jalan Kembali kepada Allah
Meskipun dosa seseorang sangat banyak, pintu taubat Allah tetap terbuka.
Allah berfirman:
> قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Langkah-langkah taubat yang benar meliputi:
- Menghentikan maksiat.
- Menyesali dosa yang telah dilakukan.
-
Bertekad tidak mengulanginya.
- Mengembalikan hak orang lain apabila berkaitan dengan sesama manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”^5
Relevansi Ayat bagi Kehidupan Modern
Di era digital saat ini, peluang berbuat maksiat semakin terbuka. Melalui telepon genggam, seseorang dapat mengakses berbagai bentuk kemungkaran tanpa diketahui orang lain.
Namun perlu diingat bahwa Allah berfirman:
> إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi akan melahirkan sifat muraqabah, yaitu merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan.
Inilah benteng terkuat untuk menjaga diri dari dosa di zaman modern.
Kesimpulan
QS. Al-Hasyr ayat 18–19 memberikan pelajaran penting bahwa kelalaian terhadap Allah merupakan awal dari berbagai kerusakan hidup. Ketika manusia melupakan Allah melalui kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, Allah membiarkan mereka tenggelam dalam kesesatan hingga lupa terhadap keselamatan dirinya sendiri.
Karena itu, seorang muslim harus senantiasa menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah, dzikir, muhasabah, dan taubat yang berkesinambungan. Jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya.
Ingatlah, musibah terbesar bukanlah ketika manusia kehilangan dunia, tetapi ketika ia kehilangan kedekatan dengan Allah. Sebab siapa yang dekat dengan Allah akan memperoleh petunjuk, ketenangan, dan keselamatan. Sebaliknya, siapa yang jauh dari Allah akan kehilangan arah meskipun memiliki seluruh dunia.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang selalu mengingat-Nya, menjaga ketakwaan, dan dipersiapkan dengan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. Aamiin.
Catatan Kaki
- Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 8 (Riyadh: Dar Thaibah, 1999), hlm. 92.
-
HR. At-Tirmidzi No. 3334; dinyatakan hasan shahih.
-
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd, hlm. 120.
-
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1997), hlm. 67.
- HR. Ibnu Majah No. 4250; dinilai hasan oleh Al-Albani.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an Al-Karim.
Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim. Ad-Da’ wa Ad-Dawa’. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1997.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Riyadh: Dar Thaibah, 1999.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Riyadhus Shalihin. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi. Beirut: Dar Al-Gharb Al-Islami.
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar Ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyyah. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
