Oleh: Muhammad Nur Ma’mun (Mahasiswa Magister Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
SURAU.CO – The Super Insurgent Group of Intemperant Talent, THE S.I.G.I.T. Salah satu band rock psychedelic yang sering menjadi respon atas stimulus berupa kondisi sosial, politik, dan kehidupan masyarakat Meskipun mereka sudah lahir sejak 1997 dan aktif membangun karya nya pada tahun 2002, irama dan makna yang disuarakan selalu saja hidup dan enerjik sampai saat ini.
Tahun ini tanggal 3 April merupakan hari dengan hadiah yang cukup mengejutkan, mereka menciptakan lagu dengan judul “Bread & Circus”. Pertama kali mendengar dan membaca liriknya, sangat naif jika tidak menghubungkannya dengan kondisi sosial politik saat ini. Apalagi kalau bukan program makanan gratis, bencana alam akibat deforestasi, budaya masyarakat konsumtif, dampak media sosial yang tragis, dan banyak lagi. land of liar, teriakan pertama yang mereka bangun untuk memulai irama psychedelic bread and circus. Terdengar seperti punishment bagi kita, bahwa kepalsuan sudah menjadi ciri paling esensial adanya manusia. Semakin buta dalam memecah antara siapa yang baik dan siapa yang buruk, atau bahkan siapa yang buruk dan siapa yang lebih buruk? mungkin pandangan tersebut terkesan seperti punishment. Namun apa yang lebih pantas diberikan, jika bukan hukuman untuk kehidupan bergaya nafsu.
Akar Sejarah Panem et Circenses dan Anatomi Kebutuhan Maslow
Sebelum menjelaskan lebih jauh, lagu bread & circus ini hampir menyetujui salah satu frasa Romawi abad 1 Masehi “panem et circenses”. Sebuah kritik syair yang tercantum dalam Satire X karya Decimus Junius Juvenal, menulis sebuah kritik terhadap penguasa Romawi yang meninabobokan masyarakat dengan membagikan roti gratis “panem” dan menyuguhkan hiburan “circenses” berupa pertunjukan gladiator. Kondisi ini berjalan dengan tujuan pembungkaman nalar kritis masyarakat Romawi menggunakan pemenuhan kebutuhan yang paling dasar.
Abraham Maslow menjelaskan kebutuhan tersebut dalam hierarkinya, bahwa kebutuhan fisiologis dan kebutuhan sosial menempati piramida paling dasar. Maslow menyebutkan bahwa kebutuhan fisiologis merupakan tiang utama seluruh motivasi manusia, misalnya kebutuhan makan, minum, tidur, dan keamanan biologis lainnya. Panem atau roti menggambarkan kebutuhan paling dasar tersebut. Ketika kebutuhan tersebut belum terpenuhi, daya pikir manusia akan terserap hampir sepenuhnya pada usaha mempertahankan hidup. Manusia semakin kabur terhadap nilai-nilai yang lebih tinggi.
Sedangkan kebutuhan sosial atau Love and Belonging Needs, adalah jalan setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi. Misalnya, rasa memiliki, kebersamaan, identitas kelompok, dan hubungan sosial. Dalam konteks pertunjukan gladiator atau circenses, memenuhi kebutuhan sosial masyarakat berupa rasa menjadi bagian dari kerumunan, memiliki identitas kolektif, dan mendapatkan pelarian dari kesulitan hidup sehari-hari.
Kritik Juvenal ini merupakan suara yang menelanjangi kebutaan masyarakat yang terjebak dalam pemenuhan kebutuhan panem dan circenses saja. Berdiam dalam kubangan kebutuhan dasar dan tidak berjalan menuju kebutuhan penghargaan esteem hingga aktualisasi diri self-actualization. Terlepas dari siapa pemenuhan kebutuhan instan tersebut, namun tetap saja daya kritis masyarakat telah dibungkam. Kesadaran atas hancurnya kehidupan sudah tidak terlihat lagi, karena begitu banyak mata yang buta dalam melihat realitas.
Pembungkaman Berkedok False Needs dan Dominasi Syahwiyyah
Selain Maslow, fenomena ini juga dapat dilihat menggunakan Herbert Marcuse dan Ibnu Miskawaih. Jika Marcuse melihat panem et circenses, kritik tersebut menunjukkan bagaimana penguasa menciptakan false needs (kebutuhan semu) berupa pangan dan hiburan agar masyarakat merasa puas. Karena kebutuhan tersebut terpenuhi, rakyat tidak lagi kritis terhadap ketidakadilan atau penyalahgunaan kekuasaan. Akibatnya, masyarakat menjadi pasif dan mudah dikendalikan.
Sedangkan, jika Ibn Miskawaih melihat panem et circenses mencerminkan dominasi daya nafsu (syahwiyyah) atas daya pikir (nathiqah) dan daya emosi (ghadabiyyah). Masyarakat lebih mengejar kenikmatan makan dan hiburan daripada menggunakan akal untuk mencari kebenaran atau keberanian untuk menegakkan keadilan. Akibatnya, keseimbangan jiwa dan kebajikan tidak tercapai.
Jadi, serupa Bread and Circus yang meneriakan kemarahan dengan menghidupkan kembali kritik panem et circenses dari Juvenal dalam wajah masyarakat modern. Jika dulu rakyat Romawi dibungkam dengan roti dan pertunjukan gladiator, maka hari ini masyarakat dibungkam dengan konsumsi, hiburan, dan tontonan tanpa henti. The S.I.G.I.T tidak sedang bernostalgia tentang Romawi Kuno, mereka sedang menunjuk wajah kita sendiri. Wajah masyarakat yang sibuk menikmati pertunjukan, sementara berbagai persoalan besar berjalan tanpa banyak perlawanan.
Mere Desire: Ketika Hasrat Mengubur Nalar Kritis
Kemarahan itu terdengar jelas dalam lirik land of liar, selling all the soil that we gave, dan driven by the thirst to enslave. Ini bukan sekadar kritik terhadap individu tertentu, melainkan kritik terhadap sistem yang memungkinkan segelintir orang mengeruk keuntungan dari tanah, sumber daya, dan masa depan bersama. Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa semua itu dapat terus berlangsung karena masyarakat telah dibuat nyaman. Mereka diberi cukup alasan untuk tidak bertanya dan cukup hiburan untuk tidak peduli.
Di tengah kritik tersebut, The S.I.G.I.T melempar satu frasa yang terasa sederhana tetapi menghantam tepat ke akar masalah, mere desire. Hanya hasrat. Hanya keinginan. Dalam dua kata itu, mereka seolah membongkar penyakit zaman ini. Kita tidak lagi digerakkan oleh kebutuhan, melainkan oleh keinginan yang terus membesar. Kita ingin lebih banyak tontonan, lebih banyak konsumsi, lebih banyak sensasi. Dalam bahasa Herbert Marcuse, inilah false needs, kebutuhan semu yang membuat manusia merasa bebas padahal sedang digiring untuk terus menginginkan sesuatu yang baru.
Jika dibaca melalui Ibnu Miskawaih, mere desire adalah kemenangan daya nafsu atas daya pikir. Akal tidak lagi memimpin kehidupan, melainkan mengikuti ke mana hasrat berlari. Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan kenyamanan. Yang dicari bukan lagi kebijaksanaan, melainkan kepuasan. Akibatnya manusia menjadi mudah diarahkan, karena siapa pun yang mampu memuaskan keinginannya akan mendapatkan kesetiaannya.
Pantulan Realitas Indonesia Hari Ini: Menari dalam Kebutaan
Sulit untuk tidak melihat pantulan Indonesia hari ini dalam lagu tersebut. Ketika ruang publik dipenuhi perdebatan tentang bantuan, program populis, drama politik, dan hiburan media sosial yang terus berganti setiap hari, masyarakat sering kali dibuat sibuk bereaksi tanpa sempat berefleksi. Linimasa bergerak cepat, isu datang dan pergi, kemarahan viral hanya bertahan beberapa hari. Kita menonton, berkomentar, lalu berpindah ke tontonan berikutnya. Persis seperti yang dikatakan The S.I.G.I.T, we’re blinded by our dances.
Puncak kritik itu hadir dalam lirik gold leaf not enough, diamond not enough, the world is not enough. Tidak ada yang pernah cukup bagi masyarakat yang hidup dari hasrat. Roti tidak cukup, sirkus tidak cukup, hiburan tidak cukup, bahkan dunia pun tidak cukup. Karena itu The S.I.G.I.T tidak hanya menuduh para penguasa yang menciptakan pertunjukan. Mereka juga menuding penontonnya. Kita. Sebab bread and circus hanya bisa bekerja ketika ada masyarakat yang lebih memilih kenyamanan daripada kesadaran, lebih memilih tontonan daripada pertanyaan, dan lebih memilih hasrat daripada akal. Di situlah mere desire berubah menjadi mesin yang membuat lingkaran itu terus berputar.
Sebagaimana diteriakkan The S.I.G.I.T melalui Bread and Circus, persoalan terbesar mungkin bukan lagi tentang siapa yang menjual tanah, siapa yang memproduksi hiburan, atau siapa yang mengatur panggung pertunjukan. Persoalan terbesarnya adalah apakah kita masih mampu membedakan kebutuhan dan hasrat, kesadaran dan pelarian, kebenaran dan kenyamanan. Sebab ketika masyarakat lebih sibuk menari daripada berpikir, lebih sibuk mengonsumsi daripada mempertanyakan, dan lebih sibuk mengejar mere desire daripada merawat akal sehatnya, maka bread and circus telah menang tanpa perlu dipaksakan. Pertanyaannya sekarang sederhana namun mengganggu, apakah kita benar-benar sedang hidup sebagai warga yang merdeka, atau hanya penonton yang terlalu terhibur untuk menyadari bahwa pertunjukan itu sedang mengendalikan kita.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
