SURAU.CO – Di suatu kota yang tak pernah tidur, di antara deru motor, cahaya layar ponsel, dan hiruk pikuk manusia mengejar dunia hidup seorang pemuda bernama Raka. Ia bukan orang alim.
Bukan pula ahli ibadah yang tekun di sudut masjid. Ia pekerja biasa, tenggelam dalam rutinitas, bahkan kadang lalai dalam sholatnya.
Namun di hatinya, ada satu kegelisahan yang tak pernah padam:
“Mengapa aku ramai di luar, tapi kosong di dalam?”.
Menemukan Tuhan
Suatu hari, ia bertemu seorang tua sederhana di halte. Tidak berpakaian khusus, tidak membawa kitab tebal. Namun wajahnya tenang, seperti danau tanpa riak.
Raka bertanya,
“Pak, bagaimana caranya hidup tenang di dunia yang serba cepat ini?”
Orang tua itu tersenyum, lalu berkata:
“Nak… Tasawuf bukan untuk lari dari keramaian.
Tapi untuk menemukan Tuhan di dalam keramaian.”
Makna Tasawuf dalam Keramaian
Tasawuf bukan berarti meninggalkan dunia.
Bukan pula harus menyepi di gunung atau hutan.
Tasawuf adalah:
Hati tetap bersama Alloh, walau tubuh di tengah manusia
Tenang dalam sibuk, jernih dalam bising.
Tidak diperbudak dunia, walau hidup Di dalamnya
Orang tua itu berkata lagi:
“Jika engkau bisa ingat Alloh saat sendiri, itu biasa.
Tapi jika engkau ingat Alloh saat sibuk, itulah luar biasa.”
Toriqoh dalam Kehidupan Modern
Raka bertanya lagi,
“Lalu apa itu toriqoh, Pak?”
Jawabnya:
“Toriqoh itu jalan.
Jalan untuk menjaga hati tetap hidup.”
Di zaman sekarang, toriqoh bukan hanya wirid panjang di tempat sunyi.
Tapi bisa menjadi:
Zikir di sela pekerjaan
Niat yang lurus saat mencari nafkah
Menahan emosi saat menghadapi manusia
Ikhlas dalam setiap aktivitas harian
Toriqoh adalah latihan batin yang terus berjalan, bukan sekadar ritual sesaat.
Tasawuf dalam Kemajuan
Di era Teknologi
Banyak yang takut: “Apakah tasawuf akan hilang?”
Justru sebaliknya.
Tasawuf menjadi penyeimbang kemajuan:
Saat teknologi mempercepat hidup → tasawuf memperlambat hati
Saat dunia membuat kita gelisah → tasawuf memberi ketenangan
Saat manusia sibuk pencitraan → tasawuf mengajarkan keikhlasan
Orang tua itu berkata:
“Kemajuan tanpa tasawuf, membuat manusia canggih tapi kosong.
Tasawuf tanpa kemajuan, membuat manusia tenang tapi tertinggal.
Keduanya harus berjalan bersama.”
Contoh Nyata dalam Kehidupan
Raka mulai mencoba. Di tempat kerja.
Mengendalikan Hati
Saat ditekan atasan, ia tidak langsung marah.
Ia tarik nafas, lalu berzikir dalam hati:
“Alloh… Alloh…”
→ Ini tasawuf: mengendalikan hati.
Di jalan raya
Saat macet dan disalip orang, ia tidak emosi.
Ia berkata dalam hati:
“Mungkin dia sedang terburu-buru karena kebutuhan.”
→ Ini toriqoh: latihan sabar.
Saat menerima gaji
Ia tidak sombong, tidak pula kikir.
Ia sisihkan sedikit untuk sedekah.→ Ini tasawuf: membersihkan cinta dunia.
Saat sendiri di malam hari Ia mulai berbicara dengan Alloh, walau hanya beberapa menit.
→ Ini toriqoh: membangun hubungan.
Puncak Hikmah
Beberapa bulan berlalu.
Raka masih hidup di kota yang sama.
Masih kerja, masih sibuk, masih menghadapi masalah.
Tapi ada yang berubah.
Hatinya tidak lagi kosong.
Ia berkata dalam dirinya:
“Dulu aku mencari ketenangan dengan menjauh dari dunia.
Sekarang aku menemukan ketenangan di dalam dunia.”
Orang tua itu pernah berkata terakhir kali:
“Nak,
Tasawuf itu bukan soal pakaian, bukan soal tempat.
Tapi soal rasa.
Jika hatimu bersama Alloh, maka di pasar pun engkau sedang di mihrab.”
Akhir kata
Tasawuf dan toriqoh di zaman ini bukan untuk meninggalkan kehidupan,
melainkan untuk menghidupkan kehidupan.
Bukan menjauh dari keramaian,
tetapi menemukan Tuhan di tengah keramaian.
Karena sejatinya:
“Yang jauh bukan Tuhanmu, Yang jauh adalah hatimu dari-Nya.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
