SURAU.CO. Prof Quraish Shihab menyebut ada tiga perspektif untuk merespon fenomena Artificial Intelligence atau AI. Pertama, melihatnya dengan cara pandangan lama. Kedua, memakai pandangan baru semata. Dan yang ketiga melihatnya dengan pandangan baru sambil menyertakan nilai-nilai mapan dari pendapat lama.
Hal tersebut terungkap dalam seminar nasional bertajuk Ketika Ulama Bertemu Algoritma. “Saya kira cara ketiga inilah yang hendak kita tempuh yaitu tidak terlepas dari nilai-nilai lama,” ungkap Prof Quraish. Menurut Abi Quraisyh, panggilan akrabnya, AI memberikan informasi yang sangat banyak kepada manusia. Sementara ilmu agama telah menetapkan syarat terkait penerimaan informasi. Namun, lanjutnya, ada nilai yang harus diterapkan ketika seseorang sedang melakukan riset atau penelitian. “Nilai itu dulu ditemukan dalam ilmu hadis, bahwa yang menyampaikan informasi itu harus dilihat apakah orangnya adil, dhabit (dapat dipercaya). Ini yang harus kita terapkan ketika kita memperoleh informasi dari siapapun atau apapun,” tambah
Selain itu ada nilai lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah kecerdasan spiritual dan kecerdasan moral. Sebab, lanjutnya, dua orang bisa saja memberikan keputusan yang berbeda untuk satu persoalan yang sama. Dari situ ada hanya satu putusan yang dibenarkan. Putusan itu datang dari orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan, baik dalam bentuk ilmu, intuisi, atau lainnya. “Nilai lainnya, keputusan atau jawaban apapun harus disesuaikan dengan masa (waktu) dan penanya tentang apa problemanya. Kalau kita kembali ke Al Quran dan Sunnah. Nabi seringkali memberi jawaban yang berbeda-beda terhadap pertanyaan yang sama. AI tidak mengenal saya yang bertanya, tidak mengenal problema saya, bagaimana dia mau menjawab dengan tepat,” ungkapnya.
Selalu Ada Hikmah
Sementara itu Anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Muslimin (MHM) Dr. TGB M Zainul Majdi menyebut bahwa terkait perkembangan AI perlu harus meresponnya secara baik dan optimis. Menurutnya, perkembangan AI bukan ancaman eksistensial. Namun, TGB Zainul menggarisbawahi bahwa pembahasan AI yang berkenaan dengan otoritas keagamaan, bukan tentang eksistensi agama. Sebab, lanjutnya, eksistensi agama itu terjaga.
Menurutnya AI juga tidak mengganggu eksistensi manusia sebagai khalifah. “Manusia sebagai jenis makhluk Allah yang diciptakan di dunia ini, dia akan selalu menjadi khalifah, dengan semua makna yang terkandung dalam makna khalifah,” tegasnya menjawab adanya kekhawatiran AI ini. Selain itu konsep Islam itu tidak hanya berpikir kreatif dalam konsep kognisi, tapi juga hikmah, spirituality. “ Jadi hayawanun nathiq bukan hanya kemampuan kognisi yang mungkin kita sudah kalah dari AI, tapi ada kemampuan lain yang disiapkan oleh Allah untuk manusia miliki sebagai khalifah,” sambungnya.
Selain itu, TGB Majdi juga menyinggung bahwa perjumpaan manusia dengan sesuatu yang sangat revolusioner, terjadi di setiap waktu dalam patahan sejarah. Dalam sejarah Islam, masyarakat Madinah sempat terguncang ketika Islam melewati jazirah Arab dan berinteraksi dengan peradaban besar di Persia dan Romawi dengan peradaban luar biasa. “Selalu ada hikmah, ketika berjumpa dengan sesuatu yang sangat revolusioner. Setiap kali perjumpaan terhadap sesuai yang sangat revolusioner, kita jangan kehilangan prinsip-prinsip kita,” paparnya.
Penurunan Literasi Agama
Dalam kesempatan yang sama Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Amin Abdullah mengakui bahwa fenomena AI dan lainnya memang mengubah tatanan. Meski demikian, tugas manusia adalah merespons dan menjawab tantangannya. Menurutnya AI telah melahirkan fragmentasi otoritas keagamaan yang ujungnya umat saat ini tidak lagi percaya sepenuhnya pada Bahsul Masail NU atau Majelis Tarjih Muhammadiyah misalnya, tapi muncul fatwa-fatwa baru. “Suka atau tidak suka, saat ini ada terfragmentasi otoritas,” tegasnya.
Prof Amin kemudian menyoroti fenomena komodifikasi agama. Ada sebagian orang yang menjadikan agama sebagai komoditas untuk cepat mendapatkan uang. Pada titik ini, hal yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan literasi keagamaan generasi muda. “Ini bagaimana PTKIN menjawab ini. Sebab mereka inginnya lima detik dapat ilmu sehingga tidak pernah lagi membaca. Ini yang membahayakan, penurunan literasi keagaman di tingkat generasi muda. Dosen harus memikirkan,” sebutnya. Namun yang menyedihkan lanjut dia adalah adanya AI itu memperkuat prasangka, su’udhan pada kelompok lain,” tandasnya.
Acara yang berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bekerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM) pada Selasa (9/12/2025). Hadir sebagai narasumber, Pendiri dan Anggota MHM Prof. Dr. M Quraish Shihab, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. M Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Dr. Noorhaidi Hasan, Anggota Komite Eksekutif MHM Dr. TGB M Zainul Majdi, dan Pakar Artificial Intelligence (AI) dari UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan.
Seminar diikuti lebih 550 peserta, baik dosen, peneliti, akademisi, serta mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. “Di era AI, perbedaan ilmu dan hikmah makin terasa dan signifikan. Karena mesin dapat meniru ilmu, namun mesin tidak bisa menghadirkan hikmah,” terang Direktur MHM kantor cabang Indonesia Muchlis M Hanafi saat memberikan sambutan pengantar.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
