SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah
Beranda » Berita » Agama di Era Panggung: Ketika Simbol Menjadi Permainan dan Kesakralan Mulai Memudar

Agama di Era Panggung: Ketika Simbol Menjadi Permainan dan Kesakralan Mulai Memudar

Media sosial adalah alat di mana kita bisa memilih untuk menggunakannya sebagai panggung narsis atau sebagai ladang amal.

 

Di era media sosial dan industri popularitas, agama sering kali tidak lagi hadir sebagai jalan transformasi kesadaran, tetapi berubah menjadi identitas panggung, komoditas citra, bahkan alat kepentingan sesaat. Fenomena ini tampak jelas pada sebagian figur publik: ada yang tiba-tiba tampil sangat religius, menggunakan simbol-simbol keislaman, membuat konten hijrah, menjadi muallaf secara terbuka, lalu beberapa waktu kemudian kembali lagi ke pola hidup sebelumnya. Ada pula yang sejak awal membawa label agama, tampil sebagai tokoh moral, tetapi ternyata tersandung pelecehan seksual, manipulasi, atau penyimpangan lainnya. Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan rasa sakral terhadap agama karena terlalu sering melihat kontradiksi antara simbol dan perilaku.

Al-Qur’an sebenarnya telah lama mengingatkan tentang fenomena semacam ini. Dalam QS Al-Baqarah ayat 44 Allah menegur:

“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri padahal kamu membaca Kitab?”

Ayat ini bukan sekadar kritik kepada pendakwah, tetapi peringatan tentang bahaya menjadikan agama hanya sebagai tampilan luar, sementara batin dan perilaku tidak dibangun. Ketika agama hanya berhenti pada kostum, jargon, atau citra publik, maka yang lahir adalah kemunafikan sosial. Orang berbicara tentang kesucian, tetapi hidup dalam penyimpangan. Berbicara tentang moral, tetapi merusak manusia lain di balik layar.

Tahajud Call

Fenomena muallaf instan karena pernikahan juga sering memperlihatkan lemahnya fondasi pemahaman. Ketika agama dipilih hanya demi relasi sosial atau kebutuhan administratif, maka saat hubungan itu runtuh, keyakinannya ikut runtuh. Ini menunjukkan bahwa yang berubah hanyalah identitas formal, bukan kesadaran hidup. Padahal Al-Qur’an menggambarkan iman sebagai sesuatu yang masuk ke dalam hati dan melahirkan perubahan nyata:

“Orang-orang Arab Badui berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.’”
— QS Al-Hujurat: 14

Ayat ini menjelaskan bahwa identitas lahiriah belum tentu menunjukkan kedalaman iman. Seseorang bisa terlihat religius, tetapi belum mengalami transformasi kesadaran. Sebaliknya, ada orang yang sederhana penampilannya namun jujur, bersih, dan menjaga amanah.

Dalam QS Al-Ma’un, Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang yang rajin ritual tetapi kehilangan substansi kemanusiaan:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”
— QS Al-Ma’un: 4–6

ENSIKLOPEDI FARMAKOLOGI AL-QUR’AN AL-HADITS (PENEMUAN 1.000 OBAT BERSUMBER DARI AL-QUR’AN DAN AL-HADITS)

Riya di sini dapat dipahami sebagai menjadikan agama sebagai pertunjukan sosial. Di era digital, agama bisa berubah menjadi alat branding: konten hijrah, air mata religius, pakaian syar’i, kutipan ayat, semuanya diproduksi demi algoritma dan popularitas. Ketika agama masuk ke logika industri perhatian, maka kesakralan perlahan terkikis. Yang dicari bukan lagi kebenaran, tetapi engagement.

Al-Qur’an juga mengingatkan tentang orang yang menjual ayat-ayat demi keuntungan dunia:

“Janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga murah.”
— QS Al-Baqarah: 41

“Harga murah” bukan hanya uang, tetapi juga popularitas, pengaruh, jabatan, atau validasi publik. Ketika agama dijadikan alat untuk memperoleh keuntungan sosial, maka nilai sucinya mulai rusak. Ayat tidak lagi menjadi petunjuk hidup, tetapi alat pencitraan.

Namun di tengah semua itu, Al-Qur’an tetap mengajarkan agar manusia tidak menjadikan kegagalan sebagian tokoh agama sebagai alasan meninggalkan kebenaran. Karena kebenaran tidak diukur dari figur, melainkan dari prinsip. Banyak orang kecewa kepada agama padahal yang mengecewakan adalah perilaku manusianya. Ini sebabnya Al-Qur’an berkali-kali mengajak kembali kepada ilmu, kesadaran, dan kejujuran batin, bukan sekadar simbol.

GAMBARAN DUNIA DI TAHUN 2050: PERSPEKTIF FUTUROLOGI AL-QUR’AN, AL-HADITS, DAN SAINS MODERN

Kesakralan agama sebenarnya tidak hilang. Yang hilang adalah ketulusan manusia dalam menjalaninya. Ketika agama dipakai sebagai topeng sosial, maka masyarakat akan lelah melihat sandiwara moral. Tetapi ketika agama dijalankan sebagai proses pembinaan diri, menjaga amanah, mengendalikan hawa nafsu, dan memperbaiki akhlak, di situlah kesakralan kembali hidup — bukan di panggung, melainkan di dalam karakter manusia itu sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.