Budiawan | KAM Institute
Ada ironi yang jarang kita sadari: bangsa yang diblokade bertahun-tahun justru dipaksa kreatif, sementara bangsa kaya sumber daya malah nyaman dalam ketergantungan.
Iran memberi pelajaran tentang bagaimana tekanan melahirkan disiplin bertahan. Dalam dunia pelayaran, praktik mematikan transponder sudah lama bukan lagi cerita film mata-mata. Di tengah pengawasan maritim yang ketat, Iran menjaga denyut ekonominya bukan dengan armada besar atau konfrontasi terbuka, melainkan dengan kecerdikan membaca celah hukum internasional. Kapal-kapal mereka bergerak senyap, memanfaatkan perairan teritorial negara lain, menghilang dari radar berminggu-minggu sebelum muncul di jalur perdagangan Asia Tenggara.
Banyak orang membaca itu sebagai isu geopolitik semata. Padahal pelajarannya lebih mendasar: bangsa yang ingin bertahan tidak boleh menggantungkan nasib pada belas kasihan sistem global.
Di titik itulah Indonesia perlu bercermin.
Ketergantungan yang Dianggap Wajar
Kita tidak sedang diblokade. Tidak sedang disanksi. Namun secara perlahan kita membangun ketergantungan yang justru lebih berbahaya—karena dianggap normal.
Ambil contoh gandum.
Nusantara bukan peradaban pemakan gandum. Leluhur kita hidup dari beras, sagu, jagung, singkong, dan talas. Namun dalam beberapa dekade terakhir, tepung terigu menjelma menjadi tulang punggung industri pangan nasional. Anak-anak kota hari ini mungkin lebih akrab dengan roti dibandingkan papeda. Kita bahkan sudah lupa bahwa mie instan adalah salah satu produk dari ekosistem geopolitik pangan global—bukan sekadar inovasi dapur.
Dan seluruh fondasi industri itu berdiri di atas komoditas yang hampir sepenuhnya diimpor.
Ini bukan sekadar soal selera. Ini soal daya tahan nasional.
Ketika kebutuhan pangan bergantung pada rantai pasok global, stabilitas sosial ikut tersandera oleh kurs dolar, konflik geopolitik, dan keputusan negara-negara produsen di belahan bumi lain. Kita terlalu lama memandang impor pangan sebagai efisiensi. Padahal efisiensi sering kali hanyalah kenyamanan jangka pendek yang menyembunyikan risiko strategis jangka panjang.
Karena itu gagasan mengurangi impor gandum secara bertahap—dalam satu generasi ke depan—layak mulai dibicarakan serius. Bukan sebagai slogan anti-impor, melainkan sebagai strategi kedaulatan pangan yang terukur.
Sagu yang Tertidur
Di sinilah sagu seharusnya kembali dibangunkan.
Selama ini tanaman ini diperlakukan sekadar simbol tradisional kawasan Timur Indonesia. Padahal secara ekologis ia punya keunggulan yang terabaikan: produktivitas pati tinggi, perawatan relatif rendah, tumbuh sepenuhnya sesuai karakter alam tropis kita—tanpa impor benih, tanpa bergantung pada ekosistem subtropis.
Teknologi pangan modern sudah memungkinkan tepung komposit berbasis sagu, singkong, dan umbi lokal digunakan untuk berbagai kebutuhan industri. Transisi bukan sesuatu yang mustahil secara teknis.
Yang lemah bukan teknologinya. Yang lemah adalah keberanian politik dan keberpihakan ekonominya.
Cara berpikir pangan kita selama ini terlalu sempit—seolah pilihan hanya ada dua: beras atau terigu. Padahal kekuatan Nusantara sejak dahulu justru terletak pada keragaman sumber pangan. Kita mewarisi kekayaan itu, lalu memilih melupakannya demi efisiensi impor.
Negara Tidak Boleh Kalah oleh Spreadsheet
Reformasi pangan tidak akan berjalan tanpa pembenahan Bulog.
Lembaga ini lahir sebagai instrumen stabilitas nasional, bukan entitas bisnis yang mengejar margin. Namun ketika logika korporasi terlalu dominan, misi sosial perlahan berubah menjadi beban biaya. Dalam situasi itu, komoditas impor berskala besar menjadi jauh lebih menarik dibandingkan membangun ekosistem pangan lokal yang tersebar dan membutuhkan investasi jangka panjang.
Padahal justru di situ negara harus hadir.
Jika perlu, Bulog dikembalikan sebagai lembaga strategis yang fokus menjadi off-taker pangan lokal. Negara mensubsidi logistik. menjamin pembelian hasil panen. membangun jalur distribusi dari Timur ke Barat. Negara memastikan petani lokal tidak kalah oleh dumping pangan impor.
Biayanya memang besar. Namun biaya terbesar sebuah bangsa bukan subsidi pangan lokal—melainkan ketika ia kehilangan kemampuan memberi makan rakyatnya sendiri.
Imajinasi yang Lebih Dulu Menyerah
Iran menunjukkan bahwa survival bangsa tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari tekanan yang memaksa kreativitas strategis muncul ke permukaan.
Indonesia belum terlambat belajar.
Kita mungkin tidak menghadapi blokade laut. Tetapi kita sedang menghadapi bentuk ketergantungan yang lebih halus: keyakinan bahwa solusi tercepat selalu datang dari impor. Bahwa yang lokal selalu kalah. Bahwa modernitas berarti meninggalkan apa yang tumbuh di tanah sendiri.
Barangkali ancaman terbesar sebuah bangsa bukan ketika pelabuhannya diblokade—melainkan ketika imajinasinya sudah lebih dulu menyerah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
