SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CM Corner
Beranda » Berita » 100 AKHLAK MULIA RASULULLAH YANG MENJADI SUNNAH UNTUK DITELADANI

100 AKHLAK MULIA RASULULLAH YANG MENJADI SUNNAH UNTUK DITELADANI

Akhlak Rasulullah
Akhlak Rasulullah

 

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini

  1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara tenang, berkharisma, berwibawa, dan pelan-pelan.
  2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.
  3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah, kecuali jika berhadapan dengan seseorang, ia selalu menatap dan memandang dengan tatapan dan pandangan yang mumuliakan.
  4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya, tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.
  5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.
  6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.
  7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis atau meremehkan.
  8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.
  9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengisyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.
  10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu dan penting.
  11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik, dan memperhatikan.
  12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.
  13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.
  14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.
  15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.
  16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.
  17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.
  18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.
  19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.
  20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya atau mempermalukannya dihadapan orang lain.
  21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.
  22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.
  23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.
  24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.
  25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?”
  26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.
  27. Menerima undangan para abdi dan budak.
  28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.
  29. Melakukan silaturahim lebih dari yang lain.
  30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.
  31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.
  32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, “Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.”
  33. Senantiasa menerima maaf atau uzur orang-orang yang punya uzur dan minta maaf.
  34. Tidak pernah merendahkan seseorang.
  35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.
  36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.
  37. Tidak pernah mencari-cari aib atau kesalahan orang lain.
  38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.
  39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.
  40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.
  41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.
  42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.
  43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.
  44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.
  45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.
  46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.
  47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.
  48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.
  49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.
  50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.
  51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.
  52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Beliau selalu mengatakan, “Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!”
  53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.
  54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.
  55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
  56. Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam sangat menjaga perasaan orang-orang asing.
  57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.
  58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.
  59. Saat gembira, Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.
  60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.
  61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.
  62. Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.
  63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.
  64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.
  65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.
  66. Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.
  67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.
  68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.
  69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar, untuk memperkaya dirinya, beliau adalah sosok pemimpin Kayaraya yang dengan kekayaannya beliau banyak membantu orang lain, tanpa pandang dari suku mana, dan dari agama apapun. Beliau menolong hanya karena Allah.
  70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.
  71. Duduk dan makan di atas tanah.
  72. Tidur di atas tanah.
  73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.
  74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki untanya.
  75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.
  76. Kemana saja pergi, beliau selalu sederhana.
  77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.
  78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumny pasti diberikan kepada fakir miskin.
  79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jum’at.
  80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.
  81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.
  82. Senantiasa berbau harum dan wangi.
  83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudhu dan setiap mengambil wudhu pasti menyikat giginya.
  84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.
  85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan (Yaumul Bidh).
  86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.
  87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.
  88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.
  89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.
  90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.
  91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.
  92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.
  93. Tidak pernah makan dua model makanan.
  94. Ketika makan tidak pernah sendawa.
  95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.
  96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.
  97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.
  98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.
  99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.
  100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian : satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA:

Tafsir Midadurrahman, Al-Imam An-Naqib Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Hafizh Al-Habib Prof.Dr.KHR. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan.SAg.MA.PhD. Volume 108, Cetakan 1, Tahun 2016

MENYINGKAP RAHASIA WAKTU, ALLAH MEMBUKA JALAN KELUAR DAN SOLUSI BAGI KESULITAN HIDUP (ANALISIS DALIL NAQLI DAN KONTEKS TAFSIR PSIKOLOGI)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.