Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini
A. PENDAHULUAN
Setiap manusia pasti mengalami kesulitan hidup. Al-Qur’an dan Hadits memberikan jaminan bahwa Allah akan membuka jalan keluar (al-faraj) bagi hambanya.
Tulisan tafsir psikologi ini membahas waktu-waktu spesifik ketika Allah menurunkan pertolongan berdasarkan ayat-ayat yang berharakat dan terjemahnya, serta hadits-hadits terkait.
Kajian tafsir psikologi ini penting untuk membangun sikap optimisme (raja’) dan kesabaran (sabr) dalam menghadapi ujian hidup.
Kesulitan hidup adalah sunnatullah. Dalam perspektif Islam, tidak ada kesulitan yang abadi. Allah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan, namun pertanyaan mendasarnya adalah: kapan Allah membuka jalan keluar tersebut?.
Tulisan tafsir psikologi ini menjawabnya melalui pendekatan tafsir ayat dan penjelasan hadits.
B. WAKTU-WAKTU ALLAH MEMBUKA JALAN KELUAR
B.1. KETIKA KESEDIHAN & KESULITAN MENCAPAI PUNCAKNYA
Allah berfirman dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Para mufassir menjelaskan bahwa pengulangan ayat ini menegaskan bahwa kesulitan tidak akan pernah mendominasi kemudahan. Jalan keluar akan datang pada saat yang bersamaan dalam bentuk karunia Allah yang tidak terduga.
B.2. SETELAH SHALAT DAN DOA YANG KHUSYUK
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa pertolongan Allah dekat pada waktu-waktu tertentu. Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهَا، أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ»
“Tidak ada seorang Muslim di bumi yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, melainkan Allah akan memberikannya, atau menghilangkan dari padanya keburukan yang semisal, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahmi.” (HR. Tirmidzi, no. 3573)
Jalan keluar dibuka saat doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan.
B.3. DI WAKTU SAHUR DAN SEPERTIGA MALAM TERAKHIR
Ini adalah waktu istimewa untuk turunnya rahmat. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.'” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758)
B.4. KETIKA SESEORANG BERSABAR DAN BERTAKWA
Allah menghubungkan jalan keluar dengan ketakwaan. Firman-Nya dalam Surah Ath-Thalaq ayat 2-3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ (3)
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Jalan keluar datang ketika manusia konsisten menjaga perintah Allah di tengah kesulitan.
B.5. SETELAH UJIAN BERAT (SEPERTI KISAH NABI YUNUS)
Allah membuka jalan keluar dari kegelapan berlapis ketika hamba-Nya mengakui kelemahan dan bertobat. Allah berfirman tentang Nabi Yunus dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 87:
فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)
“Maka dia menyeru dalam kegelapan yang berlapis-lapis: ‘Tidak ada tuhan selaku Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang zalim.’ Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kesedihan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”
C. ANALISIS: KAPAN PASTINYA?
Secara naqli, tidak ada waktu pasti secara kronologis, karena Allah membuka jalan keluar sesuai hikmah-Nya. Namun, dari ayat dan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa waktu-waktu potensial adalah:
- Saat kesulitan mencapai puncaknya (inilah waktu terdekat).
- Sepertiga malam dan waktu sahur.
- Setelah doa, shalat, dan istigfar.
- Ketika manusia bertakwa di tengah himpitan.
- Setelah tobat nasuha seperti kisah Nabi Yunus.
Secara psikologis, ‘jalan keluar’ bisa berupa perubahan keadaan, munculnya ide solusi, atau diberi kekuatan hati untuk menghadapinya.
D. PENUTUP DAN KESIMPULAN
Allah membuka jalan keluar pada waktu yang tepat menurut kehendak-Nya, namun dengan tanda-tanda: kesabaran, takwa, doa di waktu mustajab, dan tobat. Seorang mukmin tidak perlu bertanya ‘kapan’, melainkan terus berusaha dan berdoa, karena janji Allah inna ma’al ‘usri yusra adalah kepastian.
DAFTAR PUSTAKA
- Abū Dāwūd, Sulaymān bin al-Ash‘ath. (1430 H). Sunan Abī Dāwūd. Dār al-Risālah al-‘Ālamiyyah.
- Al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā‘īl. (1422 H). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Dār Ṭauq al-Najāt.
- Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad. (1413 H). Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Dār al-Ma‘rifah.
- Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
- Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2017.
- Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim. (2005). Al-Jawāb al-Kāfī li man Sa’ala ‘an al-Dawā’ al-Shāfī. Dār ‘Ālam al-Fawā’id.
- Al-Munajjid, Muḥammad Ṣāliḥ. (2017). Mafātīḥ al-Faraj: Keyakinan dan Amalan Pembuka Jalan Keluar. Islam Question & Answer (Terbitan terjemahan). Penerbit Darus Sunnah.
- An-Nawawī, Yaḥyā bin Sharaf. (1392 H). Al-Adhkār. Dār al-Fikr.
- Al-Qur’an Al-Karim
- Al-Qurṭubī, Muḥammad bin Aḥmad. (1384 H). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.
- Al-Sa‘dī, ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir. (1420 H). Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Mu’assasah al-Risālah.
- Al-Tirmidzī, Muḥammad bin ‘Īsā. (1395 H). Sunan al-Tirmidzī. Syirkah Maktabah wa Maṭba‘ah Muṣṭafā al-Bābī al-Ḥalabī.
- Ibn Kaṡīr, Ismā‘īl bin ‘Umar. (1420 H). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Dār Ṭayyibah.
- Muslim bin al-Ḥajjāj al-Qushayrī. (1334 H). Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Iḥyā’ al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
