SURAU.CO – Pada suatu petang yang damai, seorang murid bernama Salim duduk bersama gurunya di beranda surau tua
Angin berembus lembut membawa aroma tanah sehabis hujan.
Salim bertanya,
“Guru, mengapa banyak orang mengatakan bahwa cinta selalu membawa rasa sakit?”
Sang guru tersenyum lalu menjawab,
“Anakku, cinta yang lahir dari keinginan memiliki memang sering menimbulkan luka.
Namun cinta yang lahir dari syukur akan menghadirkan ketenangan. Sebab ia menerima segala sesuatu sebagai karunia Alloh.”
Kemudian sang guru membacakan firman Alloh:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Latin:
Wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la-aziidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Guru Melanjutkan
“Orang yang bersyukur tidak sibuk menghitung apa yang hilang, tetapi mensyukuri apa yang masih Alloh titipkan kepadanya.”
Mereka kemudian berjalan menuju sungai yang mengalir jernih.
Guru mengambil segenggam air dan membiarkannya jatuh kembali ke sungai.
“Lihatlah air itu. Ia tidak pernah memaksa batu menjadi air. Ia mengalir sesuai ketentuan Alloh.
Begitulah cinta yang penuh syukur; memberi tanpa memaksa dan menerima tanpa mengeluh.”
Lalu sang guru membacakan hadis Rasululloh SAW
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Latin:
‘Ajaban li amril mu’min, inna amrahu kullahu lahu khair, wa laisa dzalika li ahadin illa lil mu’min. In ashobathu sarraa-u syakara fakaana khairan lah, wa in ashobathu dharra-u shabara fakaana khairan lah.
Artinya:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika memperoleh kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika tertimpa kesusahan ia bersabar maka itu baik baginya.”
(HR. Muslim)
Salim mulai memahami bahwa syukur adalah akar ketenangan hati
Beberapa tahun kemudian, ketika menghadapi kegagalan, kehilangan, dan berbagai ujian hidup, ia tidak lagi tenggelam dalam kesedihan. Ia mengingat firman Alloh:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Latin:
Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun.
Artinya:
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Sejak saat itu, Salim belajar mencintai ilmu dengan syukur, mencintai keluarga dengan syukur, mencintai sesama dengan syukur, dan mencintai Alloh dengan sepenuh hati.
Ia menyadari bahwa cinta yang dibangun di atas syukur tidak melahirkan rasa sakit yang berkepanjangan.
Karena sandarannya bukan kepada makhluk yang fana, melainkan kepada Alloh Yang Maha Kekal.
Di akhir catatannya ia menulis:
مَنْ شَكَرَ اللَّهَ عَلَى مَا عِنْدَهُ، رَأَى الْجَمَالَ فِي كُلِّ مَا قَدَّرَهُ اللَّهُ
Latin:
Man syakarallāha ‘alā mā ‘indahu, ra’al jamāla fī kulli mā qaddarahullāh.
Artinya:
“Barang siapa bersyukur kepada Alloh atas apa yang dimilikinya, maka ia akan melihat keindahan dalam setiap ketentuan Alloh.”
Hikmah
Cinta yang disertai syukur akan melahirkan ketenangan. Syukur menjadikan hati mampu menerima nikmat maupun ujian dengan lapang dada. Semakin seseorang bersyukur, semakin sedikit ia merasakan luka karena kehilangan dunia, sebab hatinya telah bergantung kepada Alloh.
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
Latin:
Wa maa bikum min ni’matin fa minallaah.
Artinya:
“Dan segala nikmat yang ada padamu, maka datangnya dari Allah.”
(QS. An-Nahl: 53)
“Cinta karena syukur adalah ketenangan, cinta karena keserakahan adalah kegelisahan. Maka syukurilah apa yang Alloh beri, niscaya hati akan merasakan cinta tanpa rasa sakit.” (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
