SURAU.CO – Abstrak, Sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah merupakan salah satu momentum paling mulia dalam Islam. Hari-hari tersebut memiliki keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Artikel ini membahas kedudukan 10 hari pertama Zulhijjah dalam perspektif Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama tafsir klasik maupun kontemporer.
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama Zulhijjah merupakan waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh, zikir, puasa, sedekah, dan ibadah kurban. Momentum ini tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga mengandung nilai spiritual, sosial, dan pendidikan akhlak yang sangat relevan bagi kehidupan umat Islam modern. Kata Kunci: Zulhijjah, amal saleh, puasa Arafah, kurban, ketakwaan.
Pendahuluan
Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan dimensi waktu. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. sering bersumpah dengan waktu sebagai isyarat bahwa waktu memiliki nilai spiritual dan moral yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Di antara waktu yang dimuliakan Allah adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah.
Bulan Zulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah Swt.¹ Di dalam bulan ini terdapat ibadah haji, hari Arafah, Iduladha, dan ibadah kurban yang menjadi simbol penghambaan total kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bahkan menyatakan bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan sepuluh hari pertama Zulhijjah.² Pernyataan ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan hari-hari tersebut dalam Islam.
Namun realitas umat Islam saat ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap keutamaan Zulhijjah masih jauh lebih kecil dibanding perhatian terhadap Ramadan. Padahal para ulama menjelaskan bahwa keutamaan siang hari Zulhijjah bahkan melebihi hari-hari Ramadan dalam konteks amal saleh tertentu.³
Oleh karena itu, kajian tentang keutamaan 10 hari pertama Zulhijjah menjadi sangat penting sebagai sarana edukasi dan penguatan spiritual umat Islam.
Pengertian dan Kedudukan Bulan Zulhijjah
Secara bahasa, Zulhijjah berasal dari kata:
“Dzu” yang berarti pemilik dan “Hijjah” yang berarti haji.
Dinamakan Zulhijjah karena pada bulan tersebut umat Islam melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.
Allah Swt. berfirman:
> إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Menurut Ibnu Katsir, empat bulan haram tersebut adalah Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.⁴ Bulan-bulan ini dimuliakan Allah sehingga dosa dan maksiat di dalamnya lebih besar, sementara amal saleh juga dilipatgandakan pahalanya.
Keutamaan 10 Hari Pertama Zulhijjah
- Allah Bersumpah dengan 10 Hari Zulhijjah
Allah Swt. berfirman:
> وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)
Mayoritas ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” merujuk kepada sepuluh hari pertama Zulhijjah.⁵
Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa sumpah Allah terhadap suatu waktu menunjukkan kemuliaan dan keagungan waktu tersebut.⁶ Hal ini menunjukkan bahwa Zulhijjah memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Swt.
- Amal Saleh Paling Dicintai Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” (HR. Bukhari)
Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab:
> وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.”⁷
Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh amal saleh pada 10 hari pertama Zulhijjah memiliki keutamaan luar biasa.
- Terdapat Hari Arafah
Hari ke-9 Zulhijjah disebut Hari Arafah. Hari ini merupakan puncak ibadah haji dan termasuk hari pengampunan dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)⁸
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus.⁹
- Terdapat Hari Raya Iduladha
Hari ke-10 Zulhijjah adalah Iduladha atau Yaumun Nahr (hari penyembelihan kurban).
Rasulullah ﷺ bersabda:
> أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari penyembelihan kurban.”¹⁰
Hari ini menjadi simbol pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan ketaatan total kepada Allah Swt.
Amalan Utama pada 10 Hari Pertama Zulhijjah
- Memperbanyak Zikir dan Takbir
Rasulullah ﷺ bersabda:
> فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
“Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut.”¹¹
Takbir yang dianjurkan:
الله أكبر
لا إله إلا الله
الحمد لله
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa zikir pada hari-hari Zulhijjah memiliki nilai yang sangat besar karena menjadi bentuk pengagungan kepada Allah.¹²
- Puasa Sunnah
Puasa sembilan hari pertama Zulhijjah, khususnya puasa Arafah, sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Dan puasa menjadi sarana penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, dan latihan ketakwaan.
- Membaca Al-Qur’an
Hari-hari mulia harus diisi dengan tilawah, tadabbur, dan pengamalan Al-Qur’an.
Menurut Imam al-Ghazali, membaca Al-Qur’an pada waktu-waktu utama akan memberikan pengaruh spiritual yang lebih kuat terhadap hati seorang mukmin.¹³
- Sedekah dan Kepedulian Sosial
Momentum Zulhijjah juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial melalui:
Sedekah
Infak
Wakaf
Kurban
Membantu fakir miskin
Ibadah kurban mengandung dimensi sosial yang sangat tinggi karena daging kurban dibagikan kepada masyarakat luas.
- Taubat dan Muhasabah
Hari-hari mulia adalah kesempatan terbaik untuk memperbanyak:
Istighfar
Taubat
Muhasabah diri
Memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia
Allah Swt. sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya dengan penuh penyesalan dan keikhlasan.
Hikmah Spiritual Zulhijjah
- Pendidikan Ketakwaan
Zulhijjah mendidik manusia agar menjadikan Allah sebagai tujuan utama hidup.
- Penguatan Nilai Pengorbanan
Kurban mengajarkan:
Keikhlasan
Kepatuhan
Kesabaran
Kepedulian sosial
- Pengendalian Hawa Nafsu
Puasa dan ibadah selama Zulhijjah menjadi latihan spiritual untuk mengendalikan syahwat dan egoisme manusia.
- Penguatan Persaudaraan Umat
Ibadah haji dan kurban memperlihatkan persatuan umat Islam tanpa membedakan ras, bangsa, maupun status sosial.
Relevansi Zulhijjah di Era Modern
Di era modern, manusia sering terjebak dalam materialisme, hedonisme, dan krisis spiritual. Zulhijjah hadir sebagai momentum penyucian jiwa dan penguatan hubungan dengan Allah Swt.
Hari-hari Zulhijjah mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kekayaan materi, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai pengorbanan Nabi Ibrahim AS juga sangat relevan dalam membangun masyarakat yang ikhlas, jujur, dan berorientasi pada nilai-nilai ilahiah.
Penutup
Sepuluh hari pertama Zulhijjah merupakan hari-hari terbaik dalam setahun. Allah Swt. memuliakannya melalui sumpah dalam Al-Qur’an dan penjelasan Rasulullah ﷺ dalam hadis-hadis sahih.
Momentum ini harus dimanfaatkan dengan memperbanyak:
Amal saleh
Puasa
Zikir
Sedekah
Membaca Al-Qur’an
Taubat
Kurban
Umat Islam hendaknya menjadikan Zulhijjah sebagai momentum kebangkitan spiritual dan penguatan ketakwaan di tengah tantangan kehidupan modern.
Semoga Allah Swt. memberikan taufik kepada kita untuk menghidupkan 10 hari pertama Zulhijjah dengan amal terbaik dan menerima seluruh ibadah kita.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Footnote
- Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Kemenag RI, 2019), QS. At-Taubah: 36.
- Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, No. Hadis 969.
-
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Jilid 2 (Riyadh: Darussalam, 2000), hlm. 458.
-
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Jilid 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000), hlm. 148.
-
Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan, Jilid 24 (Kairo: Dar Hijr, 2001), hlm. 425.
-
Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Jilid 20 (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2006), hlm. 51.
-
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, No. Hadis 969.
-
Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, No. Hadis 1162.
-
An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Jilid 8 (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1996), hlm. 70.
-
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, No. Hadis 1765.
-
Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, Jilid 7 (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2001), hlm. 224.
-
Ibnu Rajab al-Hanbali, Latha’if al-Ma‘arif (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2003), hlm. 458.
- Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Jilid 1 (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2005), hlm. 312.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 2002.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulumuddin. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2005.
Al-Qurthubi. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2006.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Syarh Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1996.
Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami‘ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Kairo: Dar Hijr, 2001.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Fath al-Bari. Riyadh: Darussalam, 2000.
Ibnu Katsir, Ismail. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.
Ibnu Rajab al-Hanbali. Latha’if al-Ma‘arif. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2003.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kemenag RI, 2019.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 2000. (Tengku Iskandar)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
