Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini
A. DATA PRIBADI DAN GELAR
Data Keterangan
Nama Lengkap الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ
Kuniyah أَبُو مُحَمَّدٍ
Gelar الْمُجْتَبَى (Yang Terpilih), السَّبْطُ, الزَّكِيُّ, التَّقِيُّ, كَرِيمُ أَهْلِ الْبَيْتِ
Lahir 15 Ramadhan 3 H (1 Desember 624 M)
Tempat Lahir Madinah, Hijaz
Wafat 28 Safar 50 H (2 April 670 M)
Usia 46-47 tahun
Makam Pemakaman Baqi’, Madinah
Masa Imamah 10 tahun
Masa Khilafah 6-7 bulan (Januari-Agustus 661 M).
B. NASAB MULIA
Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah cucu kesayangan Rasulullah ﷺ. Silsilah beliau bersambung kepada Nabi Ismail ‘alaihissalam dari Bani Hasyim, Quraisy .
Hubungan Nama
Ayah عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ
Ibu فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Kakek عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بْنُ هَاشِمٍ
Nenek آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبٍ
Beliau adalah satu-satunya figur dalam sejarah yang menyandang nasab kenabian dari kedua sisi orang tua secara bersamaan.
C. KELAHIRAN YANG DIBERKAHI
Imam Hasan lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijriyah.
Ketika beliau lahir, ayahandanya Ali bin Abi Thalib membawa bayi tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah menyambutnya dengan penuh sukacita, mentahniknya (mengunyah kurma lalu mengusapkannya ke langit-langit mulut bayi), mengumandangkan adzan di telinga kanannya, serta mengaqiqahinya dengan menyembelih seekor kambing.
Menurut riwayat dari Imran bin Sulaiman, nama “Hasan” adalah nama yang tidak dikenal di kalangan bangsa Arab pada masa Jahiliyah. Nama ini adalah nama penghuni surga yang diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ.
D. KEUTAMAAN DALAM AL-QUR’AN
D.1. AYAT TATHIR (آيَةُ التَّطْهِيرِ)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya.” (Surat Al-Ahzab: 33)
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini turun khusus untuk lima orang: Rasulullah ﷺ, Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, Hasan, dan Husain (cucu-cucu beliau).
D.2. AYAT MUBAHALAH (آيَةُ الْمُبَاهَلَةِ)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah (saling melaknat), dan kita jadikan laknat Allah bagi orang-orang yang dusta.'” (Surat Ali Imran: 61)
Dalam peristiwa Mubahalah melawan kaum Nasrani Najran, Rasulullah ﷺ membawa serta Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Dalam ayat ini, “أَبْنَاءَنَا” (anak-anak kami) merujuk kepada Hasan dan Husain.
E. KEUTAMAAN DALAM HADITS NABI
HADITS PERTAMA: PENGHULU PEMUDA SURGA
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ”
(رواه الترمذي وابن ماجه والحاكم)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua pemimpin para pemuda penghuni surga.”
HADITS KEDUA: DUA BUNGA WANGI DARI DUNIA
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا”
(رواه البخاري)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-Hasan dan Al-Husain adalah dua bunga wangiku dari dunia.”
HADITS KETIGA: MENCINTAI MEREKA BERARTI MENCINTAI NABI
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي”
(رواه ابن ماجه)
Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa mencintai Al-Hasan dan Al-Husain, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa membenci keduanya, maka sungguh ia telah membenciku.”
HADITS KEEMPAT: DOA RASULULLAH UNTUK KEDUANYA
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَحْمِلُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ: “اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا”
(رواه البخاري)
Dari Nabi ﷺ, beliau menggendong Al-Hasan dan Al-Husain seraya bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah pula keduanya.”
HADITS KELIMA: KEMIRIPAN DENGAN RASULULLAH
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: “لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ ﷺ مِنَ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ”
(رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang paling mirip dengan Nabi ﷺ selain Al-Hasan bin Ali.”
HADITS KEENAM: PERDAMAIAN ANTARA DUA KELOMPOK BESAR UMAT ISLAM
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(رواه البخاري)
“Sesungguhnya anakku ini (cucuku) adalah seorang penghulu, dan semoga Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok besar di kalangan umat Islam.”
Hadits ini merupakan isyarat kenabian tentang peristiwa perdamaian yang akan dilakukan Imam Hasan dengan Muawiyah di kemudian hari.
F. AKHLAK DAN KEPRIBADIAN
F.1. KEDERMAWANAN (الْكَرَمُ)
Imam Hasan dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Beliau digelari “Karim Ahlul Bait” (Pemurah dari Keluarga Nabi). Disebutkan bahwa beliau dua kali menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan tiga kali membagi hartanya menjadi dua: separuh untuk dirinya dan separuh untuk fakir miskin .
Kisah Teladan:
Suatu hari, seorang lelaki tua dari Syam yang telah terpengaruh propaganda buruk Muawiyah datang dan mencaci-maki Imam Hasan di depan umum. Setelah lelaki itu selesai melontarkan kata-kata kasarnya, Imam Hasan tidak membalas dengan kemarahan. Beliau justru membuka pembicaraan dengan lembut:
“Wahai orang tua! Saya pikir Anda orang asing dan mungkin Anda salah. Bila Anda membutuhkan sesuatu, saya akan membantu. Bila ingin petunjuk, saya akan menunjuki Anda. Bila lapar, saya akan mengenyangkan Anda. Bila butuh pakaian, akan saya berikan. Bila tidak punya tempat tinggal, saya akan menyediakannya untuk Anda.”
Mendengar sambutan yang begitu mulia, lelaki tua itu terperanjat dan menangis, kemudian berkata, “Saya bersaksi bahwa Anda adalah wakil Allah di bumi.”
F.2. KESABARAN DAN KELEMBUTAN (الْحِلْمُ)
Imam Hasan adalah sosok yang sangat penyabar. Beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan kebaikan. Sifat ini menjadikan beliau dijuluki “Al-Halim” (Yang Maha Penyabar).
F.3. KETAATAN BERIBADAH
Diriwayatkan bahwa Imam Hasan melaksanakan ibadah haji sebanyak 25 kali dengan berjalan kaki, meskipun unta-unta dituntun di depannya . Beliau juga dikenal sering shalat malam dan berzikir hingga pagi hari.
G. PERIODE KEPEMIMPINAN DAN PERDAMAIAN
G.1. PENGANGKATAN SEBAGAI KHALIFAH
Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib pada bulan Ramadhan tahun 40 H (661 M), umat Islam di Kufah berbaiat kepada Imam Hasan sebagai khalifah. Masa kekhalifahan beliau berlangsung sekitar enam bulan .
G.2. PERJANJIAN DAMAI DENGAN MUAWIYAH
Muawiyah bin Abu Sufyan, gubernur Syam, menolak untuk berbaiat dan mengerahkan pasukannya menuju Irak. Di sisi lain, pasukan Imam Hasan sendiri tidak solid; terjadi pengkhianatan dari dalam, bahkan ada yang berani menjarah tenda beliau.
Menyadari situasi yang tidak menguntungkan dan demi mencegah pertumpahan darah di antara umat Islam, Imam Hasan mengambil keputusan untuk berdamai dengan Muawiyah.
G.3. ISI PERJANJIAN DAMAI
Berdasarkan catatan sejarah, poin-poin penting dalam perjanjian damai tersebut antara lain:
- Muawiyah harus mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ
- Muawiyah tidak berhak menunjuk pengganti setelah dirinya
- Muawiyah menjamin keamanan jiwa dan harta para pengikut Ali bin Abi Thalib
- Muawiyah tidak boleh melakukan tindakan teror atau pembalasan terhadap siapa pun.
G.4. HIKMAH PERJANJIAN DAMAI
Keputusan Imam Hasan untuk berdamai bukanlah bentuk kelemahan, melainkan sebuah strategi tingkat tinggi. Dengan perdamaian ini, beliau berhasil:
- Menyelamatkan darah umat Islam dari pertumpahan darah yang tidak perlu
- Melindungi pengikut Ahlul Bait dari pemusnahan total
- Menyingkap tabir Bani Umayyah – Muawiyah kemudian melanggar seluruh perjanjian tersebut
Seperti sabda Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya anakku ini (cucuku) adalah seorang penghulu, dan semoga Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok besar di kalangan umat Islam”.
H. NASIHAT DAN HIKMAH
Imam Hasan bin Ali meninggalkan banyak nasihat berharga yang menjadi pedoman hidup umat Islam. Berikut beberapa di antaranya:
NASIHAT PERTAMA
دَعْ مَا يُرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيبُكَ
“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, dan Ahmad dari Imam Hasan)
NASIHAT KEDUA
رَأْسُ الْعَقْلِ مُعَاشَرَةُ النَّاسِ بِالْجَمِيلِ
“Puncak akal adalah bergaul dengan manusia dengan cara yang baik.”
NASIHAT KETIGA
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَبَّدَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ شَيْءٍ
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, maka Allah akan menundukkan segala sesuatu untuknya.”
NASIHAT KEEMPAT
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُحَسِّنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَهُ
“Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak berbuat baik kepada tetangganya.”
NASIHAT KELIMA
(Tentang kematian)
Seseorang bertanya kepada Imam Hasan: “Mengapa kami membenci kematian?” Beliau menjawab:
لِأَنَّكُمْ أَخْرَبْتُمْ آخِرَتَكُمْ وَعَمَّرْتُمْ دُنْيَاكُمْ، فَأَنْتُمْ تَكْرَهُونَ النُّقْلَةَ مِنَ الْعُمْرَانِ إِلَى الْخَرَابِ
“Karena kalian telah merusak akhirat kalian dan memakmurkan dunia kalian, maka kalian benci berpindah dari kemakmuran menuju kehancuran.”
I. WAFAT DAN PEMAKAMAN
I.1. SEBAB WAFAT
Imam Hasan wafat pada tanggal 28 Safar tahun 50 H (sekitar 2 April 670 M) dalam usia 46 tahun karena diracun. Racun diberikan oleh istrinya, Ja’dah binti Asy’ats, yang didalangi oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.
I.2. SIKAP MENJELANG WAFAT
Beberapa hari sebelum wafat, Imam Hasan bermimpi melihat tulisan “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” (Qul huwallahu ahad) di antara kedua matanya . Ketika diracun, beliau merasa takut menghadapi kematian. Saudaranya, Husain bin Ali, menenangkannya dengan mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Rasulullah ﷺ, Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, dan para syuhada lainnya.
Ketika Husain bertanya siapa yang meracuninya, Imam Hasan menolak menjawab untuk menjaga perdamaian dan kerukunan umat Islam, takut Husain akan membalas dendam dan menyebabkan pertumpahan darah.
I.3. PEMAKAMAN
Sebelum wafat, Imam Hasan berwasiat agar dimakamkan di samping makam kakeknya, Rasulullah ﷺ. Namun, Aisyah melarang hal tersebut, sehingga beliau dimakamkan di Pemakaman Baqi’ di Madinah.
I.4. REAKSI SAHABAT
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq bahwa pada hari wafatnya Imam Hasan, Abu Hurairah berdiri di masjid Rasulullah ﷺ dan berseru dengan suara keras:
“Wahai sekalian manusia, pada hari ini, kekasih Rasulullah ﷺ telah wafat, tangisilah pemergiannya.”
Manusia pun berkumpul mengantar jenazahnya hingga Pemakaman Baqi’ dipenuhi sesak oleh orang-orang yang datang menziarahi.
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’an al-Karim.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. (Hadits nomor 2704, 3750).
- Al-Husaini Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Kitab Al-Mausu’ah Li Ansab Al-Imam Al-Hasan bin Ali. Hyderabad: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2000.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. (Hadits nomor 2520, 3773).
- An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib. Sunan an-Nasa’i. (Hadits nomor 1410, 5727).
- Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah.
- Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. (Hadits nomor 20392).
- Ash-Shalabi, Ali Muhammad. Biografi Hasan Bin Ali Bin Abu Thalib. Solo: Beirut Publishing, 2014. (Judul asli: Siratu Al Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib).
- Madelung, Wilferd. “Hasan b. Ali b. Abi Talib”. Encyclopædia Iranica, 2006.
- Al-Balagh Foundation. Imam Hasan Bin Ali. Tehran: Al-Balagh Foundation, 1993.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
