Dunia akademik Islam seringkali menempatkan laki-laki sebagai pilar utama dalam periwayatan hadis. Namun, Susianty hadir untuk membongkar narasi tunggal tersebut melalui perspektif yang lebih inklusif. Ia menegaskan bahwa sejarah Islam mencatat peran perempuan yang sangat krusial dalam menjaga kemurnian sabda Nabi Muhammad SAW.
Ulama perempuan bukan sekadar pelengkap dalam rantai transmisi keilmuan. Mereka merupakan guru, perawi, dan penjaga integritas hadis sejak zaman para sahabat. Susianty memaparkan bahwa kehadiran perempuan dalam diskursus hadis memberikan warna tersendiri bagi perkembangan hukum dan etika Islam.
Akar Sejarah dari Zaman Aisyah RA
Kontribusi perempuan dalam hadis bermula dari figur Aisyah binti Abu Bakar RA. Beliau merupakan rujukan utama para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat. Aisyah meriwayatkan ribuan hadis yang mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah hingga urusan domestik yang bersifat privat.
Susianty menjelaskan bahwa tanpa peran Aisyah dan sahabatiyah lainnya, umat Islam akan kehilangan banyak detail penting tentang kehidupan Rasulullah. Kontribusi ini berlanjut pada masa tabi’in dan generasi-generasi berikutnya. Banyak ulama besar laki-laki yang sebenarnya menimba ilmu dari guru perempuan yang kredibel.
Keunggulan Integritas Ulama Perempuan
Susianty menyoroti satu fakta unik dalam sejarah kritik hadis (Ilmu Jarh wa Ta’dil). Para kritikus hadis klasik hampir tidak pernah menemukan perawi perempuan yang melakukan pemalsuan hadis. Hal ini menunjukkan tingkat kejujuran dan ketelitian yang sangat tinggi di kalangan intelektual muslimah.
Dalam kutipannya, Susianty menegaskan:
“Sejarah mencatat bahwa perempuan memiliki integritas moral yang sangat kuat dalam menjaga orisinalitas teks suci, sehingga nyaris tidak ditemukan tuduhan pendusta (kadzdzab) pada perawi perempuan.”
Kejujuran ini menjadi modal utama dalam membangun otoritas keilmuan mereka. Mereka menjaga sanad atau rantai transmisi dengan sangat disiplin. Masyarakat saat itu sangat menghormati otoritas mereka sebagai sumber hukum yang tepercaya.
Menghidupkan Kembali Narasi yang Terlupakan
Saat ini, nama-nama seperti Amrah bint Abdurrahman atau Sayyidah Nafisah mungkin jarang terdengar oleh publik luas. Susianty berupaya menghidupkan kembali memori kolektif umat tentang kehebatan mereka. Ia percaya bahwa mengenal ulama perempuan akan menginspirasi generasi muda muslimah untuk aktif dalam dunia literasi dan sains.
Kontribusi mereka tidak terbatas pada hafalan semata. Ulama perempuan juga melakukan analisis mendalam terhadap isi (matan) hadis. Mereka memastikan bahwa pemahaman hadis selaras dengan prinsip keadilan dan kemaslahatan umat manusia.
Susianty berpendapat:
“Kita perlu melakukan dekonstruksi terhadap pandangan bahwa perempuan hanya objek dalam agama, padahal sejak awal mereka adalah subjek yang menentukan arah pemikiran Islam.”
Relevansi dalam Konteks Kontemporer
Mengapa membicarakan ulama perempuan masa lalu itu penting hari ini? Susianty melihat adanya kesenjangan gender dalam otoritas keagamaan di masa modern. Dengan menilik kembali sejarah, perempuan masa kini bisa mengklaim kembali hak mereka dalam ruang intelektual.
Pendidikan hadis harus memberikan porsi yang adil bagi tokoh-perempuan. Kurikulum pendidikan Islam perlu memasukkan biografi dan karya-karya ulama perempuan. Hal ini bertujuan agar perspektif perempuan dalam menafsirkan teks-teks keagamaan tetap terjaga dan relevan.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Tantangan terbesar saat ini adalah minimnya literatur yang mengangkat profil ulama perempuan secara mendetail. Banyak naskah kuno yang mencatat peran mereka masih tersimpan di perpustakaan tanpa kajian yang memadai. Susianty mendorong para peneliti untuk menggali lebih dalam kekayaan intelektual ini.
Ia menutup pemaparannya dengan kutipan penuh semangat:
“Mengenal kontribusi perempuan dalam hadis adalah cara kita menghargai setengah dari kekuatan peradaban Islam yang selama ini tersembunyi di balik lembaran sejarah.”
Dengan literasi yang kuat, Susianty yakin bahwa ulama perempuan masa depan akan kembali bermunculan. Mereka akan membawa semangat Aisyah RA untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks melalui kacamata hadis yang jernih.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
