Dunia Islam mengenal Syekh Muhammad Nasiruddin al-Albani sebagai raksasa dalam bidang ilmu hadis pada abad modern. Beliau merupakan sosok yang berhasil membangkitkan kembali semangat umat untuk meneliti keaslian sabda Nabi Muhammad SAW. Menariknya, keahlian besar ini tidak lahir dari bangku universitas formal, melainkan dari sebuah bengkel jam kecil dan lorong-lorong perpustakaan yang sunyi.
Jejak Awal Sang Pembaru dari Albania
Lahir pada tahun 1914 di kota Ashkodra, Albania, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius. Ayahnya, Syekh al-Haj Nuh al-Albani, merupakan seorang ulama lulusan Istanbul yang sangat disegani. Ketika rezim sekuler mulai berkuasa di Albania, keluarga ini memutuskan untuk hijrah ke Damaskus, Suriah, demi menjaga iman dan tradisi keislaman mereka.
Di Damaskus, al-Albani muda mulai menyerap berbagai ilmu agama dasar. Ayahnya mengajari beliau Al-Qur’an, tajwid, serta fikih mazhab Hanafi. Namun, titik balik dalam hidupnya terjadi saat beliau menemukan sebuah artikel di majalah Al-Manar. Artikel karya Sayyid Rasyid Ridha tersebut mengupas tentang kritik hadis dan langsung memikat hati al-Albani untuk mendalami bidang tersebut lebih jauh.
Filosofi Tukang Jam dalam Meneliti Hadis
Sebelum menjadi ulama besar, Syekh al-Albani menyambung hidup dengan berprofesi sebagai tukang jam. Beliau mewarisi keahlian ini dari ayahnya. Pekerjaan memperbaiki jam menuntut ketelitian tingkat tinggi, kesabaran ekstra, dan kecermatan dalam melihat detail-detail terkecil.
Rupanya, karakter sebagai ahli jam inilah yang beliau bawa ke dalam dunia penelitian hadis. Beliau memandang setiap sanad (rantai perawi) dan matan (isi hadis) layaknya komponen jam yang rumit. Jika satu bagian saja rusak atau palsu, maka seluruh fungsi hadis tersebut sebagai landasan hukum harus dipertanyakan. Ketekunan inilah yang kemudian hari membuat karya-karyanya menjadi rujukan utama para penuntut ilmu di seluruh dunia.
Dedikasi Luar Biasa di Perpustakaan Al-Zahiriyah
Kisah hidup Syekh al-Albani identik dengan Perpustakaan Al-Zahiriyah di Damaskus. Karena keterbatasan ekonomi untuk membeli buku, beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Kegigihannya menarik perhatian pengelola perpustakaan. Mereka bahkan memberikan kunci khusus agar beliau bisa masuk lebih awal dan pulang lebih akhir daripada pengunjung lainnya.
Setiap hari, beliau menghabiskan waktu sekitar 12 jam untuk membaca, menyalin, dan meneliti naskah-naskah kuno. Beliau sering kali hanya beristirahat sebentar untuk makan roti sederhana agar tidak membuang waktu penelitiannya. Mengenai masa-masa sulit ini, beliau pernah berkata:
“Saya tidak mampu membeli lilin untuk belajar di malam hari, maka saya memanfaatkan lampu jalan di luar rumah untuk membaca kitab.”
Kutipan tersebut menggambarkan betapa besarnya pengorbanan beliau demi menjaga kemurnian hadis Nabi dari pemalsuan atau kekeliruan sejarah.
Metode Tasfiyah dan Tarbiyah
Syekh al-Albani mengusung konsep utama yang terkenal dengan sebutan Tasfiyah dan Tarbiyah. Tasfiyah berarti memurnikan ajaran Islam dari unsur-unsur bidah, hadis palsu, dan pemikiran asing yang merusak. Sementara itu, Tarbiyah adalah mendidik generasi Muslim di atas fondasi ajaran yang sudah murni tersebut.
Beliau meyakini bahwa kejayaan umat Islam hanya akan kembali jika mereka merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih. Melalui karya monumentalnya, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah, beliau memilah mana hadis yang layak menjadi sandaran dan mana yang harus ditinggalkan.
Menghadapi Tantangan dan Fitnah
Perjalanan dakwah Syekh al-Albani tidak selalu mulus. Kritik tajam beliau terhadap tradisi yang tidak memiliki dasar kuat dalam hadis sering kali memicu penentangan dari tokoh-tokoh konservatif. Beliau bahkan sempat merasakan dinginnya jeruji besi karena aktivitas dakwahnya dianggap mengganggu stabilitas sosial oleh penguasa saat itu.
Namun, semua hambatan tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Beliau tetap menulis dan mengajar di berbagai negara, termasuk menjadi dosen di Universitas Islam Madinah atas undangan Syekh Bin Baz. Pengakuan dunia internasional memuncak saat beliau menerima penghargaan bergengsi King Faisal International Prize untuk bidang Studi Islam pada tahun 1999.
Warisan Sang Pembela Sunnah
Hingga akhir hayatnya pada tahun 1999 di Yordania, Syekh al-Albani telah meninggalkan lebih dari 200 karya tulis. Beliau tidak hanya mewariskan buku, tetapi juga metodologi penelitian yang sistematis bagi para akademisi modern. Semangatnya membuktikan bahwa latar belakang profesi atau kemiskinan bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjadi ahli dalam suatu bidang ilmu.
Kegigihan sang ahli jam ini akan selalu dikenang sebagai salah satu pencapaian intelektual terbesar dalam sejarah Islam modern. Beliau berhasil membuktikan bahwa ketelitian dalam memperbaiki waktu (jam) sejalan dengan ketelitian dalam menjaga risalah sang Nabi.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
