SURAU.CO – Ibu Pertiwi mengelus dada, menatap anak-anak bangsa yang berlomba, bukan berlomba menanam karya, melainkan berebut kuasa dan harta.
Di ruang megah dan kursi jabatan, ada yang lupa pada sumpah pengabdian, ketika amanah dijadikan tangga, dan kepentingan diri menjadi tujuan utama.
Tak memandang pangkat dan gelar,
tak memandang seragam ataupun jabatan besar, ada yang terpelajar namun kehilangan pelita, ada yang berpangkat namun lupa makna.
Perut kenyang menjadi ukuran, sedang nurani ditinggalkan perlahan,
hak rakyat dipandang sekadar angka, bukan titipan yang harus dijaga.
Ibu Pertiwi mengelus dada lagi, melihat sawah, laut, dan negeri, yang kaya akan berkah Ilahi, namun sering dirundung ulah pribadi.
Padahal ilmu adalah cahaya, jabatan adalah amanah mulia, pangkat hanyalah sarana sementara,
bukan mahkota untuk berbuat semena-mena.
Wahai anak bangsa tercinta,
jangan gadaikan harga diri karena dunia,
sebab jabatan akan berakhir masanya,
sedangkan amal akan kekal selamanya.
Mari menata hati dan langkah, menegakkan adab di atas kuasa, agar Ibu Pertiwi tak lagi mengelus dada,
melainkan tersenyum bangga kepada putra-putrinya.
Karena kemuliaan bukan pada gelar yang disandang, bukan pula pada kursi yang diduduki seorang,
melainkan pada kejujuran yang diperjuangkan,
dan amanah yang dijaga hingga akhir perjalanan.
Kisah Hikmah “Membangun Martabat Tanpa Menginjak”
Di sebuah kampung yang damai, hiduplah seorang pemuda bernama Fikri. Ia dikenal cerdas, rajin, dan memiliki cita-cita tinggi.
Setiap hari ia berusaha meningkatkan ilmu, harta, dan kedudukannya agar menjadi orang yang dihormati masyarakat.
Namun, dalam perjalanan hidupnya, Fikri melihat banyak orang yang ingin cepat naik derajat dengan cara merendahkan orang lain. Ada yang suka mencela, menyebarkan keburukan, memfitnah, bahkan mengambil hak orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.
Suatu hari, Fikri menemui seorang guru tua yang bijaksana.
“Guru,” tanya Fikri,
“bagaimana cara membangun martabat yang tinggi?”
Sang guru tersenyum lalu berkata:
“Anakku, gunung menjadi tinggi bukan karena menginjak gunung lain. Matahari bercahaya bukan karena memadamkan cahaya bintang. Begitu pula manusia, kemuliaan sejati tidak dibangun dengan merendahkan sesama.”
Kemudian sang guru membacakan firman Alloh:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
Yā ayyuhallażīna āmanū lā yaskhar qaumum min qaumin ‘asā ay yakūnū khairam minhum.
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Fikri merenung. Selama ini ia mengira keberhasilan hanya tentang menjadi lebih tinggi dari orang lain.
Padahal Alloh mengajarkan agar manusia berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kesombongan
Sang guru melanjutkan:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā, innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablughal-jibāla ṭūlā.
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)
“Martabat,” kata sang guru, “lahir dari akhlak, adab, ilmu, dan manfaat yang kita berikan.
Semakin seseorang memuliakan orang lain, semakin Alloh meninggikan derajatnya.”
Kemudian beliau membacakan firman Alloh yang lain:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Wa qul rabbī zidnī ‘ilmā.
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Taha: 114)
Sejak hari itu Fikri mengubah cara pandangnya. Ia membantu yang lemah, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, serta menerima perbedaan dengan lapang dada. Ia tidak lagi mengejar penghormatan manusia, tetapi berusaha mencari ridho Alloh.
Tahun demi tahun berlalu. Tanpa disadari, masyarakat menghormatinya bukan karena kekuasaan atau kekayaan, melainkan karena akhlaknya. Ia menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, dan tempat mencari keteduhan.
Ketika seseorang bertanya rahasia keberhasilannya, Fikri menjawab:
“Martabat yang dibangun dengan menginjak orang lain akan runtuh bersama kesombongan. Namun martabat yang dibangun dengan adab, ilmu, dan kasih sayang akan berdiri kokoh karena ditopang oleh ridho Alloh.”
Hikmah
Alloh mengingatkan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Martabat sejati bukanlah meninggikan diri dengan merendahkan orang lain, melainkan meninggikan akhlak dengan memuliakan sesama. Sebab kemuliaan yang berasal dari manusia bisa hilang, tetapi kemuliaan yang diberikan Alloh akan kekal membawa keberkahan. Wallāhu a’lam bish-shawāb. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
