Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini
A. PENDAHULUAN
Dalam khazanah keislaman Nusantara, terdapat dua istilah yang sering digunakan secara bergantian namun memiliki kedalaman makna yang berbeda: Silaturahim dan Silaturrahmi. Secara etimologis dan hakikat, keduanya berasal dari akar kata yang berbeda, yaitu rahim (rahim/kandungan) dan rahmah (kasih sayang).
Kajian ini bertujuan untuk menganalisis persamaan dan perbedaan kedua istilah tersebut berdasarkan tinjauan Al-Qur’an, Al-Hadits, serta ilmu hakikat (tasawuf).
Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan semantik dan tafsir tematik.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Silaturahim berorientasi pada hubungan kekerabatan biologis, sementara Silaturrahmi merupakan perluasan makna yang mencakup ikatan spiritual universal yang dilandasi oleh nilai kasih sayang ilahiah.
Istilah silaturahim dan silaturrahmi seringkali dianggap sama dalam konteks budaya Islam di Indonesia. Masyarakat umum memahami keduanya sebagai aktivitas menjaga hubungan baik, terutama saat hari raya Idul Fitri. Namun, jika ditelaah melalui ilmu hakikat—yaitu ilmu yang membahas hakikat sesuatu hingga sampai pada realitas ketuhanan—kedua istilah ini memiliki spektrum makna yang berbeda.
Secara bahasa, “silah” berarti menyambung atau menghubungkan. Perbedaan mendasar terletak pada kata kedua: rahim dan rahmi. Perbedaan satu huruf ini membawa implikasi filosofis dan teologis yang signifikan.
B. DEFINISI DAN ETIMOLOGI
- Silaturahim berasal dari kata ṣilah (صِلَة) dan ar-rahim (الرَّحِم). Ar-rahim secara harfiah berarti rahim (tempat janin berkembang) atau hubungan darah (kerabat). Secara terminologi, silaturahim adalah upaya menyambung tali kekerabatan yang didasari oleh ikatan nasab atau keturunan.
- Silaturrahmi berasal dari kata ṣilah (صِلَة) dan ar-raḥmi (الرَّحْمِ). Meskipun secara gramatikal kurang baku dalam bahasa Arab fushah jika ditulis terpisah, secara konseptual ar-raḥmi merujuk pada ar-rahmah (الرَّحْمَة), yaitu kasih sayang. Dalam konteks Nusantara, silaturrahmi dimaknai sebagai menyambung rasa kasih sayang yang bersifat universal, tidak terbatas pada hubungan darah.
C. LANDASAN AYAT AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
Untuk memahami hakikat kedua istilah ini, diperlukan penelusuran terhadap teks-teks suci yang menjadi rujukan utama.
- Ayat Al-Qur’an tentang Ar-Rahim (Kekerabatan)
Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 21:
ٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلْحِسَابِ
“(Yaitu) orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya serta takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d: 21)
Dalam tafsir klasik (Ibnu Katsir), “apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan” merujuk pada silaturrahim (menyambung tali kekerabatan).
- Hadits tentang Universalitas Rahmah
Nabi Muhammad SAW bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad)
Hadits ini menjadi fondasi bagi konsep rahmah (kasih sayang) yang meluas, yang kemudian menjadi ruh dari silaturrahmi.
D. PERSAMAAN ANTARA SILATURAHIM DAN SILATURRAHMI
- Tujuan Akhlak Mulia. Keduanya bertujuan untuk menjalin hubungan harmonis antar sesama manusia. Baik silaturahim maupun silaturrahmi sama-sama melarang pemutusan hubungan (qatha’).
- Dasar Spiritual. Keduanya bersumber dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya solidaritas sosial. Amalan keduanya dijanjikan pahala besar dan dipanjangkan umur (menurut hadits).
- Metode Pelaksanaan. Pelaksanaannya meliputi kunjungan, bantuan materi, senyum, dan doa.
E. PERBEDAAN TINJAUAN ILMU HAKIKAT
Dalam perspektif ilmu hakikat (yang membedah realitas batin dari sebuah simbol), perbedaan antara Silaturahim dan Silaturrahmi sangatlah fundamental:
- Silaturrahim, Objek Terbatas pada dzawil arham (kerabat sedarah) sedangkan Silaturrahmi Universal: semua manusia, bahkan makhluk secara umum.
- Pada Silaturahim, Sumber Makna berasal dari kata Rahim (kandungan fisik) sedangkan pada Silaturahmi berasal dari kata Rahmah (sifat kasih Allah).
- Silaturahim hakikatnya hubungan fisik/nasab. Menyambung yang terputus karena faktor biologis rahim. Sedangkan Silaturrahmi terkait hubungan ruhaniah. Menyambung energi kasih sayang ilahi.
- Silaturahim memiliki dimensi duniawi (horizontal). Sedangkan Silaturrahmi memiliki dimensi Ukhrawi & Ilahiah (horizontal sekaligus vertikal).
- Silaturahim tujuan hakiki memelihara struktur sosial berbasis keturunan. Sedangkan Silaturrahmi mencerminkan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim Allah dalam diri.
Penjelasan Perbedaan Hakikat:
- Objek dan Cakupan. Dalam Silaturahim, objeknya adalah keluarga yang memiliki hubungan darah. Dalam ilmu hakikat, rahim dianggap sebagai simbol kesatuan asal (satu ayah dan ibu). Sementara Silaturrahmi (dari rahmah), objeknya adalah seluruh alam. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa rahmah adalah sifat Allah yang meliputi segala sesuatu (wa si’a kulla syai’). Maka menyambung rahmah berarti menyambung hubungan dengan seluruh ciptaan atas dasar cinta.
- Motivasi Batin. Silaturahim seringkali didorong oleh rasa kewajiban moral terhadap keluarga (birrul walidain dan kerabat). Silaturrahmi didorong oleh kesadaran spiritual bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga besar yang berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada perbedaan kecuali dalam ketakwaan. Hakikat Silaturrahmi adalah pengakuan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat rahmah Allah.
- Konsekuensi Spiritual. Dalam kajian tasawuf, orang yang hanya menjaga silaturahim akan mendapatkan berkah dalam harta dan umur. Namun orang yang menjaga silaturrahmi (menyebarkan kasih sayang tanpa batas) akan mencapai derajat ihsan, yaitu merasakan bahwa Allah selalu melihat, sehingga ia mencintai makhluk karena Allah.
F. KESIMPULAN
Berdasarkan tinjauan ilmu hakikat, Silaturahim dan Silaturrahmi memiliki persamaan dalam hal esensi perintah syariat untuk tidak memutuskan hubungan. Namun, perbedaannya terletak pada dimensi dan kedalaman makna. Silaturahim lebih sempit, terbatas pada ikatan darah (nasab). Adapun Silaturrahmi adalah konsep yang lebih tinggi dan universal, yang merupakan manifestasi dari sifat Rahmah Allah yang meliputi segala sesuatu. Dalam konteks keindonesiaan, kata Silaturrahmi lebih sering digunakan untuk menggambarkan persaudaraan antar umat beragama dan sesama bangsa, karena mencerminkan nilai kasih sayang yang lebih luas daripada sekadar ikatan darah.
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’an Al-Karim.
- Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (1379 H). Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (1422 H). Shahih al-Bukhari. Dar Tuq an-Najah.
- Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. (2005). Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
- Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan. Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2016.
- Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan. Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International. 2016.
- Al-Jurjani, Ali bin Muhammad. (1983). Kitab at-Ta’rifat. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. (1975). Sunan at-Tirmidzi. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (1419 H). Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim. Riyadh: Dar Thayyibah.
- Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
