SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah
Beranda » Berita » HUKUM PEREMPUAN HAID MASUK MASJID DAN MENDENGAR PENGAJIAN MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN AL-HADITS AS-SUNNAH DAN PANDANGAN FIQIH EMPAT MADZHAB

HUKUM PEREMPUAN HAID MASUK MASJID DAN MENDENGAR PENGAJIAN MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN AL-HADITS AS-SUNNAH DAN PANDANGAN FIQIH EMPAT MADZHAB

 

Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini

Haid adalah ketetapan Allah SWT bagi putri-putri Nabi Adam AS. Dalam konteks ibadah, perempuan haid memiliki beberapa keringanan sekaligus larangan. Salah satu persoalan yang sering muncul adalah boleh tidaknya perempuan haid masuk ke masjid untuk mendengarkan pengajian atau majelis ilmu. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini berdasarkan pemahaman mereka terhadap dalil-dalil yang ada.

B. DALIL DARI AL-QUR’AN

Surat An-Nisa’ ayat 43:

BERGERAK BERDAMPAK; SPIRIT BARU PMII

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 43)

C. DALIL DARI AL-HADITS

a. Hadis Riwayat Ibnu Majah (Dihukumi Dha’if oleh Mayoritas Ulama)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي غَنِيَّةَ عَنْ أَبِي الْخَطَّابِ الْهَجَرِيِّ عَنْ مَحْدُوجٍ الذُّهْلِيِّ عَنْ جَسْرَةَ قَالَتْ أَخْبَرَتْنِي أُمُّ سَلَمَةَ قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَرْحَةَ هَذَا الْمَسْجِدِ فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ إِنَّ الْمَسْجِدَ لاَ يَحِلُّ لِجُنُبٍ وَلاَ لِحَائِضٍ

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

“Dari Ummu Salamah RA, ia berkata: Rasulullah SAW masuk ke halaman masjid, lalu berseru dengan suara yang keras, ‘Sesungguhnya masjid tidak halal bagi orang yang junub dan tidak pula bagi orang yang haid.” (HR. Ibnu Majah)

Catatan Kritis: Hadis ini dinilai tidak shahih karena terdapat dua perawi yang majhul (tidak diketahui identitasnya), yaitu al-Khathab al-Hajariy dan Mahduj adz-Dzuhliy. Karenanya, hadis ini tidak dapat dijadikan dasar hukum yang kuat.

b. Hadis Riwayat Abu Dawud (Dishahihkan Ibnu Khuzaimah)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُب

“Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi perempuan haid dan orang yang junub.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Ringkasan Buku What I Learned About Investing from Darwin – Pulak Prasad

c. Hadis Riwayat Muslim (Dalil Kebolehan)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ

“Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Ambilkan sajadah (khumrah) untukku dari masjid!’ Aisyah berkata: ‘Aku sedang haid.’ Nabi SAW bersabda, ‘Sesungguhnya haidmu itu tidak ada di tanganmu.” (HR. Muslim)

d. Hadis Riwayat Al-Bukhari (Perintah Keluar Lapangan pada Hari Raya)

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ

“Dari Ummu ‘Athiyyah RA, ia berkata: ‘Kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid pada dua hari raya, dan wanita-wanita yang dipingit (di rumah). Mereka menyaksikan perkumpulan kaum muslimin dan doa mereka. Namun wanita-wanita haid menjauh dari tempat shalat mereka.” (HR. Al-Bukhari)

e. Hadis Riwayat Al-Bukhari (Perihal Haji)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: خَرَجْنَا لاَ نَرَى إِلاَّ الْحَجَّ فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي قَالَ مَا لَكِ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

“Dari Aisyah RA, ia berkata: ‘Kami keluar (untuk berhaji) dan tidak ada yang kami niatkan kecuali haji. Ketika kami berada di Sarif, aku mengalami haid. Lalu Rasulullah SAW masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya: ‘Apa yang terjadi padamu? Apakah engkau sedang haid?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan atas anak-anak perempuan Adam. Maka kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang berhaji, kecuali jangan engkau thawaf di Baitullah.” (HR. Al-Bukhari)

D. PANDANGAN FIQIH EMPAT MADZHAB

1. MADZHAB HANAFI

Menurut madzhab Hanafi, perempuan haid haram masuk masjid secara mutlak, baik untuk tinggal (i’tikaf) maupun sekadar lewat dari satu sisi ke sisi lain. Pendapat ini didasarkan pada qiyas (analogi) kepada orang junub berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 43, serta prinsip kehati-hatian karena haid dianggap sebagai hadas yang lebih berat daripada junub. Meskipun demikian, dalam kondisi darurat, mereka menganjurkan untuk bertayamum terlebih dahulu sebelum melewati masjid.

2. MADZHAB MALIKI

Madzhab Maliki juga berpendapat bahwa haram hukumnya bagi perempuan haid untuk masuk masjid, baik untuk tinggal maupun sekadar lewat. Namun, terdapat catatan khusus. Di kalangan madzhab Maliki, Imam Al-Lakhmi memiliki pendapat lain yang membolehkan perempuan haid masuk masjid dengan syarat mustatsfirah, yaitu benar-benar menjaga agar darahnya tidak menetes atau mengotori masjid. Pendapat ini kemudian menjadi solusi bagi para guru TPQ yang sedang haid namun harus mengajar di masjid.

3. MADZHAB SYAFI’I

Dalam madzhab Syafi’i, yang diharamkan secara tegas adalah berdiam di dalam masjid (i’tikaf). Adapun sekadar lewat (masuk dan keluar), terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama madzhab ini, namun pendapat yang lebih kuat membolehkan jika ada keperluan atau hajat. Menariknya, Imam Al-Muzani (murid Imam Syafi’i) berpendapat bahwa perempuan haid tidak dilarang masuk masjid sama sekali. Alasannya, perempuan musyrik pun boleh masuk masjid padahal mungkin saja mereka dalam keadaan haid, maka perempuan muslimah lebih berhak untuk diperbolehkan.

4. MADZHAB HANBALI

Madzhab Hanbali membedakan antara berdiam dan lewat. Hukum haram hanya berlaku jika perempuan haid berdiam di masjid. Namun, mereka membolehkan untuk sekadar lewat (masuk dan keluar) jika ada keperluan atau hajat. Bahkan, sebagian ulama Hanbali seperti Ibnu Qudamah membolehkan orang junub berdiam di masjid dengan berwudhu terlebih dahulu, tanpa harus dalam kondisi darurat sekalipun.

E. RINGKASAN PERBANDINGAN PENDAPAT

Apabila disimpulkan, madzhab Hanafi dan Maliki cenderung lebih ketat dengan mengharamkan masuk masjid secara mutlak, meskipun madzhab Maliki memiliki pendapat lain yang membolehkan dengan syarat menjaga kebersihan. Sementara itu, madzhab Syafi’i dan Hanbali membedakan antara berdiam (i’tikaf) yang diharamkan dan sekadar lewat karena hajat yang dibolehkan. Perbedaan ini lahir dari cara masing-masing madzhab dalam memadukan dalil larangan (seperti hadis riwayat Abu Dawud) dengan dalil kebolehan (seperti hadis riwayat Muslim dan praktik Nabi bersama Aisyah dalam haji).

F. KESIMPULAN DAN SOLUSI PRAKTIS

1. UNTUK MENDENGARKAN PENGAJIAN DI MASJID

Berdasarkan analisis dalil, khususnya kelemahan hadis riwayat Ibnu Majah dan kuatnya hadis riwayat Muslim serta praktik Nabi SAW bersama Aisyah RA dalam ibadah haji, pendapat yang lebih kuat (rajih) adalah membolehkan perempuan haid masuk masjid untuk keperluan mendengarkan pengajian dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Ada hajat atau keperluan, seperti mendengarkan kajian agama, mengajar Al-Qur’an, atau mengambil sesuatu.
  2. Tidak mengotori masjid – yaitu benar-benar menjaga agar darah haid tidak menetes atau merembes (dengan menggunakan pembalut yang aman).

2. ALTERNATIF. Alternatif bagi yang berpegang pada pendapat yang lebih ketat (ihtiyath):

· Mendengarkan pengajian dari luar masjid (melalui pengeras suara)
· Mengikuti kajian secara online/daring dari rumah

3. SIKAP TERBAIK: Menghormati perbedaan pendapat di kalangan ulama. Bagi yang merasa lebih nyaman dengan pendapat yang melarang, dapat memilih alternatif di atas. Bagi yang mengikuti pendapat yang membolehkan, tetap harus menjaga adab dan kebersihan masjid. Sebagaimana kaidah fiqih: Al-Khuruj minal khilaf mustahabb (keluar dari perselisihan itu dianjurkan).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. Al-‘Abdari, Abu Abdillah. At-Taju wal Iklil li Mukhtasharil Khalil. Juz I. Beirut: Darul Fikr, 1398 H.
  3. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Sahih al-Bukhari.
  4. Al-Hatthab Ar-Ru’yani. Mawahibul Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil. Juz I. Darul ‘Alam Al-Kutub, 2003 M/1423 H.
  5. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International, 2017.
  6. Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surah: Tafsir Midadurrahman, Jakarta: Penerbit Pustaka Asyraf International, 2017.
  7. Al-Mawardi, Ali bin Muhammad. Al-Hawi Al-Kabir Syarh Mukhtasar Al-Muzani.
  8. Ar-Ruyani, Abdul Wahid bin Ismail. Bahrul Mazhab. Juz 10. Beirut: Dar Ihya Turats, 2002 M.
  9. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah.
  10. Muslim, bin al-Hajjaj. Sahih Muslim.

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.