Oleh: Al-Habib Prof.Dr.KH.R. Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan Al-Husaini
A. PENDAHULUAN
Ujian hidup merupakan keniscayaan yang dialami setiap manusia sebagai bagian dari sunnatullah.
Dalam perspektif Islam, ujian bukanlah bentuk hukuman atau kemurkaan Allah, melainkan sarana peningkatan derajat, pembersihan dosa, dan pemurnian keimanan.
Setiap manusia yang hidup di dunia pasti akan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari rasa takut, lapar, kekurangan harta, kehilangan orang tercinta, atau berbagai bentuk kesulitan lainnya. Namun, seringkali manusia menyangka bahwa ujian adalah bentuk hukuman atau tanda bahwa Allah murka kepadanya. Padahal, dalam perspektif Islam, ujian justru menjadi jalan Allah untuk mengangkat derajat, membersihkan dosa, dan mendidik hamba agar semakin kuat dalam keimanan.
Allah SWT dengan tegas menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa tujuan penciptaan kehidupan ini adalah untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang terbaik amalnya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Mulk ayat 2:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: bagaimana cara seorang Muslim mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap ujian yang menimpanya?
Tulisan ini akan mengupas tuntas jawaban atas pertanyaan tersebut berdasarkan perspektif Al-Qur’an, Al-Hadis, serta pandangan para ulama empat madzhab.
B. HAKIKAT UJIAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ujian (bala’ dan fitnah) adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan atau hukuman, melainkan ketetapan Allah yang pasti dialami setiap manusia.
Selanjutnya, Allah SWT juga menjelaskan bahwa ujian tidak hanya berupa keburukan, tetapi juga kebaikan. Keduanya adalah sarana untuk menguji kualitas keimanan seorang hamba. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 35:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ujian kebaikan bisa berupa harta, anak, kekuasaan, atau kenikmatan lainnya. Sedangkan ujian keburukan bisa berupa rasa takut, lapar, sakit, kematian, atau musibah lainnya.
Allah SWT juga menegaskan bahwa klaim keimanan seseorang tidak akan diterima begitu saja tanpa melalui proses pengujian. Firman-Nya dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2-3:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 3)
C. HIKMAH DAN KEUTAMAAN DI BALIK UJIAN HIDUP MENURUT HADITS
Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya menjelaskan keutamaan besar yang diperoleh seorang mukmin yang menghadapi ujian dengan kesabaran dan keimanan.
Berikut adalah beberapa hadis yang menjelaskan hal tersebut:
1. UJIAN SEBAGAI TANDA KECINTAAN ALLAH
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Dari Anas bin Malik RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.'” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan bahwa ujian yang menimpa seorang mukmin justru merupakan indikasi kecintaan Allah kepadanya. Semakin besar ujian, semakin besar pula balasan yang disediakan.
2. UJIAN HIDUP SEBAGAI PENGHAPUS DOSA
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: ‘Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu keletihan, penyakit, kehawatiran, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, hingga duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.'” (HR. Bukhari Muslim)
Setiap musibah, sekecil apapun, berfungsi sebagai penghapus dosa-dosa yang telah lalu. Ini merupakan rahmat besar dari Allah SWT.
3. UJIAN HIDUP SEBAGAI PENGANGKAT DERAJAT
Rasulullah SAW juga bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُشَاكُ بِشَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَكُفِّرَ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ
“Dari Aisyah RA, ia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang mukmin tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan karenanya dituliskan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan.'” (HR. Ahmad)
Bagi mereka yang telah bersih dari dosa, ujian berfungsi untuk meninggikan derajatnya di sisi Allah.
4. KEAJAIBAN URUSAN SEORANG MUKMIN
Hadits yang sangat fundamental dalam menyikapi ujian adalah sabda Rasulullah SAW:
عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Dari Shuhaib, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.'” (HR. Muslim)
Hadits ini menjadi landasan utama bahwa kunci menghadapi ujian ada pada dua sikap: sabar ketika ditimpa kesulitan dan syukur ketika mendapatkan kenikmatan.
D. CARA MENGAMBIL HIKMAH DAN PELAJARAN DARI SETIAP UJIAN
Berdasarkan dalil-dalil di atas, terdapat beberapa cara konkret yang dapat diterapkan seorang Muslim untuk mengambil hikmah dari setiap ujian yang dialaminya:
1. MENYADARI UJIAN SEBAGAI SUNNATULLAH
Langkah pertama adalah meyakini bahwa ujian adalah ketetapan Allah yang pasti terjadi. Dengan kesadaran ini, seseorang tidak akan merasa “dihukum” atau “dianiaya” ketika musibah datang. Ujian justru dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan Ilahi.
2. BERSABAR DENGAN KESABARAN YANG HAKIKI
Sabar (الصبر) dalam terminologi Islam berarti menahan diri dari keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota badan dari perilaku yang tidak sesuai syariat ketika ditimpa musibah. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, bersiaplah (di perbatasan), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 100)
3. BERSYUKUR DALAM SEGALA KEADAAN
Syukur tidak hanya diucapkan ketika mendapatkan nikmat, tetapi juga ketika menghadapi ujian. Seseorang dapat bersyukur karena ujian yang dialaminya masih lebih ringan dibandingkan ujian orang lain, atau karena ujian tersebut menjadi penghapus dosa-dosanya.
4. MEMPERBANYAK DOA DAN ZIKIR
Doa adalah senjata orang beriman. Dalam menghadapi ujian, doa menjadi sarana untuk memohon kekuatan, kesabaran, dan jalan keluar. Allah SWT berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'” (QS. Al-Ghafir: 60)
Sementara itu, zikir dapat menenangkan hati sebagaimana firman Allah:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
5. BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Tawakal adalah bersandar sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal, sebagaimana sabdanya: “Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.” Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. Ath-Thalaq: 3)
6. MELIHAT KE BAWAH SAAT DITIMPA MUSIBAH
Rasulullah SAW mengajarkan untuk melihat orang yang berada dalam kondisi lebih sulit ketika ditimpa musibah. Sabda beliau:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia), dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu.” (HR. Tirmidzi dan Muslim)
E. TINGKATAN UJIAN MENURUT PARA ULAMA’
Para ulama membagi ujian menjadi beberapa tingkatan berdasarkan maqashid atau tujuannya:
1. UJIAN UNTUK MEMBERSIHKAN DOSA
Jenis ujian ini diberikan karena adanya dosa-dosa yang telah diperbuat. Allah menghendaki agar hamba-Nya dibersihkan di dunia, tidak menumpuk dosa untuk diadzab di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, Dia akan menyegerakan hukumannya di dunia.” (HR. Tirmidzi)
2. UJIAN UNTUK MENINGGIKAN DERAJAT
Jenis ini diberikan kepada orang-orang saleh yang ingin ditinggikan derajatnya oleh Allah. Meskipun mereka tidak memiliki dosa yang perlu dihapus, Allah tetap menguji mereka agar naik ke tingkatan yang lebih tinggi.
3. UJIAN UNTUK MEMURNIKAN KEIMANAN
Jenis ujian ini bertujuan untuk membedakan antara orang yang benar imannya dengan orang yang dusta dalam pengakuan imannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2-3 di atas.
4. TINGKATAN UJIAN SESUAI KUALITAS IMAN
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tingkat ujian seseorang sesuai dengan kadar agamanya. Beliau bersabda:
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ»
“Dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, ia berkata: Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?’ Beliau menjawab: ‘Para nabi, kemudian orang-orang yang semisal, kemudian yang semisal lagi. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya.'” (HR. Tirmidzi)
Ini berarti semakin kuat dan kokoh iman seseorang, semakin berat pula ujian yang akan dihadapinya. Hal ini karena Allah ingin meninggikan derajatnya.
F. PANDANGAN FIQIH EMPAT MADZHAB TENTANG SIKAP MENGHADAPI UJIAN
Para fuqaha dari empat madzhab memiliki pandangan yang selaras mengenai sikap yang harus diambil seorang Muslim dalam menghadapi ujian, meskipun dengan penekanan yang berbeda-beda sesuai konteks masing-masing madzhab.
1. MADZHAB HANAFI
Imam Abu Hanifah dan pengikutnya menekankan pentingnya sabar sebagai kewajiban moral ketika ditimpa musibah. Dalam perspektif madzhab Hanafi, kesabaran dalam menghadapi ujian termasuk dalam kategori wajib (fardhu ‘ain) karena merupakan perintah langsung Allah dalam Al-Qur’an. Madzhab ini juga mengajarkan bahwa keluhan terhadap Allah atas takdir-Nya dapat mengurangi pahala, meskipun keluhan kepada sesama manusia karena kepedihan diperbolehkan sebatas kewajaran.
2. MADZHAB MALIKI
Imam Malik bin Anas lebih menekankan aspek ridha (kerelaan) dalam menghadapi ujian. Menurut madzhab Maliki, tingkatan tertinggi dalam menyikapi musibah adalah ridha, yaitu menerima ketentuan Allah dengan lapang dada tanpa ada perasaan terpaksa. Derajat di bawahnya adalah sabar, yaitu menahan diri dari keluhan meskipun hati masih terasa berat. Madzhab Maliki mengajarkan bahwa orang yang ridha akan mendapatkan pahala yang lebih besar daripada orang yang hanya sabar.
3. MADZHAB SYAFI’I
Imam Syafi’i membagi sikap menghadapi ujian ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan kondisi seseorang:
Tingkatan Sikap Keterangan
Pertama Sabar Wajib bagi setiap Muslim yang ditimpa musibah
Kedua Syukur Dianjurkan bagi yang mendapatkan nikmat
Ketiga Ridha Tingkatan sunnah yang sangat dianjurkan
Keempat Tawakal Wajib setelah melakukan ikhtiar
Madzhab Syafi’i juga mengajarkan bahwa seseorang yang ditimpa musibah boleh menunjukkan kesedihannya, asalkan tidak disertai dengan keluhan yang mengandung ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
4. MADZHAB HANBALI
Imam Ahmad bin Hambal memberikan perhatian khusus pada aspek doa dalam menghadapi ujian. Menurut madzhab Hambali, doa ketika ditimpa musibah adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan, karena menunjukkan ketergantungan mutlak seorang hamba kepada Allah. Madzhab Hambali juga mengajarkan bahwa seseorang yang diuji dianjurkan untuk membaca doa-doa ma’tsur (doa yang diajarkan Rasulullah), seperti:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku dalam musibahku, dan gantilah untukku dengan yang lebih baik daripadanya.”
G. IMPLEMENTASI PRAKTIS: CARA MENJADIKAN UJIAN HIDUP SEBAGAI PELAJARAN
Berdasarkan perspektif di atas, berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk mengambil pelajaran dari setiap ujian:
1. INTROSPEKSI DIRI (MUHASABAH)
Ujian harus menjadi momentum untuk melihat ke dalam diri. Apa yang kurang dalam ibadah kita? Di mana kita telah melanggar perintah Allah? Allah SWT berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
2. MENINGKATKAN KUALITAS IBADAH
Ujian harus menjadi pendorong untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauh. Perbanyak shalat, puasa sunnah, sedekah, dan amalan-amalan lain yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
3. BELAJAR DARI PENGALAMAN ORANG LAIN
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu yang menghadapi ujian berat. Surah Al-Baqarah ayat 214 menjelaskan bagaimana umat-umat sebelumnya diguncang dengan berbagai cobaan berat sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan Allah.
4. MENJADIKAN UJIAN HIDUP SEBAGAI SARANA DAKWAH
Pengalaman pribadi dalam menghadapi ujian dapat menjadi inspirasi bagi orang lain yang sedang mengalami kesulitan serupa. Ceritakan bagaimana Allah memberikan kekuatan, jalan keluar, dan hikmah di balik ujian tersebut.
5. MENCATAT HIKMAH YANG DITEMUKAN
Setiap ujian pasti mengandung hikmah. Biasakan diri untuk mencatat pelajaran-pelajaran berharga yang didapat dari setiap musibah, sehingga dapat menjadi bekal di masa depan.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ujian hidup dalam perspektif Islam bukanlah bentuk hukuman atau kemurkaan Allah, melainkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang beriman. Ujian berfungsi sebagai pembersih dosa, pengangkat derajat, dan pemurni keimanan.
Cara mengambil hikmah dari setiap ujian meliputi: menyadari ujian sebagai sunnatullah, bersabar dengan kesabaran hakiki, bersyukur dalam segala keadaan, memperbanyak doa dan zikir, bertawakal kepada Allah, serta melihat kepada mereka yang berada dalam kondisi lebih sulit.
Para ulama empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) memiliki pandangan yang selaras tentang pentingnya sikap sabar, syukur, ridha, dan tawakal dalam menghadapi ujian, meskipun dengan penekanan yang berbeda sesuai dengan kerangka ushul fiqh masing-masing.
Pada akhirnya, ujian adalah cara Allah SWT untuk mendidik hamba-Nya agar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya. Setiap air mata yang jatuh saat berdoa dalam kesulitan, setiap kesabaran yang diupayakan di tengah kepedihan, akan menjadi cahaya penerang jalan menuju kebahagiaan hakiki di sisi-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur’an Al-Karim
- Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
- Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Ayat: Tafsir Arsyurrahman. Jakarta: Pustaka Asyraf International. 2017.
- Al-Husaini, Shohibul Faroji Al-Azhmatkhan, Tafsir Surat: Tafsir Midadurrahman. Jakarta: Pustaka Asyraf International. 2017.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi.
- Muslim, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
