SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Cara Orang Hutan Hidup Di Kota

Cara Orang Hutan Hidup Di Kota

Cara Orang Hutan Hidup Di Kota
Cara Orang Hutan Hidup Di Kota

 

SURAU.CO – ABSTRAK: Makalah ini membongkar hakikat demokrasi sebagai sistem yang lahir dari 𝗳𝗮𝗹𝘀𝗮𝗳𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗵𝗶𝗹𝗶𝘆𝗮𝗵 𝗬𝘂𝗻𝗮𝗻𝗶 𝗸𝘂𝗻𝗼 dan membawa 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗼𝗹𝗮 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗹𝗶𝗮𝗿 yaitu kehidupan tanpa wahyu dan tanpa kendali akal yang tunduk kepada Allah.

Demokrasi dianggap sebagai simbol peradaban modern, padahal secara hakikat ia menolak hukum Allah dan menjadikan manusia sebagai sumber hukum.

Tulisan ini mengurai akar sejarah, falsafah pemikiran, serta tinjauan syar’i terhadap demokrasi sebagai bentuk perlawanan terhadap tauhid al-ḥākimiyyah (pengesaan Allah dalam penetapan hukum).

Kata Kunci: Demokrasi, Jahiliyah, Wahyu, Akal, Tauhid, Filsafat Yunani, Peradaban.

Mendidik Antara Kelembutan Dan Ketegasan: Menemukan Keseimbangan dalam Membentuk Generasi Berakhlak

𝗣𝗘𝗡𝗗𝗔𝗛𝗨𝗟𝗨𝗔𝗡

Dalam dunia modern, demokrasi dijadikan standar peradaban. Negara yang menolak demokrasi dianggap tertinggal, sedangkan yang mengadopsinya dianggap maju dan beradab.

Namun, ketika nilai-nilai demokrasi diselami secara mendasar, ternyata di dalamnya terkandung pemikiran sekuler dan hedonistik yang menafikan Allah sebagai sumber hukum dan kebenaran.

Demokrasi adalah bentuk modern dari kehidupan tanpa wahyu — 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗵𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗱𝗶 𝗸𝗼𝘁𝗮.

Berpakaian indah, berpendidikan tinggi, dan hidup di lingkungan modern, namun tetap mengikuti naluri, hawa nafsu, dan kesepakatan liar manusia sebagai hukum tertinggi.

𝗔𝗦𝗔𝗟-𝗨𝗦𝗨𝗟 𝗗𝗔𝗡 𝗙𝗜𝗟𝗦𝗔𝗙𝗔𝗛 𝗗𝗘𝗠𝗢𝗞𝗥𝗔𝗦𝗜

Secara sejarah, demokrasi lahir dari filsafat Yunani kuno, tepatnya dari masa polis (negara kota) seperti Athena.
Filsafat ini berakar pada pemikiran para filosof seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang mengajarkan bahwa kebenaran dapat ditentukan melalui nalar manusia dan kesepakatan bersama.

Alhamdulillah

Inilah awal munculnya prinsip bahwa:

“Kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat.”

Padahal dalam Islam, kedaulatan tertinggi hanya milik Allah:

“𝗜𝗻𝗶𝗹 𝗵̣𝘂𝗸𝗺𝘂 𝗶𝗹𝗹𝗮̄ 𝗹𝗶𝗹𝗹𝗮̄𝗵.” “𝗠𝗲𝗻𝗲𝘁𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗵𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗶𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.” (QS. Yusuf: 40)

Dengan demikian, demokrasi adalah 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘩𝘪𝘭𝘪𝘺𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘢-𝘸𝘢𝘩𝘺𝘶,, di mana manusia menjadi pengatur manusia 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘯𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘭𝘢𝘩𝘪.

Ambang Batas Parlemen Lima Persen

𝗣𝗢𝗟𝗔 𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗟𝗔𝗠 𝗗𝗘𝗠𝗢𝗞𝗥𝗔𝗦𝗜 𝗠𝗢𝗗𝗘𝗥𝗡

𝗮. 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗪𝗮𝗵𝘆𝘂, 𝗔𝗸𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗟𝗶𝗮𝗿

Orang hutan bertindak berdasarkan naluri — tanpa bimbingan ilmu dan aturan.
Begitu pula demokrasi: ia menjadikan hawa nafsu mayoritas sebagai dasar hukum.
Segala sesuatu diukur bukan dari benar atau salah menurut Allah, tetapi disetujui atau tidak oleh manusia.

𝗯. 𝗣𝗿𝗶𝗺𝗶𝘁𝗶𝗳 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗠𝗼𝗿𝗮𝗹, 𝗠𝗼𝗱𝗲𝗿𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗕𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸

Manusia modern tampak beradab secara fisik, namun primitif dalam akhlak.

𝗭𝗶𝗻𝗮 dilegalkan, disebut hak asasi.

𝗥𝗶𝗯𝗮 dilegalkan, disebut ekonomi.

𝗞𝗲𝗸𝘂𝗳𝘂𝗿𝗮𝗻 dilindungi, disebut kebebasan berpendapat.

𝗣𝗲𝗻𝗶𝗻𝗱𝗮𝘀𝗮𝗻 dan 𝗸𝗼𝗿𝘂𝗽𝘀𝗶 dianggap lumrah.

𝙄𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙤𝙡𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙧𝙞𝙢𝙗𝙖: 𝙠𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙙𝙖𝙨 𝙡𝙚𝙢𝙖𝙝, 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙩𝙪𝙣𝙙𝙪𝙠 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙮𝙖𝙝𝙬𝙖𝙩.

𝗰. 𝗞𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗙𝗶𝘁𝗿𝗮𝗵

Demokrasi menolak fitrah manusia yang tunduk kepada Penciptanya.
Ketika manusia mengganti hukum Allah dengan buatan sendiri, mereka turun derajat dari makhluk berakal jadi liar.
𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘢𝘯, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.

𝗣𝗔𝗡𝗗𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗦𝗬𝗔𝗥’𝗜 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗗𝗘𝗠𝗢𝗞𝗥𝗔𝗦𝗜

Para ulama Islam sejak dahulu telah menegaskan bahwa demokrasi bukan sistem Islam, karena ia menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh

“Barang siapa menjadikan hukum selain dari apa yang Allah turunkan, maka ia telah menjadikan tandingan bagi Allah dalam rububiyyah.”

Syaikh Al-Albani

“Demokrasi adalah sistem kufur, karena menjadikan manusia sebagai hakim atas manusia lain, bukan Allah.”

Sayyid Quthb

“Demokrasi adalah bentuk lain dari taghut — manusia yang ingin menjadi tuhan bagi manusia lain.”

Maka dari tinjauan syar’i, demokrasi adalah sistem kufur dan jahiliyah modern.
Ia memisahkan agama dari hukum, dan menjadikan kebenaran tunduk pada mayoritas, bukan pada wahyu.

𝗔𝗞𝗜𝗕𝗔𝗧 𝗗𝗘𝗠𝗢𝗞𝗥𝗔𝗦𝗜 𝗕𝗔𝗚𝗜 𝗨𝗠𝗔𝗧 𝗜𝗦𝗟𝗔𝗠

  1. 𝗞𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗶𝗱𝗮𝗵:
    Umat mulai meyakini bahwa manusia berhak membuat hukum, menggantikan Allah.

  2. 𝗞𝗲𝗸𝗮𝗰𝗮𝘂𝗮𝗻 𝗠𝗼𝗿𝗮𝗹:
    Mereka menganggap dosa sebagai hak pribadi; mereka menormalisasi aurat, zina, dan maksiat.

  3. 𝗣𝗲𝗿𝗽𝗲𝗰𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸:
    Umat Islam terbelah menjadi partai-partai yang saling berebut kekuasaan.

  4. 𝗛𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗞𝗲𝗱𝗮𝘂𝗹𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁:
    Hukum Allah hanya menjadi simbol, bukan pedoman nyata dalam pemerintahan.

𝗦𝗘𝗥𝗨𝗔𝗡 𝗧𝗔𝗨𝗛𝗜𝗗 𝗗𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗕𝗔𝗡𝗚𝗞𝗜𝗧𝗔𝗡

Wahai umat Islam, jangan biarkan pola hidup orang hutan ini mengatur kota-kota kita. Bangunlah kembali peradaban wahyu, di mana akal menundukkan diri pada syariat, dan iman mengendalikan nafsu.

Kita tidak mengukur peradaban dari gedung dan teknologi, melainkan dari ketaatan kepada Allah dan keadilan hukum-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki?
Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(QS. Al-Māidah: 50)

𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡

Demokrasi bukanlah tanda kemajuan, tetapi 𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗮𝗿𝘂 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗯𝗼𝗱𝗼𝗵𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗺𝗮.
Ia adalah sistem yang lahir dari falsafah Yunani yang menolak wahyu dan menjadikan manusia sebagai pusat hukum.
Inilah sebabnya demokrasi berubah menjadi cara orang hutan liar hidup di kota, di mana peradaban kehilangan ruh, hukum kehilangan iman, dan kebebasan kehilangan batas.

𝗛𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿-𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗹, 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯, 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻.

𝙏𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙨𝙮𝙖𝙧𝙞𝙖𝙩, 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙢𝙤𝙙𝙚𝙧𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙥𝙪-𝙡𝙖𝙢𝙥𝙪 𝙩𝙚𝙠𝙣𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙞𝙡𝙪𝙨𝙞, 𝙣𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙜𝙚𝙡𝙖𝙥 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙘𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙞𝙢𝙖𝙣.

𝗗𝗔𝗙𝗧𝗔𝗥 𝗣𝗨𝗦𝗧𝗔𝗞𝗔

  1. Al-Qur’an Al-Karim.
  2. Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an.
  3. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Tahkim al-Qawanin al-Wad’iyyah.
  4. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tahdzir asy-Syabāb min Fitnatid Demokratiyyah.
  5. Abul A’la al-Maududi, Al-Hukumat al-Islamiyyah.
  6. Ibn Taimiyyah, As-Siyasah Asy-Syar’iyyah.

Tugas Setiap Muslim:

  1. Sebarkan ilmu ini di majelis, masjid, sekolah, dan ruang digital.
    Jangan biarkan dirimu diam ketika kebenaran tergantikan oleh opini mayoritas.

  2. Bangunkan hati umat dari tidur panjang modernitas palsu.
    Katakan: “Hanya Allah yang berhak membuat hukum!”

  3. Bersatulah di atas tauhid dan syariat, bukan di atas demokrasi dan partai.

  4. Jadilah suara wahyu di tengah kebisingan dunia yang memuja kebebasan.

𝗜𝗻𝗴𝗮𝘁𝗹𝗮𝗵 𝗙𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵:

“𝗕𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗵𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝘁𝘂𝗿𝘂𝗻𝗸𝗮𝗻, 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗶𝘁𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴-𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗮𝗳𝗶𝗿.” (QS. Al-Ma’idah: 44)

Dan sabda Rasulullah ﷺ:

“𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗸𝘂 𝘄𝗮𝗹𝗮𝘂 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗮𝘆𝗮𝘁.” (HR. Bukhari)

𝗚𝗲𝗿𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵 𝗜𝗻𝗶

Sebarkan tulisan dan poster ini di:

Setiap grup dakwah dan komunitas
Majelis ilmu dan khutbah Jumat
Media sosial dan kanal pendidikan umat

Jadikan ini bagian dari jihad intelektualmu membuka mata umat agar tidak tertipu sistem kufur yang menyingkirkan Allah dari kehidupan.

𝗣𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘄𝗮𝗵𝘆𝘂, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘀𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮.
𝗠𝗮𝗸𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗶𝗹𝗺𝘂, 𝗮𝗱𝗮𝗯, 𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻.
𝗕𝗶𝗮𝗿 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝘁𝗮𝗵𝘂: 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮.

𝙂𝙚𝙧𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙠𝙮𝙖𝙩 𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙩𝙪 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙣𝙩𝙖𝙨 𝙃𝘼𝙈𝘼 𝙋𝙊𝙇𝙄𝙏𝙄𝙆 𝘿𝙚𝙢𝙤𝙠𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙎𝙚𝙠𝙪𝙡𝙚𝙧 𝙬𝙖𝙧𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙋𝘼𝙂𝘼𝙉 𝙔𝙪𝙣𝙖𝙣𝙞 𝙆𝙐𝙉𝙊

Islam — Sumber Ilmu Pengetahuan dan Cahaya Akhir Zaman. (Rahmat Daily)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.