Sosok
Beranda » Berita » Bung Tomo: Sang Pengobar Semangat 10 November

Bung Tomo: Sang Pengobar Semangat 10 November

SURAU.CO. Suara itu menggema dari balik radio: lantang, serak, namun membakar jiwa. “Allahu Akbar!” seru Bung Tomo. Ia mengobarkan semangat rakyat Surabaya melawan penjajah November 1945. Bung Tomo bukan jenderal berseragam. Ia pemuda biasa yang percaya kemerdekaan harus dijaga. Dengan darah dan keyakinan.

Dari podium sederhana, Bung Tomo menyalakan api perjuangan. Api itu menembus batas ketakutan hingga suaranya menjadi simbol keberanian dan keimanan. Ia menggerakkan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Kini, setiap 10 November, gema suaranya masih terasa. Ini mengingatkan bangsa, kemerdekaan bukan hadiah. Melainkan hasil pengorbanan tanpa pamrih.

Identitas Bung Tomo

Nama Lengkap: Sutomo

KH. Abdullah Umar Al-Hafidz: Sosok Ulama Penjaga Al-Qur’an dari Semarang

Nama Populer: Bung Tomo

Lahir: Kampung Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920

Ayah: Kartawan Tjiptowidjojo

Ibu: Subastita (Siti Habibah)

Istri: Sulistina Sutomo

Menggali Peran Pemuda dalam Riyadus Shalihin: Menjadi Agen Perubahan Sejati

Anak: Tin Sulistami, Bambang Sulistomo, Sri Sulistami, Ratna Sulistami

Wafat: 7 Oktober 1981, Padang Arafah, Arab Saudi

Dimakamkan: TPU Ngagel, Surabaya

Gelar: Pahlawan Nasional (Keppres No. 041/TK/2008, 10 November 2008)

Masa Kecil dan Fondasi Keluarga

Bung Tomo lahir 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya. Ia adalah anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, Kartawan Tjiptowidjojo, pegawai pemerintah Hindia Belanda. Ia juga pernah bekerja di perusahaan swasta dan ekspor-impor. Kartawan merupakan priyayi berpikiran maju dan memiliki hubungan darah dengan Pejuang Perang Jawa, Pangeran Diponegoro.

Pendidikan Adab Sebelum Ilmu: Menggali Pesan Tersirat Imam Nawawi

Ibunya, Subastita, berdarah campuran Jawa, Sunda, dan Madura. Ia perempuan tangguh dan salehah. Ia menanamkan nilai-nilai keislaman dalam keluarga. Dari lingkungan keluarga inilah, semangat religius dan nasionalis Bung Tomo tumbuh kuat sejak kecil.

Pendidikan dan Perjalanan Remaja

Sutomo menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surabaya. Namun, krisis ekonomi akibat Depresi Besar memaksa Sutomo berhenti sekolah. Ia berhenti pada usia 12 tahun untuk membantu keluarga.

Meski tak menamatkan sekolah formal, Sutomo haus ilmu. Ia belajar otodidak. Ia sempat mengikuti pendidikan jarak jauh di Hogere Burgerschool (HBS). Di usia 17 tahun, ia aktif di Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Ia menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang meraih peringkat Pramuka Garuda. Ini prestasi langka di masa itu.

Kiprah Awal: Jurnalis dan Aktivis Progresif

Sebelum terjun ke perjuangan bersenjata, Bung Tomo aktif di dunia jurnalistik. Ia menjadi wartawan lepas di Harian Soeara Oemoem (1937). Ia juga redaktur di Mingguan Pembela Rakyat (1939). Sutomo juga menulis di majalah Poestaka Timoer dan Ekspres. Melalui pers, ia belajar berbicara lantang dan berpikir kritis.

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), Bung Tomo bergabung dengan Gerakan Rakyat Baru dan Pemuda Republik Indonesia. Dari sini, ia mulai dikenal sebagai tokoh muda vokal. Ia membela rakyat. Bung Tomo memperoleh akses ke siaran radio. Media ini kelak menjadi senjata utama perjuangannya di Surabaya.

Puncak Perjuangan: Pertempuran Surabaya 1945

Peran terbesar Bung Tomo terlihat dalam Pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Ini kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Setelah Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari 22 Oktober 1945, rakyat Surabaya bersiap menghadapi pasukan Sekutu dan NICA. Dan mereka ingin mengembalikan kekuasaan Belanda.

Bung Tomo memimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) sejak 12 Oktober 1945. Melalui siaran radio, ia menyampaikan orasi menggugah semangat rakyat:

“Allahu Akbar! Selama bangsa Indonesia masih punya darah merah, yang dapat membuat selembar kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapa pun juga!”

Suaranya membakar semangat ribuan rakyat dan santri. Mereka mempertahankan kemerdekaan. Meskipun Surabaya akhirnya jatuh secara militer, namun demikian perjuangan itu menjadi simbol keberanian dan menjadi titik balik lahirnya nasionalisme di seluruh nusantara.

Akhir Hayat Bung Tomo

Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981, di Padang Arafah, ketika tengah menunaikan ibadah haji. Kepergiannya di Tanah Suci menjadi simbol penutup kehidupan seorang pejuang yang selalu menjunjung tinggi nilai keimanan dan kebangsaan. Sesuai dengan wasiatnya, jenazah Bung Tomo tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya—kota yang menjadi saksi perjuangan dan suara takbirnya menggema.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, penghargaan atas jasanya akhirnya mendapatkan pengakuan resmi dari negara. Pada 10 November 2008, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Tomo melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/2008. Dalam upacara khidmat di Istana Merdeka, penghargaan itu diterima langsung oleh istrinya, Ny. Sulistina Sutomo, sebagai bentuk penghormatan bangsa kepada sosok yang telah membakar semangat kemerdekaan dari Surabaya. (kareemustofa)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

× Advertisement
× Advertisement