SURAU.CO – Fazlur Rahman menempati posisi sangat krusial dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer. Sebagai akademisi Universitas Chicago, intelektual asal Pakistan ini secara kritis mendekonstruksi pemahaman tradisional yang statis. Melalui konsep ijtihad yang dinamis, Fazlur Rahman berupaya menjembatani jurang antara teks suci Al-Qur’an dengan realitas sosiologis zaman modern.
Latar Belakang dan Akar Intelektual Fazlur Rahman
Fazlur Rahman lahir pada 21 September 1919 di distrik Hazara, wilayah yang kini menjadi bagian dari Pakistan. Tumbuh dalam keluarga yang memegang teguh mazhab Hanafi, Rahman tidak lantas menjadi pemikir yang sempit. Ayahnya, Maulana Syahab al-Din, adalah seorang ulama tradisional yang justru mendorong Rahman untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan pondasi keislaman.
Perpaduan antara tradisi dan modernitas ini menjadi ciri khas Rahman. Di usia muda, ia telah menghafal Al-Qur’an dan menguasai berbagai bahasa klasik seperti Arab dan Persia. Namun, dahaga intelektualnya membawa ia melintasi batas benua. Ia menempuh pendidikan di Universitas Punjab sebelum akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Oxford, Inggris, dengan disertasi mengenai psikologi Ibnu Sina.
Misi Pembaruan di Pakistan dan Tantangan Konservatisme
Sekembalinya ke Pakistan pada awal 1960-an atas undangan Presiden Ayub Khan, Fazlur Rahman diamanahi posisi strategis sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. Di sinilah ia mulai mencoba mengimplementasikan visinya tentang negara Islam yang modern. Rahman percaya bahwa Islam harus menjadi kekuatan progresif yang mampu menjawab tantangan hukum, ekonomi, dan sosial.
Namun, langkahnya tidak berjalan mulus. Pemikiran-pemikirannya yang dituangkan dalam buku Islam (1966) memicu gelombang protes dari kalangan ulama konservatif. Mereka menganggap penafsiran Rahman terhadap wahyu dan sunnah terlalu liberal dan membahayakan akidah. Tekanan politik dan massa yang begitu kuat akhirnya memaksa Rahman untuk meninggalkan tanah airnya dan memilih jalan hijrah intelektual ke Amerika Serikat.
Teologi di Chicago: Metode Double Movement
Di Universitas Chicago, Fazlur Rahman menemukan kebebasan akademik untuk menyempurnakan metodologinya. Di sinilah lahir teori “Double Movement” atau Gerakan Ganda yang sangat fenomenal dalam studi hermeneutika Al-Qur’an.
Menurut Rahman, memahami Al-Qur’an tidak bisa dilakukan secara harfiah-tekstual semata. Proses penafsiran harus melalui dua tahap:
-
Langkah Pertama: Penafsir harus berangkat dari situasi sekarang menuju masa saat Al-Qur’an diturunkan. Tujuannya adalah untuk memahami makna kontekstual dan prinsip moral (ideal moral) di balik ayat tersebut.
-
Langkah Kedua: Setelah menemukan prinsip abadi tersebut, penafsir membawanya kembali ke masa kini untuk diaplikasikan sesuai dengan kondisi sosiologis saat ini.
Dengan metode ini, ijtihad tidak lagi sekadar mencari analogi hukum (qiyas), melainkan sebuah upaya kreatif untuk menghidupkan kembali ruh Al-Qur’an dalam setiap zaman.
Pendidikan Islam: Integrasi Ilmu dan Iman
Salah satu fokus utama pemikiran Fazlur Rahman adalah kritik terhadap dikotomi pendidikan di dunia Muslim. Ia melihat adanya pemisahan yang tajam antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Baginya, dualisme ini adalah penyebab utama kemunduran umat Islam.
Rahman mengusulkan integrasi kurikulum. Ilmu pengetahuan modern seperti sosiologi, psikologi, dan sains tidak boleh dipandang sebagai entitas luar yang sekuler, melainkan sebagai alat untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Tuhan dan sarana untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Pendidikan Islam, menurutnya, harus melahirkan individu yang kritis, kreatif, dan memiliki kesadaran moral yang tinggi.
Pengaruh Fazlur Rahman bagi Indonesia
Menariknya, meskipun Rahman menghabiskan kariernya di Barat, pengaruhnya justru sangat terasa di Indonesia. Tokoh-tokoh besar seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Ahmad Syafii Maarif adalah murid langsung Rahman di Chicago. Mereka membawa pulang semangat modernisme neosantri yang kemudian mewarnai corak pemikiran Islam moderat di Indonesia.
Melalui murid-muridnya, gagasan Rahman tentang toleransi dan substansi agama menjadi arus utama pembaruan Islam di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa ijtihad Rahman tidak berhenti di ruang kelas Chicago, melainkan berakar di jantung masyarakat Muslim terbesar di dunia.
Kritik dan Warisan Intelektual
Meskipun banyak orang mengecapnya sebagai sosok ‘modernis’ atau bahkan ‘liberal’, Fazlur Rahman selalu menegaskan kesetiaannya sebagai seorang Muslim terhadap pesan Al-Qur’an. Melalui kritiknya terhadap tradisi, ia tidak berniat meruntuhkan Islam, melainkan ingin membersihkan agama ini dari debu-debu sejarah yang menurutnya menghambat kemajuan.
Ia wafat pada 26 Juli 1988 di Chicago, namun warisan intelektualnya tetap hidup. Karya-karyanya seperti Major Themes of the Qur’an dan Islam and Modernity tetap menjadi rujukan wajib bagi siapa saja yang ingin mempelajari bagaimana Islam berdialog dengan modernitas.
Pentingnya Ijtihad yang Berkelanjutan
Kisah hidup Fazlur Rahman adalah pengingat bahwa ijtihad membutuhkan keberanian intelektual dan kejujuran spiritual. Di tengah dunia yang terus berubah, umat Islam dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen sejarah, tetapi juga menjadi produsen pemikiran.
Dengan memahami metodologi Rahman, kita belajar bahwa Islam adalah agama yang dinamis. Prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan dalam Al-Qur’an bersifat abadi, namun cara kita mengaktualisasikannya harus terus diperbarui melalui pintu ijtihad yang tidak boleh tertutup.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
