SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Mengapa Kita Sulit Bahagia? Simak Jawaban Bijak dari Kitab Al-Hikam

Mengapa Kita Sulit Bahagia? Simak Jawaban Bijak dari Kitab Al-Hikam

Banyak orang mengejar kesuksesan demi meraih kebahagiaan. Mereka bekerja keras siang dan malam untuk mengumpulkan harta. Namun, banyak dari mereka justru merasa hampa dan gelisah. Mengapa fenomena ini sering terjadi dalam kehidupan modern kita?

Kitab Al-Hikam memberikan jawaban yang sangat mendalam. Karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari ini menjadi rujukan utama ilmu tasawuf. Kitab ini menjelaskan akar masalah ketidakbahagiaan manusia. Mari kita bedah penyebab utamanya berdasarkan hikmah-hikmah dalam kitab tersebut.

1. Terlalu Sibuk Mengatur Hasil (Tadbir)

Salah satu penyebab utama kegelisahan adalah keinginan mengontrol segalanya. Kita sering merasa paling tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri. Syekh Ibnu Atha’illah memberikan nasihat yang sangat populer dalam kutipan berikut:

“Istirahatkan dirimu dari tadbir (mengatur urusanmu sendiri). Apa yang sudah dilakukan oleh selainmu (Allah) untuk kepentinganmu, janganlah engkau turut menyibukkan dirimu untuk memikirkannya.”

Kalimat ini mengajarkan kita untuk tidak melampaui batas. Kita wajib berikhtiar dengan maksimal. Namun, kita tidak boleh mendikte hasil akhir menurut keinginan nafsu. Keinginan mengontrol hasil inilah yang menciptakan beban mental. Kita merasa stres saat kenyataan tidak sesuai ekspektasi.

Rahasia Khusyuk dalam Salat: Warisan Ilmu dari Imam An-Nawawi

2. Salah Menaruh Harapan pada Makhluk

Manusia sering kali mencari validasi dan kebahagiaan dari sesama manusia. Kita berharap orang lain memberikan pujian atau imbalan. Sayangnya, makhluk memiliki sifat yang lemah dan berubah-ubah. Kitab Al-Hikam mengingatkan kita tentang sifat dunia ini:

“Apabila engkau ingin pintu harapanmu terbuka luas, maka lihatlah apa yang datang dari Allah kepadamu. Dan apabila engkau ingin pintu takutmu terbuka, maka lihatlah apa yang datang darimu untuk Allah.”

Kekecewaan muncul karena kita bersandar pada sesuatu yang fana. Dunia ini hanyalah jembatan, bukan tujuan akhir yang abadi. Jika kita berharap pada manusia, kita pasti akan menemui rasa sakit hati. Kebahagiaan sejati hanya muncul saat hati terpaut pada Sang Pencipta.

3. Kurangnya Rasa Syukur pada Waktu Sekarang

Kita sering menunda bahagia sampai tujuan tertentu tercapai. Kita berpikir akan bahagia setelah membeli rumah atau naik jabatan. Pola pikir ini membuat kita mengabaikan nikmat yang ada sekarang. Syekh Ibnu Atha’illah menekankan pentingnya mengenal Allah dalam setiap kondisi.

Kegagalan melihat nikmat saat ini membuat hati menjadi buta. Padahal, Allah memberikan karunia-Nya setiap detik. Orang yang sulit bahagia biasanya selalu menatap apa yang belum mereka miliki. Mereka lupa mensyukuri apa yang sudah berada di genggaman tangan.

Meneladani Sifat Pemaaf Buya Hamka: Tetap Mencintai Meski Pernah Dizalimi

4. Terlalu Mencintai Dunia (Hubbud Dunya)

Dunia memiliki sifat yang menipu dan cepat berubah. Jika kita mencintai dunia secara berlebihan, hati akan terus merasa haus. Hati tidak akan pernah merasa puas dengan pencapaian materi apa pun. Dalam Al-Hikam disebutkan:

“Janganlah engkau menuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu. Namun, tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah.”

Cinta dunia membuat kita lupa akan etika kepada Tuhan. Kita sering menuntut hak tetapi melalaikan kewajiban sebagai hamba. Ketidakseimbangan ini merusak kedamaian batin manusia. Hati yang penuh ambisi duniawi tidak akan menyisakan ruang untuk ketenangan.

5. Mengabaikan Ketenangan Hati

Banyak orang menyangka bahagia itu berasal dari luar diri. Padahal, kebahagiaan merupakan kondisi batin yang stabil. Al-Hikam mengajarkan kita untuk menjaga fokus pada Allah (Wushul). Orang yang mengenal Allah akan tetap tenang meski badai kehidupan datang.

Ketenangan hati muncul saat kita menerima takdir dengan lapang dada. Kita memahami bahwa setiap kejadian adalah ujian atau karunia. Tanpa pemahaman ini, masalah kecil pun akan terasa sangat berat. Kita akan terus merasa menderita di tengah kemewahan sekalipun.

Kunci Ketenangan Jiwa: Meneladani Prinsip Wara’ dan Zuhud Ulama Salaf

Cara Menggapai Kebahagiaan Menurut Al-Hikam

Untuk meraih kebahagiaan, kita harus mengubah orientasi hidup. Mulailah dengan memperbaiki niat dalam setiap aktivitas. Lepaskan keterikatan hati pada hasil yang belum pasti. Pasrahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik.

Belajarlah untuk merasa cukup dengan apa yang ada (Qana’ah). Syukuri napas dan kesehatan yang masih menyertai kita hari ini. Dengan mengikuti ajaran Al-Hikam, kita bisa meraih kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan tersebut tidak akan goyah oleh perubahan keadaan dunia.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.