SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Kesuksesan Duniawi yang Sebenarnya

Kesuksesan Duniawi yang Sebenarnya

Kesuksesan Duniawi yang Sebenarnya
Kesuksesan Duniawi yang Sebenarnya

 

SURAU.CO – Dalam pandangan banyak orang, kesuksesan duniawi sering diukur dengan jabatan tinggi, kekayaan melimpah, popularitas luas, dan pengaruh sosial. Tolok ukur ini begitu kuat menancap dalam kesadaran kolektif, hingga kegagalan finansial kerap disamakan dengan kegagalan hidup. Namun Islam datang bukan sekadar untuk mengatur ibadah ritual, melainkan meluruskan cara pandang manusia terhadap makna hidup dan sukses itu sendiri.

Al-Qur’an menegaskan bahwa dunia hanyalah mata ujian, bukan tujuan akhir.
Allah berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan serta anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini tidak menafikan dunia, tetapi mendudukkan dunia pada posisi yang proporsional. Dunia bukan untuk disembah, melainkan dikelola. Bukan untuk dikejar mati-matian, tetapi dijalani dengan amanah.

Kata hikmah tauhid  “27 imam, ulama, dan pendiri mazhab/aliran keilmuan Islam yang terkenal”

Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan

Kesuksesan duniawi yang sebenarnya bukan terletak pada berapa banyak yang dimiliki, melainkan bagaimana cara memperoleh dan menggunakan apa yang dimiliki. Kekayaan yang diperoleh dengan cara zalim, manipulatif, atau mengorbankan nilai moral, dalam Islam bukanlah keberhasilan, melainkan istidraj kenikmatan yang justru menjauhkan dari Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa nilai duniawi tidak dihapus, tetapi dipertanggungjawabkan. Maka sukses bukan sekadar “punya”, tetapi benar dalam proses dan tujuan.

Ketenangan Batin sebagai Indikator Sukses

Salah satu tanda paling nyata dari kesuksesan duniawi yang hakiki adalah ketenangan jiwa (sakinah). Banyak orang bergelimang harta, namun hidup dalam kecemasan, ketakutan kehilangan, dan kehampaan makna. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi hatinya lapang, ibadahnya khusyuk, dan relasinya penuh keberkahan.

Berdamailah Dengan Masa Lalumu: Perspektif Al-qur’an, Hadis, Dan Psikologi Islam

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan ini tidak bisa dibeli dengan uang, jabatan, atau pujian manusia. Ia lahir dari keselarasan antara iman, amal, dan niat. Maka siapa pun yang hidup jujur, bekerja halal, dan menjaga hubungannya dengan Allah, sejatinya telah meraih sukses duniawi meskipun tanpa sorotan kamera.

Manfaat bagi Sesama: Ukuran Sukses Sosial

Islam menilai keberhasilan seseorang juga dari sejauh mana keberadaannya membawa manfaat. Nabi ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hikmah Ilmu “Tanggal 10 Dzulhijjah Sudah Dilalui, Pertanyaannya: Bisakah Kita Menjadi Jiwa Ismail”

Kesuksesan duniawi yang sejati bukan sekadar menaiki tangga sosial, tetapi mengulurkan tangan kepada yang lemah, membuka peluang bagi yang terpinggirkan, dan menjadi solusi, bukan beban bagi lingkungan.

Jabatan yang digunakan untuk melayani, kekayaan yang dialirkan untuk kebaikan, dan ilmu yang dibagikan untuk pencerahan umat itulah prestasi dunia yang bernilai akhirat.

Keseimbangan antara Ikhtiar dan Tawakal

Islam tidak mengajarkan fatalisme, tetapi juga tidak membenarkan kesombongan hasil. Kesuksesan duniawi yang hakiki lahir dari ikhtiar maksimal yang dibingkai dengan tawakal total. Bekerja keras tanpa melupakan doa, merancang masa depan tanpa menyingkirkan Allah dari perencanaan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Artinya, usaha adalah kewajiban, tetapi hasil tetap berada dalam kehendak Allah. Orang yang sukses sejati tidak mudah sombong ketika berhasil, dan tidak putus asa ketika gagal.

Dunia yang Mengantarkan ke Akhirat

Puncak kesuksesan duniawi dalam Islam adalah ketika dunia menjadi jalan menuju keselamatan akhirat, bukan penghalang. Dunia yang membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, semakin jujur, semakin rendah hati, dan semakin peduli pada umat itulah dunia yang diberkahi.

Doa yang diajarkan Al-Qur’an menegaskan keseimbangan ini:

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Islam tidak memusuhi kesuksesan dunia, tetapi memurnikannya dari keserakahan dan kesia-siaan.

Penutup

Kesuksesan duniawi yang sebenarnya bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa lurus kita berjalan. Bukan tentang banyaknya yang kita kumpulkan, tetapi tentang nilai kebaikan yang kita tinggalkan.

Jika dunia membuat kita semakin taat, semakin jujur, dan semakin bermanfaat, maka itulah sukses. Namun jika dunia menjauhkan dari Allah, merusak akhlak, dan menindas sesama, maka sebesar apa pun pencapaiannya, ia hanyalah kerugian yang tertunda.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berhasil di dunia tanpa kehilangan akhirat, dan dimampukan Allah untuk menjadikan setiap langkah dunia sebagai bekal pulang menuju-Nya. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.