SURAU.CO – Wahyu pertama kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah momen penting dalam sejarah Islam, menandai pengangkatan beliau sebagai seorang Nabi. Peristiwa ini terjadi di Gua Hira, sebuah tempat yang sering beliau gunakan untuk uzlah atau tahannuts, yaitu merenung dan beribadah. Menjelang usia 40 tahun, Rasulullah SAW semakin sering menyendiri, jauh dari hiruk pikuk kemusyrikan di Makkah. Beliau merenungi kondisi masyarakat yang saat itu penuh dengan kejahiliyahan.
Persiapan Nubuwah: Mimpi Benar dan Tanda Kenabian Lain
Enam bulan sebelum wahyu pertama turun, Rasulullah SAW sering mengalami mimpi yang sangat jelas. Mimpi-mimpi ini serupa dengan terbitnya fajar di pagi hari. Hal ini menunjukkan persiapan spiritual beliau. Pada tahun yang sama, ketika beliau genap berusia 40 tahun, beberapa tanda kenabian mulai terlihat. Bahkan, sebuah batu di Makkah pernah mengucapkan salam kepada beliau. Semua ini merupakan pertanda agung sebelum datangnya wahyu Illahi.
Turunnya Wahyu Pertama di Gua Hira
Pada bulan Ramadhan, saat Rasulullah SAW sedang bertahannuts untuk ketiga kalinya di Gua Hira, Malaikat Jibril datang. Jibril menyampaikan perintah, “Bacalah!” Rasulullah SAW menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril kemudian mendekap beliau dengan sangat kuat. Rasulullah SAW sampai kehabisan tenaga. Peristiwa ini terulang hingga tiga kali, selalu dengan jawaban yang sama dari Rasulullah.
Akhirnya, Jibril menyampaikan wahyu pertama. Ayat-ayat tersebut kini kita kenal sebagai permulaan Surat Al-Alaq:
“اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (۱) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (۳) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)”
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5)
Imam Bukhari mengabadikan peristiwa ini dalam Shahih-nya. Dari Aisyah, beliau menceritakan tentang mimpi yang benar dan kebiasaan Nabi mengasingkan diri. Aisyah juga mengisahkan detail pertemuan Nabi dengan Jibril. Beliau mengalami ketakutan dan pulang dalam keadaan menggigil.
Dukungan Penuh dari Istri Tercinta, Khadijah
Sesampainya di rumah, Rasulullah SAW segera meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Beliau masih merasa ketakutan. Setelah tubuhnya tenang, beliau menceritakan semua kejadian kepada Khadijah. Dengan lembut, Khadijah menenangkan beliau. Khadijah menyebutkan semua kebaikan Rasulullah SAW. “Tidak, demi Allah, Allah takkan menghinakanmu,” kata Khadijah. “Karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, membantu orang lain, memberi makan orang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”
Khadijah tidak hanya menenangkan. Beliau mengajak Rasulullah SAW bertemu sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang pendeta Nasrani yang tua dan berpengetahuan luas. Setelah mendengar cerita, Waraqah segera menyadari kebenaran. Ia berkata, “Itu adalah Namus yang Allah turunkan kepada Musa.” Ia juga menyatakan dukungannya. Sayangnya, Waraqah wafat tidak lama setelah itu. Dukungan ini sangat berarti bagi Rasulullah SAW di awal kenabiannya.
Periode Terputusnya Wahyu dan Kegelisahan Nabi
Setelah wahyu pertama, ada periode wahyu tidak turun. Rasulullah SAW merasa sangat gelisah. Beliau diam dan termenung beberapa hari. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW beberapa kali ingin menjatuhkan diri dari gunung. Namun, Jibril selalu menampakkan diri di puncak. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar utusan Allah.” Setelah mendengar itu, Nabi menjadi tenang dan kembali ke rumah.
Kegelisahan ini menunjukkan betapa beratnya amanah kenabian. Jeda wahyu tersebut mungkin juga menguji kesabaran Nabi. Ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa. Beliau juga merasakan kekhawatiran dan ketakutan. Namun, beliau tetap tabah dan siap menerima petunjuk Allah.
Wahyu Kedua: Perintah Berdakwah
Setelah jeda, wahyu kedua pun turun. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mendengar suara dari langit. Beliau melihat malaikat yang pernah menemuinya di Gua Hira. Malaikat itu duduk di kursi antara langit dan bumi. Rasulullah SAW kemudian pulang dan kembali meminta diselimuti.
Kemudian, Allah menurunkan permulaan Surat Al-Muddatsir. Ayat 1-7 berisi perintah untuk berdakwah:
“يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ”
Artinya: “Hai orang yang bers
elimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Muddatsir: 1-7)[1]
Ayat-ayat ini menandai dimulainya fase dakwah secara terbuka. Rasulullah SAW kini memiliki tugas besar. Beliau harus mengajak umat manusia menyembah Allah semata. Perintah ini mengubah hidup beliau. Beliau tidak lagi hanya fokus beribadah pribadi. Beliau harus aktif menyebarkan ajaran Islam.
Berbagai Cara Wahyu Diturunkan: Kekayaan Komunikasi Ilahi
Wahyu yang Allah turunkan kepada Rasulullah SAW tidak selalu sama bentuknya. Berbagai cara digunakan untuk menyampaikan pesan Ilahi. Ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah. Juga, ini menunjukkan kesiapan Nabi Muhammad menerima beragam bentuk komunikasi.
Aisyah, Ummul Mukminin, meriwayatkan pertanyaan penting. Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, bagaimana wahyu itu turun kepada Anda?” Rasulullah SAW menjelaskan beberapa cara. Beliau menjawab, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, aku baru mengerti apa yang ia sampaikan.” Ini adalah bentuk wahyu yang paling intens. Rasulullah SAW merasakan beban fisik yang luar biasa. Dahinya bahkan bersimpah peluh saat cuaca dingin.
Selain itu, ada bentuk lain. “Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang ia sampaikan,” lanjut Rasulullah SAW. Dalam kondisi ini, Jibril menampakkan diri dalam wujud manusia. Ini memudahkan Nabi untuk berkomunikasi. Ini juga mengurangi beban fisik yang dirasakan.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama terkemuka, ada delapan tingkatan wahyu. Pertama, mimpi yang hakiki atau ru’ya shadiqah. Kedua, bisikan ke dalam hati Rasulullah tanpa penampakan malaikat. Ketiga, malaikat menjelma seperti laki-laki dan berbicara langsung. Keempat, wahyu datang menyerupai bunyi lonceng yang sangat kuat. Kelima, Rasulullah melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, lalu Jibril menyampaikan wahyu, seperti yang dijelaskan dalam QS. An-Najm: 13-14 dan At-Takwir: 22-23.
Tingkatan keenam adalah wahyu yang disampaikan Allah SWT dari atas langit. Ketujuh, Allah SWT berbicara langsung dengan Rasulullah tanpa perantara. Kedelapan, Allah SWT berfirman secara langsung kepada Rasulullah tanpa tabir. Namun, para ulama masih memiliki perbedaan pendapat tentang tingkatan terakhir ini.
Pemahaman tentang berbagai cara turunnya wahyu ini sangat penting. Ini menunjukkan kekayaan pengalaman spiritual Rasulullah SAW. Ini juga menegaskan kebenaran kenabian beliau. Setiap bentuk wahyu memiliki tujuan dan dampak tersendiri. Semua cara ini mempersiapkan beliau mengemban risalah Islam.
Hikmah dan Pelajaran dari Wahyu Pertama
Peristiwa wahyu pertama ini membawa banyak hikmah. Pertama, ia menegaskan status Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Beliau bukan penyair atau dukun. Beliau adalah seorang Nabi yang menerima pesan langsung dari Tuhan. Kedua, ini menunjukkan pentingnya membaca dan menuntut ilmu. Wahyu pertama justru diawali dengan perintah “Bacalah!”. Ini menjadi fondasi peradaban Islam yang menghargai ilmu pengetahuan.
Ketiga, dukungan keluarga sangat vital. Ketabahan Khadijah dan kebijaksanaan Waraqah bin Naufal menjadi contoh. Mereka memberikan kekuatan moral di masa-masa sulit Nabi. Keempat, kesabaran adalah kunci. Periode terputusnya wahyu mengajarkan kesabaran. Ini melatih ketahanan spiritual Nabi dalam menghadapi tantangan dakwah. Kelima, tugas dakwah adalah amanah besar. Wahyu kedua menggarisbawahi tanggung jawab ini. Seorang Muslim tidak hanya fokus pada diri sendiri. Ia juga harus mengajak orang lain kepada kebaikan.
Dengan memahami peristiwa ini, umat Muslim dapat mengambil pelajaran berharga. Kita belajar tentang pentingnya integritas, kesabaran, dan semangat menyebarkan kebenaran. Peristiwa wahyu pertama bukan sekadar sejarah. Ini adalah landasan spiritual bagi setiap Muslim.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
