SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan
Beranda Β» Berita Β» Adab Makan Bersama dalam Akhlaq lil Banat Juz 3 Karya Umar Baraja (Pelajaran Klasik untuk Hari Ini)

Adab Makan Bersama dalam Akhlaq lil Banat Juz 3 Karya Umar Baraja (Pelajaran Klasik untuk Hari Ini)

Adab Makan Bersama
Sekelompok santri laki-laki mengenakan baju dan peci hitam duduk bersila di dalam madrasah tradisional

SURAU.CO- Umar bin Ahmad Baraja adalah seorang ulama abad ke-20 yang menaruh perhatian besar pada pendidikan akhlak. Melalui kitab Akhlaq lil Banin dan Akhlaq lil Banat, beliau ingin membentuk generasi muslim yang beradab sejak dini.

Kitab Akhlaq lil Banat ditulis khusus untuk mendidik anak perempuan muslim agar memahami etika sehari-hari dalam kehidupan sosial maupun pribadi. Kelebihannya adalah bahasa yang sederhana, namun sarat nasihat praktis. Tak heran jika kitab ini hingga kini masih dipelajari di pesantren dan madrasah Nusantara.

1. Makan Bersama adalah Sunnah yang Membawa Berkah

Umar Baraja menulis: β€œDisunnahkan bagimu untuk tidak menyendiri ketika makan. Makanlah bersama keluarga atau tamu-tamumu.”

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah ο·Ί:

Ψ§Ψ¬Ω’ΨͺΩŽΩ…ΩΨΉΩΩˆΨ§ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ·ΩŽΨΉΩŽΨ§Ω…ΩΩƒΩΩ…Ω’ ΩŠΩΨ¨ΩŽΨ§Ψ±ΩŽΩƒΩ’ Ω„ΩŽΩƒΩΩ…Ω’ ΩΩΩŠΩ‡Ω
β€œBerkumpullah kalian untuk makan makananmu, niscaya diberkati di dalamnya.”

Pendidikan Karakter Anak di Era Gadget: Cara Jitu Membentuk Akhlak Mulia

Makan bersama bukan sekadar soal kenyang, melainkan sarana mempererat ikatan hati. Nabi ο·Ί bahkan tidak pernah makan sendirian. Suasana makan bersama melatih kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.

Di era sekarang, sering kita dapati keluarga makan dengan posisi masing-masing sibuk dengan gawai. Padahal, satu meja makan yang diisi dengan senyum, cerita, dan doa jauh lebih bernilai daripada makanan mahal yang dimakan sendiri.

2. Sopan Santun di Meja Makan

Kitab ini menekankan agar kita tidak tergesa-gesa mengambil makanan sebelum yang lebih tua atau yang lebih dihormati memulai. Nabi ο·Ί, saat menjadi tamu, seringkali menjadi yang terakhir meninggalkan hidangan agar tidak membuat sahabat merasa malu.

Adab lain yang diajarkan Umar Baraja:

  • Duduk dengan sopan, tidak mendesak orang lain.
  • Tidak menatap makanan berlebihan atau memandang wajah orang yang makan.
  • Mengambil makanan yang dekat, kecuali buah-buahan.
  • Tidak makan dua biji sekaligus kecuali dengan izin teman.

Rasulullah ο·Ί bersabda:

Konsep Pendidikan Anak ala Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad: Sinergi Ilmu dan Akhlak

ΩƒΩΩ„ΩΩˆΨ§ مِنْ حَوَافِ Ψ§Ω„Ω’Ω‚ΩŽΨ΅Ω’ΨΉΩŽΨ©Ω ΩˆΩŽΩ„ΩŽΨ§ ΨͺΩŽΨ£Ω’ΩƒΩΩ„ΩΩˆΨ§ مِنْ ΩˆΩŽΨ³ΩŽΨ·ΩΩ‡ΩŽΨ§ΨŒ فَΨ₯ΩΩ†Ω‘ΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ψ¨ΩŽΨ±ΩŽΩƒΩŽΨ©ΩŽ ΨͺΩŽΩ†Ω’Ψ²ΩΩ„Ω فِي ΩˆΩŽΨ³ΩŽΨ·ΩΩ‡ΩŽΨ§
β€œMakanlah dari sisi-sisinya dan jangan makan dari tengahnya, karena keberkahan itu turun di tengahnya.”

Dalam praktik modern, adab ini bermakna menjaga kenyamanan bersama. Tidak rakus, tidak bersuara keras ketika mengunyah, dan tidak mengotori meja makan adalah bagian dari akhlak mulia.

3. Rendah Hati dan Doa untuk Tuan Rumah

Adab makan bersama juga menekankan pentingnya rendah hati. Jangan mencela makanan, meski kita tidak menyukainya. Rasulullah ο·Ί tidak pernah mencela makanan, beliau hanya meninggalkannya bila tidak sesuai selera.

Jika kita menjadi tamu, Umar Baraja menasihatkan agar kita mendoakan tuan rumah setelah selesai makan. Nabi ο·Ί bersabda ketika berbuka di rumah Saβ€˜ad bin β€˜Ubadah:

Ψ£ΩŽΩΩ’Ψ·ΩŽΨ±ΩŽ ΨΉΩΩ†Ω’Ψ―ΩŽΩƒΩΩ…Ω Ψ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩŽΨ§Ψ¦ΩΩ…ΩΩˆΩ†ΩŽΨŒ ΩˆΩŽΨ£ΩŽΩƒΩŽΩ„ΩŽ Ψ·ΩŽΨΉΩŽΨ§Ω…ΩŽΩƒΩΩ…Ω Ψ§Ω„Ω’Ψ£ΩŽΨ¨Ω’Ψ±ΩŽΨ§Ψ±ΩΨŒ ΩˆΩŽΨ΅ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΨͺΩ’ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’ΩƒΩΩ…Ω Ψ§Ω„Ω’Ω…ΩŽΩ„ΩŽΨ§Ψ¦ΩΩƒΩŽΨ©Ω
β€œOrang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempatmu, orang-orang baik telah memakan makananmu, dan para malaikat telah mendoakanmu.”

Diaspora Intelektual Habaib: Dialektika antara Identitas Genealogis dan Otoritas Keilmuan

Dalam konteks hari ini, doa bagi tuan rumah adalah bentuk penghargaan yang tulus. Adab ini menjaga silaturahmi dan menghadirkan keberkahan dalam hubungan sosial.

Hikmah untuk Zaman Kita

Umar bin Ahmad Baraja mengajarkan bahwa makan bersama adalah momen ibadah kecil. Ia melatih kesopanan, melatih hati untuk mendahulukan orang lain, serta mengajarkan syukur atas nikmat Allah.

Mari kita renungkan: kapan terakhir kali kita duduk bersama keluarga tanpa gangguan gawai, hanya sekadar menikmati hidangan sederhana dengan doa?

β€œYa Allah, berkahilah setiap makanan yang kami santap bersama keluarga dan sahabat, jadikan ia pengikat kasih sayang, dan tanamkan rasa syukur dalam hati kami.”


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Artikel Populer

01

3 Doa Berbahasa Jawa: Mudah Rezeki, Keamanan Diri, dan Fasih Ceramah

02

Tiga Manfaat Dosa

03

Berhutang: Antara Kebutuhan dan Gaya Hidup yang Tercela

04

Menempatkan Kedudukan Akal Dalam Islam: Antara Otoritas Wahyu dan Rasionalitas Manusia

05

Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq : Anak Abu Bakar yang Terakhir Masuk Islam

06

Juz Amma: Kumpulan Surat Pendek Al-Quran (Juz 30)

Artikel Terbaru