SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beranda » Berita » AI dan Otak Anak Usia Dini

AI dan Otak Anak Usia Dini

 

M Zaid Wahyudi

  1. AI sudah masuk ke dunia anak sejak usia sangat dini

AI bukan hanya domain pelajar dan orang dewasa. Bayi berusia kurang dari dua tahun pun banyak yang telah akrab dengan AI. Banyak mainan ditenagai oleh AI melalui asisten suara, demikian pula algoritma internet yang mengatur tontonan yang dianggap ramah anak. Dengan AI, anak belajar mengenal benda, mendengarkan dongeng, hingga mengajak menyanyi dan menari bersama.

  1. Risiko penggunaan AI pada anak belum sepenuhnya dipahami

Masalahnya, manusia hingga kini belum memahami sepenuhnya apa risiko dari penggunaan AI. Saat dampak dari pemakaian AI itu diketahui, anak-anak itu telah tumbuh menjadi dewasa. Jika AI berakibat buruk, manusia berpotensi kehilangan satu generasi karena dampak AI pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anak tidak bisa diputar ulang.

  1. Interaksi sosial langsung tetap menjadi fondasi perkembangan anak

Dosen psikologi anak dan keluarga di Universitas Canterbury, Christchurch, Selandia Baru, Sarah Whitcombe-Dobbs, dalam tulisannya di The Conversation, 13 Maret 2026, mengingatkan, sama seperti semua mamalia, bayi manusia juga berkembang dalam kelompok sosial melalui hubungan fisik yang erat dengan orang lain. Kondisi itu membuat hubungan tatap muka langsung tetap penting. Anak belajar tentang diri mereka dan dunia di sekitarnya menggunakan semua inderanya. Mereka belajar berkomunikasi melalui interaksi timbal balik menggunakan sentuhan fisik, emosi, tatapan mata, bahasa tubuh, dan berbagai alat komunikasi non-verbal lainnya.

MANAQIB AL-IMAM AL-HASAN BIN ALI BIN ABI THALIB

  1. Pengalaman awal membentuk pola relasi dan emosi jangka panjang

Di usia dini, anak juga belajar mengatur emosi, mencari dan menerima kenyamanan, hingga bernegosiasi dan menyelesaikan konfliknya sendiri. Semua pengalaman dan interaksi yang dipelajari itu membentuk model atau templat di otak anak tentang bagaimana relasi yang intim berjalan. Pembelajaran di masa ini akan berpengaruh di sepanjang hidup mereka.

  1. AI berpotensi mengganggu periode emas perkembangan otak

Hadirnya AI membuat periode emas pertumbuhan otak anak itu tidak lagi natural. Tanpa disadari, AI telah mengambil sebagian peran yang selama ini dilakukan manusia untuk mendukung tumbuh kembang anak.

“Manusia belum memahami apa dampak paparan AI tersebut terhadap sistem fisiologis, neurologis, dan pengaturan emosi anak-anak yang sedang berkembang,” tulisnya.

Manusia juga belum memahami apa dampak jangka panjang AI terhadap perkembangan empati anak-anak dan kapasitas mereka dalam membangun relasi dengan manusia lain.

  1. Dampak awal AI mirip dengan efek negatif screen time berlebihan

Beberapa tanda bahaya dari penggunaan AI sudah muncul dan beberapa mirip dengan bahaya akibat waktu menatap layar screen time yang berlebihan. Sifat AI yang sangat sabar dan responsif telah memengaruhi kemampuan bahasa, keterampilan anak dalam membangun relasi, hingga berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

SURAT AL-FIIL: Jejak Geopolitik Blok Barat vs Blok Timur dan Relevansinya dengan Jalur Sutra

  1. Anak berisiko kesulitan dalam relasi sosial nyata

Anak-anak yang interaksi sosialnya dimediasi oleh AI diduga akan lebih sulit menavigasi relasi sosialnya di dunia nyata, terutama saat terjadi konflik. Mereka juga lebih mungkin mengembangkan preferensi yang menjadikan AI sebagai mediator dalam relasi mereka daripada melibatkan keluarga atau teman di kehidupan nyata.

  1. Literasi AI dan berpikir kritis menjadi kebutuhan penting

Literasi dan berpikir kritis Di tengah pro-kontra penggunaan AI pada anak, minat mengembangkan AI terus meningkat. Terlebih, AI juga menjadi sumber daya murah untuk mendukung kebutuhan belajar anak daripada menggunakan guru sungguhan.

  1. Perkembangan AI tidak terhindarkan sehingga perlu mitigasi risiko

Ke depan, perkembangan AI seperti tak akan bisa dibendung. Oleh karena itu, di tengah ketidakpastian atas dampak penggunaan AI, khususnya pada anak-anak usia dini, literasi AI menjadi benteng meminimalkan risiko yang mungkin terjadi dari penggunaan AI.

  1. Orangtua perlu menentukan waktu dan batas pengenalan AI

Mengadopsi AI ke ruang anak-anak tanpa mengetahui konsekuensinya adalah eksperimen hidup yang bisa mengorbankan anak-anak. Sekali melaju, anak-anak hasil didikan AI akan senantiasa bergantung pada AI. Oleh karena itu, orangtua seharusnya memiliki kebebasan untuk memilih mengenalkan AI di usia dini kepada anak-anaknya atau menunda hingga batas umur tertentu sampai anak-anak mampu memilih kapan mereka perlu menggunakan AI dan kapan harus berhenti.

  1. Pendampingan aktif diperlukan dalam penggunaan AI oleh anak

“Pendidik dan orangtua perlu membimbing anak-anak mereka selama berinteraksi dengan AI dengan mendorong pemikiran yang kritis dan batasan penggunaan AI yang sehat,” kata dosen Sekolah Pascasarjana Pendidikan Harvard, Cambridge, Amerika Serikat, Ying Xu, dalam siniar yang diunggah di situs universitas tersebut, 2 Oktober 2024.

Wahyu dan Ilham dalam Perspektif Al-Qur’an Revolusi Qalbu Menuju Kesadaran Wahyu_

  1. Interaksi manusia tetap kunci menjaga kemanusiaan di era AI

Salah satu kunci membatasi penggunaan AI itu adalah dengan mendorong interaksi anak-anak secara langsung dengan teman, keluarga, dan komunitas di sekitarnya. Meski AI bermanfaat dalam mendorong pembelajaran, perlu diingat bahwa AI tidak dapat sepenuhnya meniru manfaat dari interaksi langsung sesama manusia.

Dengan langkah kecil itu, meski kita tidak bisa membendung berkembangnya AI, tetapi mendorong pemikiran kritis dan interaksi langsung di dunia nyata bisa menjaga manusia untuk tetap menjadi manusia seutuhnya.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.