SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah
Beranda » Berita » Sholat Sunnah sebagai Pijakan di Atasnya

Sholat Sunnah sebagai Pijakan di Atasnya

Sholat Sunnah sebagai Pijakan di Atasnya
Sholat Sunnah sebagai Pijakan di Atasnya

 

SURAU.CO – Di sebuah perjalanan jiwa yang panjang, setelah seorang hamba mengenal doa, memahami rasa, dan mulai menerima takdir, ia sampai pada satu pertanyaan yang sederhana, tetapi dalam:
“Jika semua ini ada jalannya, lalu di mana aku harus berpijak agar tidak jatuh?”

Pijakan yang Tidak Terlihat
Hidup ini seperti berjalan di atas jembatan tipis.

Di bawahnya:
ada keraguan
ada ketakutan
ada godaan dunia

Banyak yang berjalan, tetapi tidak semua memiliki pijakan yang kuat.

Antara Keinginan dan Ketetapan Allah: Menemukan Hikmah di Balik Takdir

Lalu hikmah pun datang:
“Sholat wajib adalah jalanmu, tetapi sholat sunnah adalah pijakan kakimu.”

Mengapa Disebut Pijakan?
Karena, jalan tanpa pijakan akan membuatmu mudah tergelincir.

Sholat wajib menjaga arah, tetapi sholat sunnah menjaga keseimbangan.

Tanpa sholat sunnah:
hati mudah goyah
niat mudah berubah
langkah mudah salah

Saat Kaki Mulai Lelah
Suatu hari, hamba itu merasa lelah.

10 CARA MENAKLUKKAN AMARAH ORANG LAIN, DAN AMARAH DIRI SENDIRI DENGAN SENYUMAN DAN 1 TARIKAN NAFAS (PERSPEKTIF AL-QUR’AN, AL-HADITS, PSIKOLOGI EMOSI, ILMU KEDOKTERAN JIWA, DAN FILSAFAT KETENANGAN)*

Ia tetap sholat wajib,
tetapi hatinya tidak setenang dulu.

Keputusan terasa berat, doa terasa jauh,
Lalu ia sadar, ia masih berjalan tetapi kehilangan pijakan.

Rahasia yang Sering Terlupakan

Sholat sunnah bukan tentang jumlah rakaat,
tetapi tentang:
menjaga hubungan
memperkuat rasa
menenangkan jiwa
Ia seperti:

jeda di tengah kesibukan,
napas di tengah tekanan
cahaya di tengah gelap

Intelijen, Hakekat, Urgensi dan Landasan Hukum

Pijakan di Setiap Keadaan Alloh memberikan sholat sunnah di berbagai waktu,
bukan tanpa alasan.

Dhuha → pijakan saat memulai dunia

Rowatib → pijakan di sekitar kewajiban

Tahajud → pijakan saat jiwa paling rapuh

Witir → pijakan penutup perjalanan

Seakan Alloh berkata:
“Di setiap langkah hidupmu, Aku siapkan tempat untuk kembali berpijak.”

Kisah Sebagai Hamba
Hamba itu mulai kembali, bukan dengan banyak rakaat, tetapi dengan kesadaran.

Ia lakukan 2 rakaat sunnah dengan hati yang hadir dan setelah itu, ia tidak langsung melihat perubahan besar, tetapi ia merasakan sesuatu yang halus:
langkahnya menjadi lebih mantap.

Pijakan yang Menghubungkan jiwa dan raga
Sholat sunnah adalah titik temu:
antara usaha dan tawakal
antara logika dan rasa
antara manusia dan Tuhannya

Di situlah, kaki berpijak di bumi,
tetapi hati terhubung ke langit.

Saat Pijakan Itu Menguat
Jika seseorang menjaga sholat sunnah:
ia tidak mudah panik
tidak mudah putus asa
tidak mudah sombong saat berhasil

Karena ia tahu,
ia tidak berdiri sendiri.

Makna yang tersirat:
Pada akhirnya, sholat sunnah bukan lagi sekadar ibadah tambahan,
tetapi menjadi:
“tempat pulang sebelum melangkah.”

Dan siapa yang selalu kembali sebelum melangkah,
akan jarang tersesat di jalan hidupnya.

Pengiling (Pengingat) Jika hidup terasa goyah, jangan langsung mencari jawaban besar.

Mulailah dari yang sederhana: 2 rakaat, dengan hati yang benar.
Karena bisa jadi, yang kamu butuhkan bukan solusi yang rumit, tetapi pijakan yang kuat.

 

 

 

 


Kisah Hikmah Ilmu “Ushul Fiqih dan Fiqih di Zaman Digital: Ketika Akal, Algoritma, dan Wahyu Bertemu”

 

Malam itu sunyi, hanya cahaya layar yang menyinari wajah seorang murid. Ia sedang membaca kitab, tetapi di sampingnya terbuka dunia lain kode, data, dan kecerdasan buatan.

Ia lalu bertanya kepada gurunya, “Guru, jika suatu hari hukum ditanya oleh mesin, apakah ia masih bernama fiqih?”

Sang guru tidak langsung menjawab. Ia menggambar sebuah titik di tanah, lalu menarik garis darinya.

“Ini,” katanya, “adalah ushul fiqih akar dan metode.

Dan garis ini adalah fiqih cabang hukum yang tampak.”

Murid memperhatikan.

“Tanpa titik ini,” lanjut guru, “garis akan kehilangan arah.

Dan tanpa garis, titik tidak memberi manfaat.”
Murid mengangguk pelan.

“Lalu bagaimana dengan dunia digital, Guru?” tanyanya lagi.
“Ketika manusia digantikan algoritma, dan keputusan diambil oleh sistem?”

Guru tersenyum, lalu berkata:
“Mesin bisa menghitung, tapi tidak bisa berniat.

Algoritma bisa memprediksi, tapi tidak bisa bertakwa.”

Ia lalu menyebut nama seorang ulama besar,
“Dahulu, seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan syariat adalah menjaga lima hal: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.”

Ia berhenti sejenak.
“Sekarang bayangkan,” katanya, “jika kecerdasan buatan mengelola harta,
mengatur informasi,
bahkan mempengaruhi akal manusian maka di situlah ushul fiqih bekerja,
bukan sekadar menghafal hukum,
tetapi memahami tujuan hukum.”

Murid mulai gelisah, namun tercerahkan.

“Apakah robot bisa berfatwa, Guru?”

Guru tersenyum tipis.

“Robot bisa membantu fatwa, tetapi tidak bisa menjadi mufti.”

Ia melanjutkan:
“Karena fatwa bukan hanya hasil logika, tetapi juga hasil dari rasa, pengalaman, dan tanggung jawab di hadapan Alloh.”

Murid kini menatap layar di depannya dengan cara yang berbeda. “Jadi, bagaimana seharusnya kita bersikap?”

Guru menjawab dengan tenang:
“Jadilah manusia yang menguasai teknologi,
bukan yang dikuasai teknologi.

Gunakan algoritma untuk mempercepat kebaikan, bukan menggantikan kebijaksanaan.”

Ia lalu menutup dengan kalimat yang dalam:
“Ushul fiqih adalah cahaya yang membimbing,
fiqih adalah langkah yang dijalankan.

Di zaman digital, cahaya itu tidak boleh padam karena jika padam,
manusia akan menyerahkan takdirnya kepada mesin,
tanpa sadar bahwa ia telah kehilangan arah.”

Malam semakin larut.
Layar masih menyala.

Namun kini, di balik cahaya digital itu,
seorang murid telah menemukan cahaya yang lebih dalam cahaya yang tidak berasal dari listrik, tetapi dari ilmu yang hidup dalam hati. (Oleh: Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.