SURAU.CO – Dalam sejarah peradaban manusia, Kisah Negeri Saba sering kali diangkat sebagai simbol kemakmuran yang luar biasa sekaligus peringatan tentang kehancuran yang tragis. Dunia mengenal negeri di wilayah Yaman ini sebagai surga berkat sistem irigasi canggih dan kekayaan alamnya yang melimpah. Namun, di balik kemegahannya, Al-Qur’an menyimpan catatan penting mengenai bagaimana keserakahan manusia dan pengabaian terhadap kelestarian alam (deforestasi) berujung pada bencana besar.
Kejayaan Negeri Saba: Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur
Negeri Saba mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Ratu Balqis. Allah SWT menggambarkan negeri ini dalam Al-Qur’an sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yang berarti sebuah negeri yang baik (aman, subur, makmur) dengan Tuhan Yang Maha Pengampun.
Keunggulan utama Saba terletak pada Bendungan Ma’rib. Struktur raksasa ini bukan sekadar pencapaian teknik sipil kuno, melainkan jantung kehidupan bagi seluruh penduduk. Dengan bendungan ini, masyarakat Saba mampu mengubah padang tandus menjadi kebun-kebun yang sangat luas di sisi kanan dan kiri kota. Saking suburnya, buah-buahan di sana jatuh memenuhi keranjang setiap orang yang melintas tanpa perlu dipetik.
Akar Masalah: Keserakahan dan Deforestasi
Meskipun diberikan kenikmatan yang melimpah, penduduk Saba mulai berpaling. Dalam perspektif ekologi modern, apa yang terjadi pada Kisah Negeri Saba adalah bentuk nyata dari kegagalan manajemen sumber daya alam atau deforestasi dini.
Seiring bertambahnya populasi dan keinginan untuk terus berekspansi secara ekonomi, para elit dan penduduk mulai mengabaikan pemeliharaan infrastruktur alam. Pohon-pohon di sekitar area tangkapan air ditebang untuk kepentingan pembangunan perumahan dan industri. Tanpa akar pohon yang menahan tanah, erosi mulai terjadi secara perlahan.
Keserakahan manusia membuat mereka “melubangi” sistem pendukung kehidupan mereka sendiri. Mereka mengutamakan keuntungan jangka pendek daripada menjaga keseimbangan alam amanah Allah SWT. Pada titik inilah, sifat kufur nikmat mulai menggantikan nilai-nilai syukur.
Runtuhnya Bendungan Ma’rib dan Datangnya Banjir Besar
Puncak dari pengabaian tersebut adalah hancurnya Bendungan Ma’rib. Tanpa hutan penyangga yang memadai di hulu, debit air yang sangat besar saat musim hujan tidak lagi tertampung dan tertahan. Al-Qur’an menyebutkan bencana ini sebagai Sailal ‘Arim atau banjir besar yang meluluhlantakkan segalanya.
Banjir ini tidak hanya menghancurkan bendungan fisik, tetapi juga menghanyutkan seluruh ekosistem kemakmuran Saba. Kebun-kebun yang indah seketika berubah menjadi lahan tandus. Tanaman yang dulunya menghasilkan buah manis digantikan oleh pepohonan yang pahit buahnya, seperti pohon atsl (cemara) dan sedikit pohon sidr (bidara).
Kehancuran ini membuktikan bahwa ketika manusia merusak keseimbangan alam melalui deforestasi, alam akan memberikan “balasan” yang setimpal. Banjir tersebut bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan azab sekaligus konsekuensi logis dari tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
Pelajaran untuk Zaman Modern
Kisah Negeri Saba yang terekam dalam Surah Saba ayat 15-17 memberikan pesan yang sangat relevan dengan krisis iklim saat ini. Ada beberapa poin penting yang bisa kita ambil sebagai pelajaran:
-
Pentingnya Menjaga Ekosistem: Hutan dan daerah aliran sungai adalah benteng pertahanan alami manusia. Penggundulan hutan atau deforestasi demi alasan pembangunan ekonomi tanpa batas akan selalu berujung pada bencana.
-
Syukur adalah Tindakan Konservasi: Dalam Islam, bersyukur bukan hanya sekadar ucapan lisan, melainkan tindakan nyata untuk menjaga nikmat tersebut. Menjaga lingkungan adalah salah satu bentuk syukur yang paling nyata.
-
Keadilan dalam Distribusi Sumber Daya: Kehancuran Saba juga dipicu oleh ambisi para elit yang mementingkan kelompoknya sendiri dalam penggunaan air bendungan. Ketidakadilan sosial sering kali berjalan beriringan dengan kerusakan lingkungan.
Menghindari Nasib Kaum Saba
Oleh karena itu, Kisah Negeri Saba mengingatkan kita bahwasanya kemajuan teknologi secanggih apa pun, seperti halnya Bendungan Ma’rib pada masa itu, tetap tidak akan mampu menyelamatkan manusia apabila mereka terus mengabaikan hukum alam maupun hukum Tuhan. Deforestasi yang kita lakukan saat ini untuk perkebunan monokultur atau pertambangan yang tidak terkendali adalah “lubang-lubang” baru yang sedang kita buat di bendungan masa depan kita sendiri.
Marilah kita kembali kepada konsep khalifah fil ardh, di mana manusia bertugas sebagai penjaga bumi, bukan perusaknya. Dengan menjaga kelestarian hutan dan menghargai setiap jengkal tanah subur, kita sedang berupaya agar negeri kita tetap menjadi baldatun thayyibatun dan terhindar dari nasib tragis kaum Saba.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
