SURAU.CO – Di tengah dunia modern yang mengagungkan rasionalitas dan ukuran-ukuran ilmiah, manusia kerap terjebak pada keyakinan semu bahwa segala sesuatu harus tunduk sepenuhnya pada logika dan hukum sebab-akibat yang kasatmata. Padahal, bagi orang beriman, hukum alam bukanlah penguasa tertinggi. Ia hanyalah sunnatullah yang sepenuhnya tunduk pada kehendak Allah ﷻ.
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa pada momen-momen tertentu, Allah menangguhkan hukum kebiasaan untuk menegakkan kebenaran, membela yang terzalimi, dan menghancurkan kebohongan. Salah satu bentuknya adalah peristiwa bayi yang dapat berbicara, sesuatu yang secara akal manusia mustahil, namun menjadi mungkin karena iradah Allah.
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ada bayi-bayi tertentu yang diberi kemampuan berbicara. Bukan untuk pertunjukan mukjizat, melainkan sebagai hujjah kebenaran dan pelajaran iman bagi umat manusia. Kisah-kisah ini mengguncang kesadaran kita: ketika manusia dewasa membungkam kebenaran, Allah justru menampakkannya melalui lisan yang paling lemah.
Mukjizat Bukan Sekadar Keajaiban
Dalam Islam, mukjizat selalu hadir dalam konteks penegakan tauhid dan keadilan. Ia tidak berdiri sendiri sebagai keajaiban kosong. Setiap peristiwa bayi yang berbicara membawa pesan teologis dan etis yang dalam, membela kehormatan, meluruskan tuduhan, dan menegur kesombongan.
Nabi Isa ‘Alaihissalam: Pembela Kehormatan Seorang Ibu
Kisah paling masyhur adalah kelahiran Nabi Isa ‘alaihis salam. Kaumnya tuduh Maryam ‘alaihas salam melakukan perbuatan keji ketika ia kembali dengan menggendong bayi. Maryam tidak membela diri dengan kata-kata. Ia hanya menunjuk kepada bayinya.
Dengan izin Allah, bayi itu berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi.” (QS. Maryam: 30).
Ucapan ini mengandung pesan mendasar. Pertama, Allah membela kehormatan perempuan suci yang jadi korban zalim. Kedua, penegasan tegas bahwa Isa adalah hamba Allah, bukan Tuhan. Ketiga, pelajaran bahwa Allah mampu membela hamba-Nya tanpa membutuhkan argumentasi manusia. Ketika manusia membisu, Allah berbicara.
Bayi dalam Kisah Juraij: Ibadah Tak Menghapus Kesalahan Sosial
Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada bayi yang berbicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga…” dan di antaranya adalah bayi dalam kisah Juraij¹.
Juraij adalah seorang ahli ibadah dari Bani Israil. Namun, karena terlalu larut dalam ibadah sunnah, ia mengabaikan panggilan ibunya. Allah kabulkan doa ibu terluka. Juraij difitnah berzina dan dipermalukan masyarakat. Ketika kebenaran tampak tertutup rapat, Allah mengizinkan seorang bayi berbicara dan menyatakan bahwa ayahnya adalah seorang penggembala. Fitnah pun runtuh.
Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa ibadah ritual yang panjang tidak otomatis menghapus kelalaian terhadap hak manusia. Islam menuntut keseimbangan antara habluminallah dan habluminannas.
Bayi yang Menolak Kesombongan Dunia
Rasulullah ﷺ menceritakan seorang bayi yang berbicara ketika melihat seorang penguasa yang dielu-elukan masyarakat. Sang ibu berharap anaknya kelak menjadi seperti orang tersebut. Bayi itu spontan berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.”²
Sang ibu iba melihat perempuan lemah jadi korban hinaan. Bayi itu justru berdoa, “Ya Allah, jadikan aku seperti dia.”
Kisah ini membalik standar kemuliaan dunia. Jabatan, kekuasaan, dan sanjungan tidak selalu berbanding lurus dengan kemuliaan di sisi Allah. Tidak sedikit orang yang tampak hina di mata manusia, tetapi mulia di langit.
Bayi yang Membela Ibu yang Terzalimi
Fitnah dan perlakuan tidak adil menimpa seorang perempuan dalam kisah lain. Allah memberi kemampuan kepada bayinya untuk berbicara, membela ibunya, dan mengungkap kebohongan yang tersembunyi. Allah langsung jaga kehormatan orang beriman, walau semua orang mencela.
Fitnah mungkin bergema di bumi, tetapi kebenaran tetap hidup di langit.
Ketika Manusia Dewasa Dibungkam
Empat kisah ini mengandung satu pesan besar: Allah sengaja menjadikan bayi, makhluk paling lemah, sebagai penyampai kebenaran agar manusia dewasa menyadari rapuhnya kesombongan intelektual dan sosial mereka. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 20).
Jika Allah menghendaki, kebenaran dapat keluar dari lisan siapa saja. Dari bayi, orang miskin, bahkan dari mereka yang selama ini diremehkan.
Pelajaran Iman di Zaman Fitnah
Di era ketika fitnah menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, kisah bayi yang berbicara menjadi penguat iman.
Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu membutuhkan panggung besar, orang terzalimi tidak pernah benar-benar sendirian, dan Allah bekerja dengan cara yang melampaui logika manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab antara doa itu dengan Allah.”³
Penutup
Empat bayi yang bisa berbicara bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah cermin bagi manusia hari ini. Allah tetap menolong hamba-Nya, meski kebohongan merajalela, kehormatan diinjak-injak, dan kebenaran dibungkam.
Jika Allah mampu menjadikan bayi sebagai pembela kebenaran, maka tidak ada alasan bagi orang beriman untuk berputus asa. Tugas kita hanyalah tetap berada di jalan lurus, meski harus berjalan sendirian. Selebihnya, biarlah Allah yang bekerja.
Catatan Kaki
-
HR. al-Bukhari no. 3436 dan Muslim no. 2550.
-
HR. Muslim no. 2553.
-
HR. al-Bukhari no. 2448. (Tengku Iskandar: Penyuluh Agama Islam
Pesisir Selatan, Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
