SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Logika Bukan Batu Kering, Ia Adalah Sungai yang Mengalir ke Laut Pengetahuan

Logika Bukan Batu Kering, Ia Adalah Sungai yang Mengalir ke Laut Pengetahuan

Kitāb al-Muʿtabar; Sungai bercahaya mengalir menuju laut pengetahuan
Ilustrasi sungai bercahaya melambangkan aliran logika yang membawa jiwa manusia menuju samudera hikmah.

Surau.co. Kitāb al-Muʿtabar fī al-Ḥikmah karya Abū al-Barakāt al-Baghdādī bukanlah buku kaku yang hanya berisi teori. Sejak halaman awal, logika dijelaskan bukan sebagai tumpukan batu kering yang diam, melainkan sebagai sungai yang terus mengalir menuju samudera pengetahuan. Pengetahuan itu hidup, berdenyut, dan membawa manusia dari kebingungan menuju cahaya pemahaman.

Al-Baghdādī menulis dengan cara yang unik: mengkritik Aristoteles sekaligus membuka jalan bagi cara pandang baru. Ia tidak hanya berbicara soal silogisme dan teori, tetapi mengajarkan bahwa berpikir adalah perjalanan hati sekaligus akal. Dalam karyanya, ia menuliskan:

“العقل نهر يجري في وادي النفس، فإذا توقف جريانه جفّت الأرواح”
Akal adalah sungai yang mengalir di lembah jiwa; bila alirannya terhenti, ruh-ruh akan mengering.

Logika dalam Kehidupan Sehari-Hari

Bayangkan ketika kita dihadapkan pada pilihan sederhana: membeli kebutuhan rumah atau menahan diri untuk menabung. Dalam dilema itu, logika sering dianggap sebagai kalkulasi dingin. Namun, menurut al-Baghdādī, logika justru berdenyut dengan kehidupan. Ia bukan sekadar aturan, melainkan jembatan yang menolong kita menimbang dengan adil.

Al-Qur’an pun menekankan pentingnya berpikir:

Seni Berkomunikasi: Belajar dari Dakwah yang Santun Para Wali Songo

“إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ” (Āli ʿImrān: 190)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Ayat ini seolah menjadi jiwa bagi setiap halaman al-Muʿtabar, bahwa logika bukanlah beban, melainkan lensa untuk melihat tanda-tanda Sang Pencipta.

Gerak: Doa Sunyi dari Benda

Salah satu gagasan paling orisinal dari kitab ini adalah tentang gerak. Aristoteles menyebut benda hanya bergerak karena dorongan eksternal. Namun al-Baghdādī menawarkan pandangan baru: gerak itu memiliki kecepatan yang tumbuh dari “penambahan daya” dalam benda.

Ia menuliskan:

“الحركة شوق خفيّ في الأجسام، يدفعها إلى غاياتها كما تدفع الروح الجسد إلى السجود”
Gerak adalah kerinduan tersembunyi dalam benda, mendorongnya menuju tujuan sebagaimana ruh mendorong tubuh untuk sujud.

Menghadapi Toxic People dengan Kesabaran: Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad SAW

Fenomena sehari-hari membuktikannya. Lihat bola yang menggelinding di jalan menurun; semakin lama ia semakin cepat. Itu bukan sekadar hukum mekanika, melainkan bahasa semesta tentang kerinduan menuju titik akhir.

Waktu: Nafas yang Tak Pernah Dimiliki

Dalam pembahasan waktu, al-Baghdādī menolak anggapan bahwa waktu hanya deretan angka. Waktu adalah nafas yang tak pernah bisa dimiliki manusia, karena begitu kita menyebutnya, ia sudah berlalu.

Ia berkata:

“الزمان ظلّ الحركة، يزول بزوالها ويبقى أثره في القلوب”
Waktu adalah bayangan dari gerak; ia hilang bersama gerakannya, namun jejaknya tinggal dalam hati.

Siapa di antara kita yang tak pernah menyesali hilangnya waktu? Saat kita menunda belajar, menunda bekerja, atau menunda berdoa, kita seakan lupa bahwa waktu adalah sahabat yang tak pernah kembali.

Melawan Hoaks dengan Tabayyun: Panduan Islam Menghadapi Fitnah Digital

Hadis Nabi ﷺ mengingatkan:

“اغتنم خمسًا قبل خمس: حياتك قبل موتك، وصحتك قبل سقمك، وفراغك قبل شغلك، وشبابك قبل هرمك، وغناك قبل فقرك”
Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, masa mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.

Jiwa: Burung yang Merindukan Langit

Di bagian psikologi filsafat, al-Baghdādī menggambarkan jiwa sebagai sesuatu yang tak bisa dikurung oleh tubuh. Tubuh hanyalah tenda, sementara jiwa adalah musafir. Ia tidak bisa dipaksa diam, karena kerinduan jiwalah yang menjadikan manusia mencari makna.

“النفس طائر أبديّ، لا يقنع بالقفص، وإن حُبسَ يظل يغنّي للسماء”
Jiwa adalah burung abadi, ia tak rela pada sangkar; meski terpenjara, ia tetap bernyanyi untuk langit.

Betapa sering kita merasa kosong meskipun hidup penuh materi. Itu tanda jiwa sedang berbisik bahwa ada langit yang belum kita tempuh.

Kitāb al-Muʿtabar; Hikmah yang Menyatu dengan Kehidupan

Kitāb al-Muʿtabar bukan hanya buku untuk para filosof, melainkan cermin bagi kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan bahwa berpikir bukanlah sekadar soal benar atau salah, melainkan jalan untuk semakin dekat pada Sang Pencipta. Logika yang hidup membawa kita pada hikmah, fisika mengingatkan kerinduan benda kepada asalnya, waktu menegur kita dengan ketidakabadiannya, dan jiwa memanggil agar kita tak lupa jalan pulang.

Kitāb al-Muʿtabar ini akhirnya bukan sekadar teks, tetapi perjalanan batin: dari kegelapan menuju cahaya, dari kebekuan menuju aliran yang tak pernah berhenti.

 

* Reza AS
Pengasuh ruang kontemplatif Serambi Bedoyo Ponorogo


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.