SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Bulan Dzulqo’dah Hari ke-21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

Bulan Dzulqo’dah Hari ke-21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

Bulan Dzulqo’dah Hari ke-21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30
Bulan Dzulqo’dah Hari ke-21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30

 

SURAU.CO – Di sebuah kampung yang tenang di kaki perbukitan, hiduplah seorang guru tua yang dikenal bijaksana.

Setiap memasuki akhir bulan Dzulqo’dah, beliau selalu mengajak murid-muridnya berkumpul selepas Magrib.

Suatu malam, beliau berkata pelan:
“Anak-anak, sepuluh hari terakhir Dzulqo’dah ibarat jalan sunyi sebelum tamu agung datang. Siapa yang menyiapkan hati, maka ia akan menyambut cahaya dengan tenang.”
Para murid mendengarkan dengan khusyuk.

Lalu sang guru menuliskan angka di papan kayu:
21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30
Beliau berkata:
“Hari-hari ini terlihat biasa di mata manusia, namun bagi orang yang berpikir, setiap angka menyimpan pelajaran.”

Politik Doa: Strategi Menjaga Hati Tetap Dingin di Tahun Politik

Hari ke-21
“Mulailah membersihkan hati dari iri dan sombong. Sebab hati yang kotor sulit menerima hikmah.”

Hari ke-22
“Perbaiki ucapan. Lidah bisa menjadi pintu pahala, namun juga menjadi jalan penyesalan.”

Hari ke-23
“Belajarlah bersyukur walau sedikit. Orang yang bersyukur akan melihat nikmat di setiap keadaan.”

Hari ke-24
“Jangan lelah berbuat baik meski tidak dipuji manusia. Langit tetap mencatatnya.”

Hari ke-25
“Dekatkan diri kepada ilmu yang membawa manfaat, bukan ilmu yang menumbuhkan kesombongan.”

Zikir Ekologis: Menemukan Keagungan Tuhan melalui Kelestarian Alam

Hari ke-26
“Maafkan orang lain agar hati menjadi ringan. Dendam hanya memberatkan perjalanan jiwa.”

Hari ke-27
“Perbanyak doa dalam diam. Ada doa yang tidak terdengar manusia, tetapi langsung sampai kepada Alloh.”

Hari ke-28
“Gunakan waktu dengan bijak. Dan Hari yang pergi tidak akan kembali.”

Hari ke-29
“Renungkan kehidupan. Dunia hanyalah tempat singgah sebelum perjalanan panjang.”

Hari ke-30
“Siapkan diri menyambut bulan berikutnya dengan niat yang lebih bersih dan amal yang lebih tulus.”

Mengapa Masyarakat Religius Wajib Menjadi Garda Terdepan Pelestarian Lingkungan?

Para murid terdiam. Angin malam berhembus lembut membawa suara dedaunan.

Salah satu murid bertanya, “Guru, mengapa hari-hari akhir Dzulqo’dah terasa begitu penting?”

Sang guru tersenyum lalu menjawab:
“Karena manusia sering menunggu waktu besar, tetapi lupa memperbaiki diri pada waktu-waktu kecil. Padahal gunung tinggi tersusun dari butiran tanah yang kecil.”

Beliau melanjutkan:
“Orang bijak tidak hanya menghitung hari dalam kalender, tetapi menghitung seberapa banyak hati telah berubah menjadi lebih baik.”

Malam itu para murid pulang dengan langkah pelan. Mereka memandang langit Dzulqo’dah yang tenang sambil membawa satu pelajaran:
Bahwa setiap hari adalah kesempatan memperbaiki diri sebelum waktu benar-benar habis.

 

 

 


Renungan Hati dan Akal “Huruf O di Negara Manapun Tetap Dibaca O, Ditulis di Depan Jadi Besar Setelah Itu Kecil”

Di sebuah ruang sunyi, seorang guru menuliskan satu huruf di papan tulis:

O
Lalu beliau berkata kepada murid-muridnya:
“Ke mana pun huruf ini pergi, di negeri mana pun berada, namanya tetap dibaca O. Ia tidak sombong karena tempat, tidak berubah karena keadaan.”

Murid-murid terdiam.

Sang guru kembali menulis:
Orang
Huruf pertama terlihat besar, sedangkan huruf setelahnya menjadi kecil.

Beliau tersenyum lalu berkata:
“Beginilah hidup manusia. Saat berada di depan, banyak orang ingin tampak besar. Ingin dihormati, dipuji, dianggap paling tinggi.

Namun setelah itu, sering kali ia menjadi kecil dalam akhlak, kecil dalam keikhlasan, dan kecil dalam rasa syukur.”

Kemudian beliau melanjutkan:
“Huruf O mengajarkan bahwa bentuknya bulat tanpa ujung. Seperti kehidupan yang terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah.

Maka jangan membesarkan diri ketika berada di depan, sebab waktu bisa membuat semuanya mengecil.”

Seorang murid bertanya: “Lalu bagaimana agar tetap bernilai walau tidak besar?”
Guru itu menjawab:
“Jadilah seperti huruf O.

Meski sederhana, ia selalu dibutuhkan. Ia melengkapi kata, melengkapi makna, dan tetap sama bacaannya di mana pun berada.

Orang yang rendah hati juga demikian tidak berubah karena jabatan, tidak berubah karena pujian.”

Hati yang tenang tidak sibuk terlihat besar.

Karena yang meninggikan manusia bukan tulisan namanya, melainkan kebersihan hatinya.

Makna yang diambil :
Jangan membesarkan diri hanya karena berada di depan.

Rendah hati membuat seseorang tetap bernilai di mana pun berada.

Kehormatan sejati lahir dari akhlak, bukan penampilan.

Orang bijak tetap menjadi dirinya sendiri walau berada di tempat berbeda.

“Semakin berisi padi, semakin ia merunduk.
Semakin dalam ilmu seseorang, semakin lembut hatinya.” (Oleh Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.