SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CM Corner
Beranda » Berita » Literasi dalam Islam: Mengapa Ulama Terdahulu Sangat Haus Akan Ilmu?

Literasi dalam Islam: Mengapa Ulama Terdahulu Sangat Haus Akan Ilmu?

Ilmu Lebih Berharga Dari Harta: Inspirasi Parenting Dari Kisah Farrukh dan Rabi'ah
Ilmu Lebih Berharga Dari Harta: Inspirasi Parenting Dari Kisah Farrukh dan Rabi'ah

Sejarah peradaban Islam berdiri di atas fondasi literasi yang sangat kuat. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Kalimat “Iqra” atau “Bacalah” menjadi titik balik bagi sejarah manusia. Perintah ini memicu semangat intelektual yang luar biasa di kalangan umat Muslim. Para ulama terdahulu menganggap aktivitas membaca bukan sekadar hobi. Mereka memandang membaca sebagai bentuk ibadah tertinggi kepada Allah SWT.

Spirit Wahyu Pertama sebagai Motor Penggerak

Islam sangat memuliakan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Al-Qur’an dan Hadis berkali-kali menekankan pentingnya proses belajar dan berpikir. Hal ini menciptakan budaya literasi dalam Islam yang sangat masif. Ulama masa lalu memahami bahwa ilmu adalah kunci mengenal Sang Khalik. Tanpa membaca, mereka tidak akan mampu memahami syariat dengan sempurna. Semangat inilah yang membuat mereka mampu melahirkan karya-karya monumental bagi dunia.

Seorang ulama tidak akan merasa puas dengan satu atau dua buku. Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendalami berbagai disiplin ilmu. Mereka mempelajari tafsir, hadis, sains, kedokteran, hingga filsafat secara mendalam. Tradisi ini membentuk karakter intelektual yang kuat dan berwawasan luas. Dunia Barat bahkan mengakui keunggulan ilmuwan Muslim pada masa keemasan tersebut.

Kisah Fenomenal Kegilaan Membaca Para Ulama

Kegigihan ulama dalam membaca sering kali berada di luar nalar manusia modern. Mari kita lihat kisah Al-Jahiz, seorang sastrawan besar dari Basra. Al-Jahiz memiliki kebiasaan menyewa toko buku untuk menginap di dalamnya. Ia sengaja membayar pemilik toko agar bisa membaca buku sepanjang malam. Ia tidak ingin melewatkan satu halaman pun tanpa mendapatkan pengetahuan baru.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Imam Ibnu al-Jauzi. Beliau pernah memberikan pengakuan yang sangat mengejutkan mengenai kecintaannya pada buku. Dalam salah satu catatannya, beliau berkata:

MENYINGKAP RAHASIA WAKTU, ALLAH MEMBUKA JALAN KELUAR DAN SOLUSI BAGI KESULITAN HIDUP (ANALISIS DALIL NAQLI DAN KONTEKS TAFSIR PSIKOLOGI)

“Aku pernah melihat 20.000 jilid buku saat aku masih berstatus sebagai penuntut ilmu.”

Beliau melahap ribuan kitab tersebut untuk memperkaya khazanah pemikirannya. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya para pendahulu kita dalam mengejar ilmu pengetahuan.

Bahkan, saat menjelang ajal pun, semangat literasi mereka tidak pernah padam. Abu Raihan Al-Biruni tetap berdiskusi mengenai masalah waris saat sedang sakit parah. Ketika sahabatnya merasa iba, Al-Biruni justru memberikan jawaban yang sangat berharga. Ia berkata:

“Mana yang lebih baik, aku meninggalkan dunia ini dalam keadaan mengetahui masalah ini, atau aku mati dalam keadaan bodoh terhadapnya?”

Dedikasi seperti inilah yang membuat peradaban Islam memimpin dunia selama berabad-abad.

𝙋𝙀𝙉𝙏𝙄𝙉𝙂𝙉𝙔𝘼 𝙎𝙀𝙆𝙊𝙇𝘼𝙃 𝙋𝙊𝙇𝙄𝙏𝙄𝙆 𝙈𝘼𝙎𝙔𝙐𝙈𝙄 (𝙎𝙋𝙈) 𝘿𝘼𝙇𝘼𝙈 𝙈𝙀𝙒𝙐𝙅𝙐𝘿𝙆𝘼𝙉 𝙄𝙉𝘿𝙊𝙉𝙀𝙎𝙄𝘼 𝙀𝙈𝘼𝙎 2045.

Perpustakaan: Jantung Peradaban Islam

Budaya literasi dalam Islam melahirkan perpustakaan-perpustakaan raksasa di berbagai kota besar. Baghdad memiliki Bayt al-Hikmah yang menjadi pusat penerjemahan dunia. Kordoba di Spanyol memiliki koleksi buku yang mencapai ratusan ribu judul. Bandingkan dengan Eropa saat itu yang masih berada dalam masa kegelapan. Rakyat biasa di dunia Islam bisa mengakses buku dengan sangat mudah.

Ulama dulu sering melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu buah kitab. Mereka rela menempuh ribuan kilometer demi menemui seorang guru atau naskah asli. Perjalanan ini mereka sebut sebagai Rihlah ‘Ilmiyyah. Pengorbanan tenaga, waktu, dan harta mereka curahkan sepenuhnya untuk literasi. Hal ini membuktikan bahwa buku adalah harta yang paling berharga bagi mereka.

Mengapa Kita Harus Meniru Mereka?

Saat ini, tantangan literasi semakin berat karena gangguan teknologi digital. Masyarakat lebih suka membaca teks pendek yang kurang mendalam di media sosial. Padahal, kedalaman ilmu hanya bisa didapat melalui bacaan yang serius dan terstruktur. Meniru semangat ulama dalam membaca akan mengembalikan kejayaan umat. Kita perlu menanamkan kembali bahwa membaca adalah jalan menuju kemuliaan.

Membaca meningkatkan kualitas berpikir dan kebijaksanaan seseorang dalam bertindak. Literasi dalam Islam bukan hanya soal menumpuk informasi di dalam kepala. Tujuan utamanya adalah untuk diamalkan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Sebagaimana kutipan populer dalam tradisi keilmuan:

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.”

100 AKHLAK MULIA RASULULLAH YANG MENJADI SUNNAH UNTUK DITELADANI

Semboyan ini harus menjadi motivasi harian bagi setiap Muslim modern.

Kesimpulan

Ulama terdahulu “gila” membaca karena mereka mencintai kebenaran dan rida Allah. Mereka menjadikan buku sebagai sahabat setia di kala sendu maupun senang. Tradisi literasi dalam Islam telah membuktikan bahwa ilmu adalah kekuatan utama sebuah bangsa. Tanpa membaca, sebuah peradaban akan kehilangan arah dan mudah hancur. Mari kita hidupkan kembali budaya membaca demi masa depan yang lebih cerah. Jangan biarkan buku-buku hebat hanya menjadi hiasan di rak perpustakaan kita.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.