Imam Malik bin Anas merupakan sosok ulama besar yang sangat disegani dalam sejarah Islam. Beliau lahir pada tahun 93 Hijriah dan menghabiskan hampir seluruh usianya di Kota Madinah. Sebagai pendiri Mazhab Maliki, beliau memiliki pengaruh yang sangat luas hingga saat ini. Namun, ada satu sisi kepribadian beliau yang sangat menyentuh hati banyak orang. Beliau menunjukkan rasa hormat yang luar biasa terhadap tanah suci Madinah dan keberadaan Rasulullah SAW.
Salah satu bukti kecintaan beliau adalah komitmennya untuk tidak pernah berkendaraan di dalam kota Madinah. Baik itu menggunakan kuda, unta, maupun keledai, Imam Malik selalu memilih berjalan kaki. Beliau melakukan hal ini bukan karena tidak mampu membeli hewan tunggangan. Sebaliknya, beliau adalah ulama yang berkecukupan dan memiliki martabat tinggi di mata para penguasa.
Alasan Di Balik Tindakan Imam Malik
Keinginan kuat untuk menghormati Nabi Muhammad SAW menjadi alasan utama di balik tindakan tersebut. Imam Malik merasa sangat malu jika harus memacu hewan tunggangan di atas tanah yang menyimpan jasad suci Rasulullah. Beliau ingin setiap langkah kakinya menyentuh tanah Madinah dengan penuh kerendahan hati. Penghormatan ini mencerminkan kedalaman rasa cinta atau mahabbah beliau kepada sang pembawa risalah Islam.
Dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, Imam Malik pernah menyampaikan alasan pribadinya secara langsung. Beliau berkata:
“Aku malu kepada Allah jika aku menginjakkan kaki hewan tunggangan di atas tanah yang di dalamnya terdapat jasad Rasulullah SAW.”
Pernyataan ini menunjukkan betapa tingginya standar adab yang Imam Malik terapkan dalam kehidupannya. Beliau tidak hanya memahami teks-teks hadis secara lisan, tetapi juga meresapinya ke dalam perilaku sehari-hari. Baginya, Madinah bukan sekadar kota biasa, melainkan tempat bersemayamnya sosok yang paling mulia di alam semesta.
Menjaga Martabat Ilmu dan Hadis
Selain perilaku saat berjalan di Madinah, Imam Malik juga sangat memperhatikan adab saat mengajar. Beliau tidak pernah menyampaikan hadis Nabi dalam keadaan tidak suci atau terburu-buru. Sebelum mulai mengajar di Masjid Nabawi, beliau biasanya mandi terlebih dahulu dan mengenakan pakaian terbaik. Beliau juga memakai parfum yang sangat harum dan merapikan sorbannya dengan sangat teliti.
Imam Malik ingin setiap orang yang mendengarkan hadis merasakan keagungan pesan tersebut. Beliau pernah berkata mengenai prinsipnya dalam menjaga ilmu:
“Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.”
Prinsip inilah yang membuat para khalifah dan pembesar negara harus mendatangi rumah beliau jika ingin belajar. Imam Malik menolak untuk membawa ilmu agama ke istana demi menjaga kehormatan ilmu itu sendiri. Ketegasan ini membuat beliau sangat dihormati oleh kawan maupun lawan politiknya pada masa itu.
Kedisiplinan Imam Malik dalam Menyusun Al-Muwatta
Imam Malik menghabiskan waktu puluhan tahun untuk menyusun kitab mahakaryanya, Al-Muwatta. Kitab ini merupakan kumpulan hadis dan hukum fikih yang menjadi rujukan utama penduduk Madinah. Beliau menyeleksi ribuan hadis dengan sangat ketat sebelum memasukkannya ke dalam kitab tersebut. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi beliau terhadap kebenaran ilmu sangatlah tinggi.
Kedisiplinan Imam Malik juga terlihat dari cara beliau menghadapi gangguan saat mengajar. Pernah suatu ketika, seekor kalajengking menyengat punggung beliau berkali-kali saat sedang membacakan hadis. Namun, Imam Malik tidak bergerak sedikit pun dan tetap melanjutkan bacaannya hingga selesai. Beliau menahan rasa sakit demi menghormati hadis Rasulullah yang sedang beliau sampaikan kepada para murid.
Teladan Adab Sebelum Ilmu
Kisah Imam Malik mengajarkan kepada kita semua bahwa adab menempati posisi di atas ilmu pengetahuan. Kepintaran seseorang tidak akan membawa keberkahan tanpa adanya rasa hormat dan tata krama yang baik. Imam Malik membuktikan bahwa cinta kepada Nabi Muhammad SAW harus terwujud dalam tindakan nyata yang konsisten.
Hingga akhir hayatnya pada tahun 179 Hijriah, Imam Malik tetap menjadi mercusuar ilmu di Kota Madinah. Beliau tidak pernah meninggalkan kota tersebut kecuali untuk urusan yang sangat mendesak. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi, tidak jauh dari makam Rasulullah yang sangat beliau cintai.
Kini, jutaan umat Islam yang mengunjungi Madinah sering teringat akan keteladanan Imam Malik. Meskipun zaman telah berganti dan teknologi transportasi semakin maju, nilai-nilai penghormatan beliau tetap relevan. Kita perlu mencontoh bagaimana beliau memuliakan Rasulullah, menjaga kesucian ilmu, dan mengedepankan adab dalam setiap langkah kehidupan.
Semoga kisah Imam Malik ini menginspirasi kita untuk semakin mencintai Rasulullah SAW. Mari kita terus belajar untuk memperbaiki adab sebelum kita mengejar ilmu yang lebih tinggi. Keberkahan ilmu hanya akan hadir dalam hati yang penuh dengan rasa hormat dan ketulusan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
