Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya melibatkan kekuatan senjata dan strategi militer modern. Di balik dahsyatnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, terdapat kekuatan spiritual besar dari para ulama. Salah satu tokoh sentral yang memegang peranan krusial adalah KH Abbas Abdul Jamil, atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Abbas Buntet. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang memiliki pengaruh luas di kalangan santri dan pejuang.
Sang Panglima Langit dari Cirebon
Kiai Abbas Buntet lahir pada tahun 1879 di Cirebon dan tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan nilai-nilai agama. Beliau merupakan putra dari KH Abdul Jamil dan cucu dari Mbah Muqoyyim, pendiri Pesantren Buntet. Kedalaman ilmu agamanya tidak perlu diragukan lagi karena beliau sempat menimba ilmu di Makkah selama bertahun-tahun. Selain ahli dalam bidang fiqih dan tasawuf, Kiai Abbas juga terkenal memiliki ilmu kanuragan dan kesaktian yang luar biasa.
Dukungan Kiai Abbas terhadap kemerdekaan Indonesia memuncak saat KH Hasyim Asy’ari mencetuskan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan ini mewajibkan setiap Muslim untuk membela tanah air dari ancaman penjajah. Kiai Abbas segera mengorganisir laskar-laskar santri di wilayah Jawa Barat untuk berangkat menuju Surabaya. Beliau menjadi jembatan penting yang menghubungkan semangat juang para ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan kekuatan santri dari Cirebon.
Menunda Pertempuran Demi Sang Kiai
Ada satu fakta sejarah yang menarik mengenai keterlibatan beliau dalam palagan Surabaya. Bung Tomo dan para pejuang di Surabaya sebenarnya ingin segera memulai serangan besar terhadap tentara Sekutu. Namun, KH Hasyim Asy’ari memerintahkan untuk menunda serangan tersebut sampai “Singa dari Jawa Barat” tiba di lokasi. Sosok yang beliau maksud tidak lain adalah Kiai Abbas Buntet.
Kiai Hasyim Asy’ari menyatakan, “Tunggu dulu, Kiai Abbas belum datang.” Hal ini menunjukkan betapa besar posisi Kiai Abbas dalam strategi perang kaum sarungan saat itu. Kehadiran beliau bukan hanya untuk menambah jumlah pasukan, tetapi untuk memberikan kekuatan moral dan spiritual bagi para pejuang. Begitu Kiai Abbas tiba di Surabaya, barulah perintah jihad total berkumandang secara luas ke seluruh penjuru kota.
Kesaktian di Tengah Hujan Peluru
Banyak saksi sejarah menceritakan karomah atau kesaktian Kiai Abbas saat memimpin pertempuran di Surabaya. Konon, beliau mampu merontokkan pesawat tempur Inggris hanya dengan menggunakan butiran pasir dan doa. Cerita tutur di kalangan santri menyebutkan bahwa beliau melemparkan butiran pasir ke arah langit yang kemudian berubah menjadi ledakan dahsyat di udara.
Selain itu, terdapat kisah legendaris tentang sorban dan alas kaki kayu (bakiak) milik beliau yang ikut “bertempur” di angkasa. Meskipun cerita ini terdengar mistis bagi logika modern, namun bagi para pejuang saat itu, fenomena tersebut merupakan bantuan gaib dari Tuhan. Kekuatan spiritual inilah yang membuat nyali tentara Inggris menciut meskipun mereka memiliki persenjataan yang jauh lebih canggih.
Kutipan Resolusi Jihad
Keterlibatan Kiai Abbas merupakan manifestasi nyata dari isi Resolusi Jihad yang berbunyi:
“Bahwa berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ‘ain (yang dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak) bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.”
Kutipan tersebut menjadi landasan hukum bagi Kiai Abbas untuk mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan santrinya di medan laga. Beliau tidak hanya duduk diam di pesantren, tetapi terjun langsung memimpin Laskar Hizbullah dan Sabilillah melawan penjajah.
Warisan Keteladanan untuk Bangsa
Kiai Abbas Buntet wafat pada tahun 1946, tak lama setelah peristiwa heroik di Surabaya tersebut. Beliau meninggalkan warisan kepemimpinan yang memadukan antara kedalaman ilmu agama dengan nasionalisme yang kuat. Pesantren Buntet hingga saat ini tetap menjadi pusat pendidikan Islam yang terus menyuarakan pentingnya mencintai tanah air.
Generasi muda saat ini perlu meneladani semangat perjuangan Kiai Abbas Buntet. Beliau mengajarkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari semangat kebangsaan. Perjuangan membela negara merupakan bagian integral dari ibadah kepada Allah SWT. Sosoknya akan selalu tercatat sebagai pahlawan bangsa yang menjaga kedaulatan Indonesia melalui jalur langit dan bumi.
Kisah Kiai Abbas membuktikan bahwa ulama memiliki peran strategis dalam setiap sendi kehidupan berbangsa. Tanpa doa dan strategi dari para kiai, sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin akan tertulis dengan narasi yang berbeda. Kita harus terus menghargai jasa para ulama yang telah mengorbankan segalanya demi merah putih tetap berkibar.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
