Banyak orang dalam perjalanan spiritual seringkali terjebak pada pencarian keajaiban atau hal-hal supranatural. Fenomena ini muncul karena anggapan bahwa tanda kedekatan seorang hamba dengan Tuhan adalah kepemilikan karomah. Namun, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari memberikan perspektif yang sangat berbeda dalam kitab legendarisnya, Al-Hikam. Beliau menegaskan bahwa karomah bukanlah tujuan utama bagi seorang pencari Tuhan.
Meluruskan Niat dalam Beribadah
Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan para murid agar tidak mengejar karomah sebagai target spiritual. Beliau memandang keinginan mendapatkan keajaiban sebagai bentuk ketidakikhlasan dalam menghamba. Seorang hamba yang sejati hanya mencari rida Allah, bukan mencari kemampuan luar biasa yang bisa memukau manusia.
Beliau menuliskan sebuah kutipan penting dalam kitabnya:
“Terkadang Allah memberikan karomah kepada orang yang belum sempurna istiqomahnya.”
Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam. Allah memberikan keistimewaan tersebut bukan sebagai piala kemenangan, melainkan sebagai penguat iman bagi mereka yang masih lemah. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengukur tingkat kewalian seseorang hanya dari kemampuan terbang atau berjalan di atas air.
Bahaya Mengejar Pengakuan Manusia
Keinginan agar orang lain melihat keramat kita merupakan jebakan nafsu yang halus. Syekh Ibnu Athaillah sangat mewanti-wanti hal ini. Jika seseorang merasa bangga dengan keistimewaan tersebut, ia justru menjauh dari hakikat ketulusan. Nafsu seringkali bersembunyi di balik bungkus spiritualitas yang terlihat suci.
Pencarian karomah seringkali bersumber dari keinginan ego untuk tampil beda dan dihormati. Hal ini justru bertentangan dengan prinsip tasawuf yang menekankan pada kefanaan diri. Seorang penempuh jalan spiritual sejati justru berusaha menyembunyikan kelebihannya agar tidak terjatuh ke dalam jurang riya.
Istiqomah Adalah Karomah yang Sesungguhnya
Para ulama sufi sering berpesan bahwa istiqomah lebih mulia daripada seribu karomah. Istiqomah berarti teguh dalam menjalankan syariat dan terus menerus berada dalam ketaatan tanpa goyah. Menjaga hati tetap bersih dan konsisten beribadah jauh lebih sulit daripada melakukan hal-hal ajaib.
Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa tujuan utama hidup adalah menjadi hamba Allah yang benar. Beliau menyatakan:
“Keinginanmu agar orang lain mengetahui keistimewaanmu adalah bukti ketidaktulusanmu dalam menghamba.”
Pernyataan ini memaksa kita untuk melihat kembali ke dalam hati. Apakah kita beribadah untuk Allah, atau kita beribadah karena menginginkan status “orang suci” di mata masyarakat? Karomah yang sejati adalah perubahan akhlak dari buruk menjadi baik secara konsisten.
Mengapa Allah Menampilkan Karomah?
Jika karomah bukanlah tujuan, mengapa Allah tetap menampakkannya pada para wali? Allah memberikan karomah semata-mata sebagai tanda kekuasaan-Nya. Terkadang, karomah muncul untuk menolong agama Allah atau membantu sesama dalam kondisi darurat. Namun, para wali tidak pernah meminta atau merasa memilikinya.
Mereka justru merasa takut saat keajaiban itu muncul. Mereka khawatir bahwa hal tersebut adalah ujian (istidraj) yang bisa melalaikan mereka. Sikap rendah hati inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi setiap Muslim. Kita harus fokus memperbaiki kualitas salat dan zikir harian daripada membayangkan kekuatan supranatural.
Fokus pada Perbaikan Diri
Dalam perjalanan spiritual, fokus utama kita seharusnya adalah membersihkan hati dari kotoran duniawi. Syekh Ibnu Athaillah mengajarkan kita untuk selalu merasa butuh kepada Allah dalam setiap embusan napas. Kita tidak perlu mencari pengakuan melalui hal-hal yang luar biasa.
Dunia modern saat ini seringkali mengomersialkan hal-hal yang berbau mistis. Banyak orang tertipu oleh penampilan luar yang tampak sakti namun mengabaikan syariat. Ajaran Syekh Ibnu Athaillah menjadi benteng yang kuat agar kita tetap berada di jalur yang benar. Keajaiban paling besar dalam hidup adalah saat kita bisa menundukkan nafsu demi menaati perintah Pencipta.
Kesimpulan
Bagi setiap Muslim, memahami bahwa karomah bukanlah tujuan merupakan langkah awal menuju kemurnian tauhid. Mari kita prioritaskan istiqomah dalam ibadah dan perbaikan akhlak setiap hari. Itulah inti dari ajaran Syekh Ibnu Athaillah yang tetap relevan hingga saat ini. Keberhasilan spiritual tidak diukur dari seberapa banyak keajaiban yang kita alami, melainkan dari seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
