Nama Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari al-Bantani menggema melampaui batas samudera dari Gowa hingga ke ujung Afrika Selatan. Beliau bukan sekadar pejuang kemerdekaan yang melawan hegemoni VOC di Nusantara, namun juga merupakan figur spiritual yang membawa cahaya Islam. Masyarakat di Cape Town, Afrika Selatan, hingga hari ini masih menceritakan berbagai kisah ajaib atau karomah yang menyertai perjalanan hidup sang ulama.
Pemerintah kolonial Belanda menganggap Syekh Yusuf sebagai ancaman besar bagi stabilitas politik mereka di tanah Jawa dan Sulawesi. Oleh karena itu, kompeni membuang beliau ke Sri Lanka sebelum akhirnya memindahkannya ke Cape Town pada tahun 1694. Meskipun hidup dalam pengasingan yang sangat ketat, semangat dakwah Syekh Yusuf tidak pernah padam sedikit pun di hati sanubarinya.
Keajaiban Air Tawar di Tengah Samudera
Salah satu kisah karomah yang paling legendaris terjadi saat kapal Belanda membawa Syekh Yusuf menuju tempat pengasingannya di Afrika. Di tengah perjalanan yang melelahkan, kapal tersebut kehabisan persediaan air bersih bagi para awak dan tahanan yang berada di dalamnya. Situasi menjadi sangat kritis karena ancaman kematian akibat dehidrasi mulai menghantui seluruh penumpang kapal kayu tersebut.
Dalam kondisi yang mencekam itu, Syekh Yusuf menunjukkan kemuliaannya sebagai seorang waliyullah yang sangat dekat dengan Sang Pencipta. Beliau mencelupkan kakinya ke dalam air laut yang asin, lalu meminta para awak kapal untuk segera mengambil air tersebut. Ajaibnya, air laut yang tadinya sangat asin berubah menjadi air tawar yang sangat segar dan layak untuk mereka minum.
Kutipan sejarah mencatat: “Syekh Yusuf mencelupkan kakinya ke dalam air laut yang asin, dan seketika itu juga air tersebut berubah menjadi tawar sehingga menyelamatkan seluruh penumpang kapal.”
Menanam Benih Islam di Macassar, Cape Town
Belanda menempatkan Syekh Yusuf di kawasan terpencil bernama Zandvliet agar beliau tidak bisa berinteraksi dengan penduduk lokal maupun budak. Namun, rencana kolonial tersebut justru menjadi bumerang karena lokasi pembuangan itu berubah menjadi pusat peradaban baru bagi umat Muslim. Kawasan itu kini kita kenal dengan nama Macassar, sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah kelahiran sang ulama besar tersebut.
Beliau terus mengajarkan zikir, tasawuf, dan prinsip-prinsip tauhid kepada para budak yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Keberadaan Syekh Yusuf memberikan kekuatan moral bagi kaum tertindas untuk tetap teguh memeluk agama Islam di tengah tekanan kolonial. Karomah beliau tidak hanya berupa keajaiban fisik, tetapi juga kemampuan menggerakkan hati manusia untuk kembali kepada jalan kebenaran Tuhan.
Seorang sejarawan lokal pernah berkata: “Syekh Yusuf bukan sekadar tawanan, beliau adalah mercusuar harapan bagi para budak yang merindukan kemerdekaan jiwa dan raga.”
Perlindungan Gaib dari Kejaran Musuh
Selama masa perjuangan fisik di Banten dan Gowa, Syekh Yusuf seringkali menunjukkan karomah yang membuat pasukan Belanda merasa sangat frustrasi. Prajurit kolonial berkali-kali mengepung posisi beliau, namun mereka selalu gagal menangkap sang ulama karena sosoknya seolah-olah menghilang begitu saja. Masyarakat meyakini bahwa Syekh Yusuf memiliki ilmu melipat bumi atau kemampuan untuk berada di beberapa tempat berbeda secara bersamaan.
Banyak saksi mata pada zaman itu menceritakan bahwa peluru meriam musuh tidak mampu melukai tubuh Syekh Yusuf sedikit pun. Kekuatan doa dan kedekatan spiritualnya membuat beliau mendapatkan perlindungan langsung dari Allah SWT dalam setiap pertempuran melawan ketidakadilan kompeni. Keajaiban-keajaiban inilah yang kemudian semakin memperkuat keyakinan para pengikutnya untuk terus berjuang melawan penjajahan bangsa Eropa tersebut.
Warisan Abadi di Tanah Afrika
Syekh Yusuf wafat pada tanggal 23 Mei 1699 di tanah pengasingannya, Macassar, Cape Town, Afrika Selatan. Meskipun jasadnya kemudian dibawa kembali ke Gowa, makamnya di Afrika (Kramat) tetap menjadi situs yang sangat sakral. Hingga saat ini, ribuan peziarah dari berbagai negara mengunjungi makam tersebut untuk mengenang jasa dan mencari keberkahan dari sang ulama.
Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, bahkan menyebut Syekh Yusuf sebagai “Salah Satu Putra Afrika Terbaik” dan inspirasi perjuangan. Penghargaan ini membuktikan bahwa pengaruh spiritual dan intelektual Syekh Yusuf telah menembus sekat-sekat perbedaan bangsa, ras, dan juga agama. Beliau adalah pahlawan nasional bagi dua negara sekaligus, yaitu Indonesia dan Afrika Selatan, sebuah pencapaian yang sangat langka.
Kita harus terus meneladani kegigihan Syekh Yusuf Al-Makassari dalam memegang teguh prinsip iman meskipun berada dalam kondisi tersulit. Karomah yang beliau miliki adalah bukti nyata bahwa pertolongan Tuhan akan selalu datang kepada hamba-Nya yang tulus berjuang. Mari kita jaga warisan spiritual ini agar cahaya Islam tetap bersinar terang di seluruh penjuru dunia hingga akhir zaman nanti.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
