SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosok
Beranda » Berita » TUKANG FITNAH, ADU DOMBA, DAN PEMBOHONG : BUAH HATI YANG RUSAK DAN ANCAMAN TIDAK MASUK SURGA

TUKANG FITNAH, ADU DOMBA, DAN PEMBOHONG : BUAH HATI YANG RUSAK DAN ANCAMAN TIDAK MASUK SURGA

 

Oleh : Basa Alim Tualeka (obasa)

  1. Pengantar: Penyakit Hati yang Menghancurkan Kehidupan

Dalam kehidupan sosial, ada tiga penyakit besar yang sangat berbahaya dan merusak tatanan manusia, yaitu fitnah, adu domba (namimah), dan kebohongan. Ketiganya bukan sekadar kesalahan biasa, melainkan dosa besar yang bersumber dari hati yang rusak dan akhlak yang buruk. Perbuatan ini sering dianggap ringan, padahal dampaknya sangat luas, baik secara individu maupun sosial.

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan peringatan keras terhadap perilaku ini. Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa pelaku adu domba tidak akan masuk surga. Ini menunjukkan bahwa masalah lisan dan hati bukan hal sepele, tetapi menentukan nasib seseorang di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda:

Sholat Sunnah sebagai Pijakan di Atasnya

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa akar dari segala perilaku manusia adalah hati. Jika hati dipenuhi iman dan keikhlasan, maka lisannya akan jujur dan menyejukkan. Namun jika hati dipenuhi penyakit, maka lisannya akan menjadi sumber kerusakan.

  1. Fitnah: Dosa yang Lebih Kejam dari Pembunuhan

Fitnah adalah menyebarkan kabar yang tidak benar, atau menyampaikan kebenaran dengan tujuan merusak dan menjatuhkan orang lain. Dalam Islam, fitnah termasuk dosa besar karena dampaknya bisa menghancurkan kehormatan seseorang bahkan kehidupan sosial secara luas.

Allah SWT berfirman:

“Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”
(QS. Al-Baqarah: 191)

Antara Keinginan dan Ketetapan Allah: Menemukan Hikmah di Balik Takdir

Makna ayat ini sangat dalam. Pembunuhan hanya menghilangkan nyawa seseorang, tetapi fitnah bisa membunuh karakter, nama baik, kehormatan, bahkan masa depan seseorang. Fitnah juga bisa memecah belah masyarakat dan menimbulkan konflik berkepanjangan.

Di era modern saat ini, fitnah semakin mudah tersebar melalui media sosial. Tanpa verifikasi, seseorang bisa langsung menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Hal ini memperparah dosa fitnah karena jangkauannya lebih luas dan dampaknya lebih besar.

Allah SWT juga memperingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam menjaga kehati-hatian terhadap informasi agar tidak terjerumus dalam dosa fitnah.

10 CARA MENAKLUKKAN AMARAH ORANG LAIN, DAN AMARAH DIRI SENDIRI DENGAN SENYUMAN DAN 1 TARIKAN NAFAS (PERSPEKTIF AL-QUR’AN, AL-HADITS, PSIKOLOGI EMOSI, ILMU KEDOKTERAN JIWA, DAN FILSAFAT KETENANGAN)*

  1. Adu Domba (Namimah): Penghancur Persaudaraan

Adu domba adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya. Perilaku ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, maupun masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini merupakan peringatan keras bahwa adu domba termasuk dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Orang yang melakukan namimah ibarat menyalakan api permusuhan di antara manusia.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang suka mencela, yang ke sana kemari menyebarkan fitnah (adu domba).”
(QS. Al-Qalam: 10-11)

Ayat ini menggambarkan karakter orang yang suka mengadu domba: rendah akhlaknya, suka mencela, dan tidak memiliki integritas moral.

Adu domba sering dilakukan dengan cara halus, seperti menyampaikan ucapan yang dipotong, ditambah, atau dibelokkan maknanya. Tujuannya jelas: menciptakan konflik dan perpecahan.

  1. Bohong: Akar dari Segala Kejahatan

Kebohongan adalah sumber dari banyak dosa lainnya. Orang yang terbiasa berbohong akan mudah melakukan fitnah dan adu domba. Kebohongan juga merusak kepercayaan, yang merupakan fondasi utama dalam hubungan sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga… dan kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain:

“Tanda orang munafik ada tiga: jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkari, dan jika dipercaya ia khianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kebohongan bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga menghancurkan diri sendiri. Orang yang sering berbohong akan kehilangan kepercayaan dan kehormatan di mata manusia.

  1. Akar Permasalahan: Hati yang Sakit dan Akhlak yang Buruk

Semua perilaku buruk tersebut berasal dari hati yang sakit. Penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan benci menjadi sumber utama munculnya fitnah, adu domba, dan kebohongan.

Allah SWT berfirman:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu…”
(QS. Al-Baqarah: 10)

Hati yang sakit tidak mampu menerima kebenaran. Ia lebih memilih kebohongan dan permusuhan daripada kejujuran dan kedamaian.

Akhlak yang buruk adalah cerminan dari hati yang rusak. Sebaliknya, akhlak yang mulia adalah tanda hati yang bersih.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)

  1. Dampak Sosial: Kerusakan yang Meluas

Fitnah, adu domba, dan kebohongan memiliki dampak sosial yang sangat besar. Di antaranya:

  1. Rusaknya kepercayaan antar individu

  2. Hancurnya persaudaraan dan silaturahmi

  3. Timbulnya konflik dan perpecahan

  4. Hilangnya keadilan dan kebenaran

  5. Terciptanya suasana penuh kecurigaan

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perilaku ini bisa menjadi sumber konflik besar yang mengancam persatuan dan kesatuan.

  1. Ancaman Tidak Masuk Surga

Ancaman tidak masuk surga bagi pelaku adu domba dan pendusta menunjukkan betapa beratnya dosa tersebut. Namun, para ulama menjelaskan bahwa ancaman ini berlaku bagi mereka yang terus-menerus melakukannya tanpa taubat.

Allah SWT tetap membuka pintu taubat:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ini menunjukkan bahwa seberat apa pun dosa seseorang, masih ada kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT.

  1. Jalan Taubat dan Perbaikan Diri

Untuk terbebas dari dosa ini, seseorang harus menempuh jalan taubat:

  1. Menyadari kesalahan

  2. Menyesali perbuatan

  3. Berhenti dari perbuatan tersebut

  4. Bertekad tidak mengulanginya

  5. Meminta maaf kepada yang dirugikan

  6. Memperbanyak amal kebaikan

Selain itu, menjaga lisan menjadi kunci utama.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Penutup: Menjaga Hati, Menjaga Surga

Fitnah, adu domba, dan kebohongan adalah tanda hati yang rusak dan akhlak yang buruk. Perilaku ini tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga menghancurkan diri sendiri dan mengancam keselamatan di akhirat.

Sebaliknya, kejujuran, menjaga lisan, dan mempererat persaudaraan adalah jalan menuju surga. Orang yang menjaga hati dan lisannya akan mendapatkan ketenangan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Mari kita introspeksi diri, menjaga hati dari penyakit, dan menjaga lisan dari kebohongan. Karena setiap kata yang keluar akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang jujur, berakhlak mulia, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Aamiin.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.