“Kiai yang Bisa Bikin Ngantuk Kabur: Cerita Serius Tapi Bikin Senyum di PMKNU”
Hari Rabu, 15 April 2026, di Pondok Pesantren Wali Songo, Lampung Utara, suasana yang biasanya khusyuk berubah jadi… khusyuk plus ngakak tipis-tipis. Penyebabnya bukan karena konsumsi kurang, tapi karena hadirnya satu sosok: Dr. KH. Miftah Faqih dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Beliau datang bukan sekadar sebagai instruktur PMKNU, tapi seperti “charger iman plus WiFi akal sehat” sekali colok, semua peserta langsung “connect”.
Materinya terdengar berat: Merawat Jagat, Membangun Peradaban. Tapi di tangan Kiai Miftah, tema ini berubah jadi seperti ngobrol santai di teras pesantren sambil minum kopi bedanya, kopinya masuk ke hati, bukan ke lambung.
“Merawat jagat itu bukan cuma urusan bumi, tapi juga urusan hati. Kalau hatimu rusak, bumi bisa ikut berisik,” kira-kira begitu gaya beliau. Sederhana, tapi nusuk kayak sandal jepit yang ketiban paku.
Yang paling hidup justru sesi tanya jawab. Bukan karena pertanyaannya sulit, tapi karena jawabannya kadang diselipi “serangan humor halus”. Apalagi ketika salah satu peserta adalah pengasuh tuan rumah, KH Qomaruddin.
Setiap kali nama beliau disebut, ruangan langsung siap bukan tegang, tapi siap ketawa. Kiai Miftah seperti punya “radar khusus” untuk menjadikan beliau bahan analogi. Tapi uniknya, yang dijadikan bahan malah ikut tertawa paling keras. Ini bukan roasting, ini ngaji rasa stand-up.
Peserta lain, termasuk dari Kanwil Kemenag Dr Zulkarnain, Drs. KH Noer Qomaruddin (Pengasuj Pon-Pes Walisongo Lampung Utara), para kiai, dan santri, larut dalam suasana. Tak ada jarak antara instruktur dan peserta. Semua seperti duduk dalam satu lingkaran besar bernama Brother Hood (Ukhuwah).
Di balik canda itu, terselip pesan besar: bahwa peradaban tidak dibangun dengan marah-marah, tapi dengan kesabaran, ilmu, kesetaraan dan kadang sedikit humor agar tidak cepat stres menghadapi zaman.
Nahdlatul Ulama memang punya tradisi unik: serius dalam prinsip, santai dalam penyampaian. Dan KH. Miftah Faqih adalah contoh hidupnya. Beliau seperti kitab kuning berjalan bedanya, ada fitur “auto ketawa” di setiap halamannya.
Akhirnya, para peserta pulang bukan hanya membawa catatan materi, tapi juga satu kesadaran: bahwa merawat jagat itu dimulai dari merawat cara kita menjalani hidup tidak selalu tegang, tapi tetap dalam.
Karena kadang, tawa kecil di ruang pesantren… justru jadi awal lahirnya peradaban besar.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
