SURAU.CO – Pendahuluan: Dalam kehidupan sosial, manusia tidak pernah lepas dari interaksi. Lisan menjadi alat utama dalam menjalin hubungan, menyampaikan ide, dan mengekspresikan perasaan. Namun, di balik keindahan fungsi lisan, tersembunyi potensi besar untuk menyakiti, merusak, bahkan menghancurkan hati seseorang.
Pesan sederhana namun mendalam: “Jauhilah orang-orang yang lisannya buruk, maka hidupmu akan tenang.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat sosial, tetapi memiliki akar kuat dalam ajaran Islam yang menempatkan lisan sebagai salah satu aspek paling krusial dalam pembentukan akhlak seorang mukmin.
Lisan: Nikmat Sekaligus Ujian
Allah ﷻ menciptakan manusia dengan berbagai nikmat, termasuk kemampuan berbicara. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
> أَلَمْ نَجْعَل لَّهُ عَيْنَيْنِ وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ
“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, satu lidah dan dua bibir?” (QS. Al-Balad: 8-9)¹
Ayat ini menunjukkan bahwa lisan adalah karunia besar. Namun, karunia ini juga menjadi ujian. Apakah manusia menggunakannya untuk kebaikan atau justru untuk keburukan?
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan lisan secara khusus menunjukkan pentingnya alat ini dalam menentukan arah kehidupan manusia, baik menuju keselamatan atau kebinasaan².
Dampak Buruk Lisan yang Tidak Terjaga
Ucapan yang buruk tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi juga merusak diri sendiri. Banyak konflik, permusuhan, bahkan perpecahan keluarga bermula dari lisan yang tidak terkendali.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata tanpa dipikirkan, yang menyebabkan ia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)³
Hadis ini menegaskan betapa berbahayanya ucapan yang tidak dijaga. Bahkan satu kalimat saja dapat menjadi sebab kebinasaan.
Selain itu, ucapan buruk juga berdampak pada kesehatan mental. Mendengar kata-kata kasar, hinaan, atau celaan secara terus-menerus dapat menimbulkan stres, kecemasan, dan luka batin yang mendalam.
Menjauhi Lingkungan yang Buruk Lisannya
Nasihat dalam gambar menekankan pentingnya selektif dalam bergaul. Dalam Islam, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Bukhari dan Muslim)⁴
Teman yang buruk lisannya diibaratkan seperti pandai besi yang bisa membuat kita terkena percikan api atau bau tidak sedap. Artinya, meskipun kita tidak ikut berbicara buruk, hanya dengan mendengarnya saja kita bisa terkena dampaknya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa menjaga telinga dari mendengar keburukan sama pentingnya dengan menjaga lisan dari mengucapkannya⁵.
Etika Lisan dalam Islam
Islam memberikan panduan jelas tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menggunakan lisannya:
- Berkata Baik atau Diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)⁶
- Tidak Menggunjing (Ghibah)
> وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)⁷
- Tidak Menghina dan Mencela
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11)⁸
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan manusia melalui pengendalian lisan.
Ketenangan Hidup sebagai Buah Menjaga Lisan
Salah satu hikmah dari menjauhi orang yang lisannya buruk adalah tercapainya ketenangan batin. Hati tidak lagi dipenuhi luka akibat ucapan yang menyakitkan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan bahwa hati manusia sangat sensitif terhadap kata-kata. Ucapan yang baik dapat menenangkan, sementara ucapan buruk dapat merusak ketenangan jiwa⁹.
Dalam konteks psikologi modern, hal ini juga sejalan dengan konsep verbal abuse yang terbukti memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental seseorang¹⁰.
Refleksi: Menjaga Diri dan Memperbaiki Lingkungan
Pesan dari gambar ini tidak hanya mengajak kita menjauhi orang yang buruk lisannya, tetapi juga menjadi cermin untuk diri sendiri: apakah kita termasuk orang yang lisannya menyakitkan?
Menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, tetapi ibadah. Setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban:
> مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)¹¹
Penutup
Menjauhi orang yang lisannya buruk adalah langkah bijak untuk menjaga ketenangan hidup. Namun, lebih dari itu, kita juga dituntut untuk memperbaiki lisan kita sendiri.
Jika setiap individu mampu menjaga lisannya, maka masyarakat akan dipenuhi dengan kedamaian, kasih sayang, dan saling menghormati.
Akhirnya, ketenangan hidup bukan hanya hasil dari menjauhi keburukan orang lain, tetapi juga dari keberhasilan kita dalam mengendalikan diri sendiri.
Footnote
- Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Balad: 8-9.
-
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Jilid 8.
-
HR. Bukhari No. 6478 dan Muslim No. 2988.
-
HR. Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628.
-
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Bab Adab Lisan.
-
HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47.
-
QS. Al-Hujurat: 12.
-
QS. Al-Hujurat: 11.
-
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Fawaid.
-
American Psychological Association, Effects of Verbal Abuse, 2020.
- QS. Qaf: 18.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an Al-Karim
Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.
Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Al-Fawaid.
Shahih Bukhari
Shahih Muslim
American Psychological Association. Verbal Abuse and Mental Health, 2020. (Tengku Iskandar: Padang, Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
