SURAU.CO. Ada yang istimewa dalam peringatan Haul ke-16 Gus Dur. Ibu Nyai Sinta Nuriyah istri Abdurrahman Wahid atau Gus Fur menyenandungkan syair al I’tiraf, karya sastrawan kontroversial Abu Nawas. Namun yang unik, Ibu Sinta tidak sendirian tapi mendapat iringan saksofon dari Romo Aloysius Budi. Kontan bait syair pengakuan dosa itu menjadi lebih syahdu.
Untuk mengenang suaminya itu, Nyai Sinta mengajak hadirin melantunkan bersama-sama. Iringan saksofon Romo Aloysius Budi yang banyak menciptakan lagu rohani ini membuat suasana terasa lebih indah. Kehadiran Romo Budi pada Haul Gus Dur ke-16 di Ciganjur bukanlah pertama kalinya. Romo Budi sering datang dalam tiap acara-acara penting keluarga Gus Dur.
Acara yang berlangsung pada Sabtu malam (20/12) juga menjadi acara mengenang Gus Dur. Sebelum bersenandung, Nyai Sinta berkisah tentang suami. Menurutnya Gus Dur meski tumbuh dan lahir sebagai anak kiai di pesantren besar dan terpandang, namun menjalankan laku hidup sebagai rakyat biasa. Hal tersebut tampak dari kehidupan rumah hingga kenegaraan yang sederhana.
Di pihak rakyat
Nyai Sinta juga bercerita tentang Gus Dur semasa menjadi presiden selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Bahkan memilih mundur dari kursi kepresidenan untuk kepentingan masyarakat. “Gus Dur menggunakan kekuasaan untuk rakyat, meskipun untuk itu beliau harus rela kehilangan jabatan sebagai Presiden RI,” ungkapnya. Gus Dur, lanjut Nyai Sinta menggunakan kaidah ushul fikih dalam memimpin negara dan dalam membuat kebijakan bertumpu pada kepentingan rakyat.</p>
ss=”yoast-text-mark” />>“Gus Dur turun ke tengah-tengah masyarakat menjadi rakyat biasa dan memulai perjuangannya dari rakyat dan untuk rakyat. Bahkan masyarakat Papua sampai sekarang masih selalu memanggil-manggil Gus Dur. Bahkan karena saking rindunya kepada Gus Dur maka yang dipanggil-panggil jadinya saya,” ucapnya. Selain itu lanjutnya, terpilihnya Gus Dur sebagai presiden bukan demi kepentingan politik, melainkan murni kehendak rakyat. Saat menjadi pemimpin Gus Dur betul-betul menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan rakyat. Bahkan sebelum menjadi presiden, Gus Dur telah menggunakan otoritasnya sebagai pimpinan Nahdlatul Ulama untuk membela kepentingan rakyat. “Contohnya saat menjadi pemimpin NU, Gus Dur menggunakan otoritas-otoritasnya untuk membela kepentingan rakyat. Mulai membela kaum minoritas yang diperlakukan tidak adil. Contohnya kasus persekusi Ahmadiyah, pelarangan ibadah dan lain-lain,” ungkapnya melansir laman nu.or.id.
Berhadapan Dengan Rezim
Sikap yang berpihak kepada rakyat membuat Gus Dur kerap berhadapan dengan rezim pemerintah. Namun, Gus Dur tetap konsisten menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kekuasaan. Nyai Sinta menegaskan bahwa Gus Dur telah memberikan teladan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, meski harus berhadapan dengan risiko politik yang besar. “Gus Dur telah memberikan contoh kepemimpinan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Gus Dur menggunakan kekuasaan untuk rakyat, meskipun untuk itu beliau harus rela kehilangan jabatan sebagai presiden Republik Indonesia,” katanya.
Dalam haul ke 16 ini beberapa tokoh lintas agama hadir. Selain itu tampak Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar, Prof. Mahfud MD, Lukman Hakim Saifuddin. Kemudian hadir pula Buya Husein Muhammad, Menteri PPA RI Arifah Choiri Fauzi, dan tokoh yang lainnya. Acara itu tidak hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, pluralisme, dan demokrasi yang menjadi jiwa Gus Dur –sekaligus mempertanyakan ruang partisipasi rakyat dalam kehidupan bernegara saat ini. Di bawah tenda besar dengan tata cahaya hijau yang menciptakan nuansa tenang, acara berlangsung sejak sejak sore, tepat setelah salat Magrib dengan doa khatmil Al-Qur’an.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
