SURAU.CO – Bilal bin Rabah adalah muazin kesayangan Rasulullah SAW. Suaranya yang merdu menjadi penanda waktu salat. Namun, wafatnya Rasulullah meninggalkan luka yang sangat dalam di hatinya. Kesedihan itu begitu berat. Bilal merasa tidak sanggup lagi mengumandangkan azan di Madinah. Setiap lafaz azan hanya akan membangkitkan kenangan bersama sang Nabi tercinta. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk meninggalkan Madinah. Bilal kemudian memohon izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk turut berjihad di jalan Allah. Akhirnya, ia pun berangkat dan menetap di Syam, yang kini dikenal sebagai Syria.
Di negeri yang baru, Bilal menghabiskan waktunya untuk berjuang. Ia turut serta dalam berbagai ekspedisi militer. Meskipun demikian, kerinduannya kepada Rasulullah tidak pernah padam. Beberapa tahun berlalu, Bilal menjalani masa tuanya di Syria dengan tenang. Ia telah menyerahkan tugas muazin kepada orang lain. Suara indahnya tidak lagi terdengar dari menara-menara masjid. Para sahabat pun sangat merindukan gema azan dari sang muazin pertama dalam sejarah Islam itu.
Kerinduan Mendalam di Tanah Syam
Wafatnya Nabi Muhammad SAW menjadi pukulan berat bagi Bilal bin Rabah. Ia merasa kehilangan sosok yang paling ia cintai dan hormati. Akibatnya, Bilal tidak sanggup lagi melantunkan azan di Madinah. Setiap kali sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, suaranya bergetar menahan tangis. Hal itu membuatnya mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan kota yang penuh kenangan itu. Kemudian, ia memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya di Syria.
Di sana, Bilal mendedikasikan dirinya pada perjuangan Islam. Ia bergabung dengan pasukan muslim dalam ekspedisi militer. Namun, jauh di dalam hatinya, kesedihan itu tetap ada. Bertahun-tahun lamanya penduduk Madinah dan para sahabat di perantauan tidak lagi mendengar suara azannya. Mereka semua menyimpan kerinduan pada lantunan syahdu yang selalu mengingatkan mereka pada masa-masa indah bersama Rasulullah. Kepergian Bilal ke Syria adalah bentuk upayanya untuk mengobati luka hati. Namun, takdir rupanya telah menyiapkan satu momen bersejarah lainnya untuk sang muazin agung. Momen yang akan kembali menggetarkan hati kaum muslimin.
Gema Azan Terakhir di Damaskus
Beberapa tahun kemudian, Khalifah Umar bin Khattab melakukan kunjungan ke Syria. Kedatangan sang pemimpin disambut gembira oleh kaum muslimin di sana. Pada malam sebelum Umar meninggalkan Syria, para sahabat dan penguasa Damaskus memiliki satu permintaan khusus. Mereka memohon kepada Umar agar meminta Bilal mengumandangkan azan. Mereka ingin mendengar kembali suara legendaris itu untuk terakhir kalinya.
Umar pun mendekati Bilal, sahabat lamanya. Ia menyampaikan permintaan kaum muslimin. Bilal yang sudah berusia senja, awalnya ragu. Hatinya masih teramat pedih jika harus menyebut nama sang Nabi. Namun, melihat harapan besar di mata para sahabat, hatinya pun luluh. Lelaki lanjut usia itu akhirnya memenuhi permintaan mereka. Dengan langkah yang mantap, ia menaiki puncak menara masjid. Seluruh kota seakan menahan napas. Mereka menantikan suara yang telah lama hilang. Dari puncak menara masjid, suara yang sudah familiar itu mengumandang dengan merdu dan keras. Suara itu membangkitkan semua kenangan.
Tangis Haru Mengiringi Suara yang Dirindukan
Ketika Bilal melantunkan “Allahu Akbar,” seluruh kota terdiam. Kemudian, saat suaranya yang kuat dan merdu menggema, hati setiap orang yang mendengar mulai bergetar. Gema azan itu seolah membawa mereka kembali ke masa lalu. Teringat masa-masa shalat berjamaah bersama Rasulullah, para jamaah yang hadir larut dalam isak tangis. Suasana menjadi begitu haru. Kenangan akan Nabi Muhammad SAW memenuhi setiap sudut kota Damaskus.
Bahkan, para pasukan muslim yang gagah berani sekalipun tidak kuasa menahan air mata. Umar bin Khattab sebagai panglimanya tenggelam dalam isak tangis. Hari itu menjadi hari yang tidak akan pernah terlupakan. Tangisan mereka adalah tangisan kerinduan yang amat dalam kepada sang Rasul. Azan Bilal bukan sekadar panggilan salat, melainkan sebuah pengingat akan cinta dan kehilangan. Dua tahun setelah azan yang terakhir itu, sang muazin agung meninggal dunia. Bilal bin Rabah wafat sekitar tahun 20 Hijriah atau 641 Masehi. Ia dimakamkan di Damaskus, meninggalkan warisan abadi tentang keteguhan iman dan kecintaan yang tulus kepada Rasulullah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
