Dunia Islam mengenal dua tokoh besar yang sangat berpengaruh. Mereka adalah Imam Malik bin Anas dan muridnya, Imam Syafi’i. Kedua ulama ini memiliki hubungan intelektual yang sangat erat. Namun, kedekatan tersebut tidak menghalangi mereka untuk berbeda pandangan. Salah satu perdebatan mereka yang paling populer adalah tentang konsep rezeki. Kisah ini memberikan pelajaran berharga mengenai toleransi dan adab dalam berdiskusi.
Pandangan Imam Malik: Rezeki karena Tawakal
Imam Malik merupakan guru dari Imam Syafi’i. Beliau berpendapat bahwa rezeki datang karena faktor tawakal kepada Allah. Menurut beliau, seseorang yang berserah diri sepenuhnya akan mendapatkan rezeki. Allah pasti menjamin kehidupan setiap makhluk-Nya. Imam Malik mendasarkan argumennya pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW.
Beliau mengutip ucapan Rasulullah SAW:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung. Dia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
Bagi Imam Malik, intinya adalah keyakinan hati. Jika hati sudah teguh kepada Allah, maka rezeki akan menghampiri. Beliau memandang usaha sebagai pelengkap, namun tawakal adalah kunci utamanya.
Sanggahan Imam Syafi’i: Pentingnya Ikhtiar
Imam Syafi’i memiliki perspektif yang sedikit berbeda. Beliau sangat menghormati gurunya, namun tetap kritis secara ilmiah. Syafi’i berpendapat bahwa rezeki memerlukan usaha atau ikhtiar nyata. Burung dalam hadis tersebut tidak diam saja di dalam sarang. Burung tersebut harus terbang keluar untuk mencari makanan.
Beliau menyampaikan argumennya kepada sang guru:
“Wahai Guru, seandainya burung tersebut tidak keluar dari sangkarnya, mungkinkah ia akan mendapatkan rezeki?”
Imam Syafi’i menekankan bahwa tindakan nyata sangatlah krusial. Tanpa adanya usaha, rezeki tidak akan turun begitu saja dari langit. Perbedaan pendapat ini berlangsung dengan sangat santun tanpa nada merendahkan.
Kisah Kebun Anggur yang Menjadi Penengah
Suatu hari, Imam Syafi’i berjalan-jalan dan melihat seorang tua memanen anggur. Beliau memutuskan untuk membantu orang tua tersebut bekerja di kebun. Setelah pekerjaan selesai, orang tua itu memberikan beberapa ikat anggur kepada Syafi’i. Syafi’i merasa senang karena mendapatkan imbalan atas kerja kerasnya.
Beliau teringat perdebatan dengan Imam Malik. Syafi’i segera membawa anggur tersebut ke hadapan gurunya. Beliau bermaksud menunjukkan bahwa anggur itu adalah hasil dari usahanya. Syafi’i ingin membuktikan bahwa ikhtiar itu sangat penting dalam menjemput rezeki.
Imam Syafi’i berkata sambil menyodorkan anggur:
“Seandainya saya tidak keluar rumah dan membantu orang tadi, tentu anggur ini tidak akan sampai ke tangan saya.”
Jawaban Cerdas Imam Malik
Imam Malik tersenyum mendengar pernyataan muridnya yang cerdas. Beliau kemudian mengambil beberapa butir anggur tersebut dan memakannya. Dengan tenang, Imam Malik memberikan jawaban yang sangat menyentuh hati.
Beliau berkata:
“Tadi aku sedang duduk santai dan terbayang ingin makan anggur. Tiba-tiba engkau datang membawa anggur ini untukku. Bukankah ini rezeki yang datang tanpa aku harus bersusah payah?”
Mendengar jawaban tersebut, keduanya tertawa bersama. Imam Syafi’i mengakui kebenaran sudut pandang gurunya. Begitu pula Imam Malik yang menghargai ketajaman logika muridnya. Tidak ada amarah atau rasa paling benar di antara mereka.
Pelajaran Adab dan Toleransi Modern
Kisah ini mengandung pesan moral yang sangat mendalam bagi kita sekarang. Perbedaan pendapat dalam hal ilmiah atau agama adalah hal wajar. Perdebatan antara guru dan murid ini menunjukkan kualitas iman mereka. Mereka mengedepankan logika dan dalil tanpa melupakan rasa hormat.
Berikut adalah poin penting dari perdebatan mereka:
-
Saling Menghargai: Imam Syafi’i tetap sopan meskipun berbeda pendapat dengan gurunya.
-
Keterbukaan Pikiran: Imam Malik tidak merasa terancam oleh kecerdasan muridnya.
-
Persaudaraan di Atas Segalanya: Diskusi berakhir dengan canda tawa, bukan permusuhan.
-
Kebenaran yang Luas: Kedua pendapat tersebut sebenarnya saling melengkapi satu sama lain.
Saat ini, banyak orang bertengkar hebat hanya karena beda pandangan. Media sosial sering penuh dengan caci maki akibat ego masing-masing. Kita perlu meneladani cara kedua imam besar ini berinteraksi. Toleransi bukan berarti setuju pada segala hal. Toleransi berarti menghargai hak orang lain untuk memiliki pandangan yang berbeda.
Kesimpulan
Kisah Imam Malik dan Imam Syafi’i mengajarkan kita tentang kedewasaan. Rezeki memang rahasia Allah yang datang melalui berbagai jalan. Ada rezeki yang datang melalui keringat ikhtiar. Ada pula rezeki yang datang melalui keberkahan tawakal. Keduanya adalah benar dan berasal dari sumber yang sama. Mari kita jaga kedamaian dengan cara saling menghormati perbedaan pendapat. Itulah esensi sejati dari toleransi yang diajarkan oleh para pendahulu kita.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
