Syekh Nawawi Al-Bantani merupakan ulama besar asal Nusantara yang mendunia. Beliau menyandang gelar terhormat sebagai Sayyid Ulama Al-Hijaz. Beliau lahir di Tanara, Banten, pada tahun 1813. Syekh Nawawi menjadi Imam Besar Masjidil Haram karena ilmu agamanya yang sangat dalam. Selain kecerdasannya, masyarakat mengenal beliau melalui berbagai kisah karomah yang luar biasa.
Dunia Islam mengakui kontribusi beliau melalui ratusan kitab karangannya. Namun, sisi spiritual beliau seringkali menarik perhatian umat Muslim di Indonesia. Mari kita simak deretan karomah Syekh Nawawi Al-Bantani yang melegenda di Tanah Suci.
Jari Telunjuk yang Mengeluarkan Cahaya
Salah satu kisah karomah yang paling populer berkaitan dengan aktivitas menulis beliau. Syekh Nawawi adalah penulis yang sangat produktif. Suatu malam di Mekkah, lampu minyak di meja beliau tiba-tiba padam. Saat itu, beliau sedang asyik menyusun sebuah kitab penting.
Beliau tidak berhenti menulis meskipun kegelapan menyelimuti ruangan. Syekh Nawawi kemudian berdoa kepada Allah SWT agar memberikan cahaya. Tak lama kemudian, jari telunjuk kiri beliau mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Beliau menggunakan cahaya itu sebagai pengganti lampu minyak. Kejadian luar biasa ini memungkinkan beliau menyelesaikan tulisan tanpa hambatan. Konon, peristiwa ini menjadi latar belakang penulisan kitab Maraqi Al-Ubudiyyah.
Meluruskan Arah Kiblat dengan Telapak Tangan
Karomah lainnya terjadi saat beliau mengunjungi sebuah masjid yang arah kiblatnya melenceng. Para pengurus masjid sempat meragukan teguran dari Syekh Nawawi tersebut. Tanpa banyak bicara, beliau langsung menyingsingkan lengan bajunya.
Beliau meminta orang-orang melihat melalui lubang lengan bajunya yang lebar. Keajaiban pun terjadi seketika. Melalui lubang tersebut, orang-orang dapat melihat langsung Ka’bah di Masjidil Haram. Mereka sadar bahwa posisi masjid memang salah arah. Sejak saat itu, masyarakat Mekkah semakin menghormati kewalian ulama asal Banten ini.
Jasad yang Tetap Utuh Setelah Puluhan Tahun
Kisah karomah yang paling menggetarkan hati terjadi lama setelah beliau wafat. Menurut tradisi di Mekkah, makam seseorang di kompleks pemakaman Ma’la akan dibongkar setelah beberapa tahun. Pemerintah setempat biasanya akan mengganti jenazah lama dengan yang baru.
Petugas pemakaman terkejut saat membongkar makam Syekh Nawawi Al-Bantani. Mereka tidak menemukan tulang belulang yang berserakan. Sebaliknya, mereka menemukan jasad yang masih utuh dan segar. Bahkan, kain kafan beliau sama sekali tidak rusak atau hancur dimakan tanah.
Melihat kejadian tersebut, petugas segera mengubur kembali makam itu. Pemerintah Arab Saudi kemudian melarang siapapun membongkar makam beliau. Syekh Nawawi membuktikan bahwa Allah menjaga jasad para kekasih-Nya.
Membungkam Niat Buruk Penjajah Belanda
Pemerintah kolonial Belanda di Indonesia merasa terancam oleh pengaruh Syekh Nawawi. Mereka mengirim utusan ke Mekkah untuk menangkap atau membujuk beliau pulang. Namun, para utusan itu tidak pernah berhasil melaksanakan niat jahat mereka.
Seringkali, utusan Belanda tersebut mendadak lupa ingatan saat bertemu langsung dengan beliau. Ada pula cerita bahwa mereka tidak bisa melihat keberadaan Syekh Nawawi meskipun beliau ada di depan mata. Karomah ini melindungi beliau sehingga beliau tetap fokus mengajar di Masjidil Haram.
Kutipan Tentang Kemuliaan Beliau
Masyarakat dunia mengakui kehebatan intelektual dan spiritual beliau. Dalam sebuah catatan sejarah, terdapat kutipan yang menggambarkan sosoknya:
“Syekh Nawawi adalah seorang ulama yang sangat rendah hati, namun ilmunya laksana samudera yang tak bertepi.”
Kutipan lain yang sering terdengar di kalangan santri Nusantara adalah:
“Beliau tidak hanya menulis dengan tinta, tetapi juga dengan cahaya ketaqwaan yang terpancar dari setiap kalimatnya.”
Meneladani Sosok Syekh Nawawi Al-Bantani
Kisah karomah di atas bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Keajaiban tersebut merupakan bukti nyata kekuasaan Allah kepada hamba-Nya yang shaleh. Syekh Nawawi Al-Bantani menunjukkan bahwa ilmu dan adab dapat mengangkat derajat seseorang.
Meskipun berasal dari desa kecil di Banten, beliau mampu memimpin ulama di pusat peradaban Islam. Kita harus meneladani kegigihan beliau dalam belajar dan menulis. Karomah adalah anugerah, namun kerja keras dalam menuntut ilmu adalah kewajiban kita semua. Semoga kisah ini menambah kecintaan kita kepada para ulama Nusantara.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
