SURAU.CO. Setiap tanggal 10 November, udara seolah memikul beban sejarah. Aroma mesiu, debu reruntuhan, dan duka para pejuang Surabaya kembali terasa. Hari Pahlawan adalah panggilan batin, sebuah undangan sunyi untuk merefleksikan: apakah semangat juang itu masih hidup?
Pada pagi 10 November 1945, Surabaya menjadi neraka bagi penjajah, dan surga bagi para syuhada. Setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa ini belum sepenuhnya tenang. Pasukan Sekutu, bersama Netherlands Indies Civil Administration (NICA), menuntut penyerahan senjata. Namun, rakyat Surabaya menolak. Mereka sudah terlalu lama dijajah, dan tak akan lagi bertekuk lutut.
Kobaran Semangat Bung Tomo
Di tengah ketegangan, suara lantang Bung Tomo menggelegar dari radio. Pidatonya menembus langit Surabaya:
“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapa pun juga!”
Kalimat itu bukan pidato biasa. Itu adalah nyala api yang menghapus takut dan gentar. Anak muda, kiai, santri, buruh, hingga pedagang kecil bangkit bersama. Mereka berperang demi kehormatan, bukan kekuasaan. Mereka tahu, esok mungkin tak kembali namun, mati di jalan kemerdekaan adalah hidup yang sesungguhnya.
10 November: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Dalam pertempuran itu, ribuan nyawa gugur. Nama-nama seperti Bung Tomo, sang pengobar semangat, dan Doel Arnowo, wali kota Surabaya, tercatat sejarah. Namun, banyak nama lain hilang dalam asap mesiu dan puing kota. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa nisan, yang jasadnya menyatu dengan tanah ini.
Di antara mereka, ribuan santri dan kiai dari Jawa Timur turut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan. Ada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, penggagas Resolusi Jihad, bersama ulama Nahdlatul Ulama (NU), menyerukan fardhu ‘ain bagi umat Islam. Seruan jihad inilah yang membakar semangat rakyat Surabaya.
Peran Santri dalam Pertempuran 10 November
Ribuan santri dari pesantren-pesantren seperti Tebu Ireng, Lirboyo, Sidogiri, dan Tambakberas, turun ke medan laga. Mereka membawa bambu runcing dan menggaungkan takbir, Allahu Akbar.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan hanya politik, tetapi juga iman. Menyerah berarti membiarkan kehormatan agama terinjak. Di medan pertempuran, terlihat wajah-wajah muda bersinar. Santri-santri sederhana ini berbekal seadanya, tetapi hati mereka menyala. Mereka berperang dengan keyakinan bahwa kemerdekaan adalah amanah Allah Swt. Setiap takbir di langit Surabaya adalah doa: “Allahu Akbar! Lebih baik mati syahid daripada hidup terjajah!”
Merdeka dari Penjajahan Modern
Tujuh puluh delapan tahun telah berlalu. Kita hidup di zaman yang berbeda. Tak ada desingan peluru atau bom meledak. Tapi, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Atau justru terjajah oleh nafsu, korupsi, kebodohan, dan kemalasan berpikir?
Hari Pahlawan harus menjadi cermin. Bukan sekadar nostalgia atau upacara formal. Ini adalah ajakan menyalakan kembali bara perjuangan. Dulu, santri berjuang dengan bambu runcing dan jihad fi sabilillah. Kini, santri berjuang dengan pena, ilmu, dan akhlak. Bambu runcing kita hari ini adalah kejujuran, kesungguhan, dan tanggung jawab dan medan juang kita bukan lagi Surabaya 1945. Sekarang adalah ruang pendidikan, politik, dan sosial yang menuntut integritas.
Meneruskan Cita-cita Pahlawan
Bung Tomo pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Menghormati bukan hanya menabur bunga di makam, tetapi meneruskan cita-cita mereka. Para pejuang, terutama santri, tidak hanya mempertahankan tanah air. Mereka juga menjaga kehormatan agama. Semangat mereka adalah hubbul wathan minal iman—cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Bayangkan jika semangat ini hidup dalam jiwa anak muda. Santri tekun belajar membangun negeri, guru mengajar ikhlas, petani menanam jujur, pemimpin memegang amanah. Merekalah pahlawan masa kini. Mungkin tak terdengar dalam sejarah. Namun, mereka adalah penerus jiwa 10 November.
Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang masa lalu. Ini adalah menyalakan masa depan. Surabaya mungkin telah tenang, tetapi api perjuangan tak boleh padam. Api itu kini berpindah ke dada kita dengan mendoakan para syuhada Surabaya. Terutama santri yang gugur di medan jihad. Mari jawab seruan sejarah dengan tekad serupa: terus berjuang, dengan cara masing-masing.
Mengenang pahlawan sejati bukan dengan air mata melainkan dengan kerja nyata. Dengan hati menyala, seperti Surabaya pada 10 November 1945. Panas, berani, dan tak pernah padam.(kareemustofa)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
