SURAU.CO – Setelah tiga tahun menjalani dakwah secara sembunyi-sembunyi, Rasulullah Muhammad SAW menerima perintah baru yang mengubah arah misinya. Fase awal yang berhasil mengumpulkan sekitar 40 hingga 50 orang Assabiqunal Awwalun telah selesai. Kini, tiba saatnya bagi beliau untuk menyampaikan risalah Islam secara terbuka. Perintah ini datang langsung dari Allah SWT, menandai babak baru yang krusial dalam sejarah kenabian.
Perintah Ilahi untuk Berdakwah Secara Terbuka
Titik balik dakwah Rasulullah SAW dimulai dengan turunnya firman Allah SWT dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 214:
“وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ”
Artinya: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)
Ayat ini secara jelas menginstruksikan Nabi untuk memulai dakwah secara lebih luas. Beliau tidak lagi hanya berbisik kepada individu-individu. Beliau harus berani berbicara di depan keluarga besarnya. Langkah ini menjadi fondasi penting sebelum menyasar masyarakat Makkah secara keseluruhan. Ini juga menunjukkan bahwa dakwah harus dimulai dari lingkungan terdekat seseorang.
Memulai dengan Keluarga Terdekat: Bani Hasyim
Menanggapi perintah tersebut, Rasulullah SAW segera mengundang seluruh anggota keluarga terdekatnya, Bani Hasyim. Beliau menjamu mereka dalam sebuah pertemuan penting. Namun, ketika Rasulullah hendak menyampaikan pesannya, Abu Lahab, paman beliau, tiba-tiba memotong pembicaraan. Akibatnya, pertemuan pertama gagal mencapai tujuannya.
Meskipun demikian, Rasulullah SAW tidak menyerah. Beliau segera mengundang mereka kembali untuk pertemuan kedua. Kali ini, beliau mendapat dukungan dari pamannya yang lain, Abu Thalib. Kendati Abu Lahab masih menunjukkan permusuhannya, kehadiran dan dukungan Abu Thalib sangat berarti. Dorongan moral yang kuat ini membantu Nabi untuk melanjutkan misinya. Jelas, dukungan keluarga merupakan kunci awal dakwah, sebab hal ini memberikan legitimasi dan perlindungan awal bagi Nabi.
Seruan Terbuka dari Bukit Shafa
Setelah mendapat dukungan Abu Thalib, Rasulullah SAW pun memperluas seruan dakwahnya. Beliau memilih lokasi strategis: puncak Bukit Shafa. Dari sana, beliau memanggil seluruh suku Quraisy. “Wahai Bani Fihr, Wahai Bani Adi!” seru beliau. Suku-suku Quraisy pun serentak berdatangan untuk mendengarkan.
Rasulullah SAW memulai dengan pertanyaan cerdas untuk membangun kepercayaan. “Bagaimana menurut pendapat kalian bila kuberitahukan bahwa di balik bukit ini ada segerombolan pasukan berkuda yang akan menyerang kalian? Apakah kalian mempercayaiku?” tanya beliau. Semua menjawab, “Ya, kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran.” Ini menegaskan reputasi beliau sebagai Al-Amin (yang terpercaya). Integritas, pada dasarnya, adalah modal utama seorang dai; tanpa itu, pesan dakwah sulit diterima.
Setelah mendapat pengakuan atas kejujurannya, barulah Rasulullah SAW menyampaikan pesan sebenarnya. “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian terhadap azab yang amat pedih,” tegas beliau. Mendengar seruan ini, Abu Lahab kembali menunjukkan permusuhannya. “Celaka engkau Muhammad. Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?” lontarnya.
Secara langsung, tanggapan Abu Lahab ini berujung pada turunnya Surat Al-Lahab, yang mengabadikan kecelakaan baginya:
“تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ . مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ . سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ . وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ . فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ”
Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab: 1-5)
Dakwah Menggema dan Reaksi Kafir Quraisy
Seruan dakwah Rasulullah SAW kini menggema ke seluruh Makkah. Beliau berdakwah secara terbuka di mana-mana. Ayat berikutnya yang turun semakin mempertegas perintah ini:
“فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ”
Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)
Segera setelah ayat ini turun, Rasulullah SAW semakin berani. Beliau secara terang-terangan menyerang khurafat dan kebohongan syirik. Selanjutnya, beliau menjelaskan kedudukan berhala yang tidak memiliki nilai. Berhala, menurut beliau, tidak dapat memberikan manfaat atau mudarat. Ini adalah pukulan telak bagi kepercayaan paganisme Quraisy.
Akibatnya, suasana Makkah pun memanas. Kaum kafir Quraisy yang tadinya menganggap remeh dakwah beliau, kini mulai menunjukkan permusuhan sengit. Mereka marah besar, pasalnya menyadari dakwah Rasulullah menafikan penyembahan kepada selain Allah. Mereka memahami ini adalah revolusi yang tidak dapat dikompromikan dengan penyembahan berhala. Kekhawatiran kehilangan kekuasaan juga menyelimuti mereka, terlebih lagi semakin banyak orang masuk Islam.
Kebingungan melanda mereka. Rasulullah SAW tidak memiliki celah sedikit pun untuk dicela. Mereka sendiri memberinya gelar Al-Amin. Beliau adalah orang terpercaya yang tidak pernah berdusta. Silsilah beliau juga dari keturunan mulia. Integritas dan akhlaknya tidak tercela. Dalam kondisi ini, kaum Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka ingin Abu Thalib mencabut perlindungannya terhadap Nabi.
Tekanan kepada Abu Thalib dan Musim Haji
Sejumlah pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib. Mereka menyampaikan keluhan panjang. “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya anak saudaramu telah mencaci maki sesembahan kami. Ia mencela agama kami, membodohkan harapan-harapan kami dan menyesatkan nenek moyang kami. Cegahlah dia agar tidak mengganggu kami atau biarkan kami menanganinya sendiri,” pinta mereka.
Namun, Abu Thalib menolak permintaan mereka dengan halus. Alhasil, pemuka Quraisy pun pulang dengan tangan hampa. Rasulullah tetap melanjutkan dakwahnya. Keberanian Abu Thalib dalam melindungi keponakannya adalah faktor krusial. Tanpa perlindungan ini, dakwah Nabi mungkin menghadapi kesulitan jauh lebih besar.
Kegelisahan Quraisy memuncak menjelang musim haji. Orang-orang dari seluruh Arab akan datang ke Makkah. Quraisy khawatir mereka akan terpengaruh oleh Rasulullah. Maka dari itu, mereka mengadakan rapat di rumah Walid bin Mughirah. Tujuannya adalah menyatukan suara. Mereka ingin memberikan stigma seragam kepada Rasulullah untuk menghalangi dakwahnya.
Berbagai usulan muncul dalam rapat itu. Ada yang mengusulkan dukun, orang gila, atau penyair. Walid awalnya menolak semua usulan tersebut. Namun, karena tidak menemukan kata yang lebih tepat, ia menyetujui “penyihir.” Mereka berpendapat, ajaran Muhammad adalah sihir yang memisahkan anak dari orang tua atau suami dari istri. Ini jelas merupakan upaya sistematis untuk mendiskreditkan Nabi.
Al-Qur’an menggambarkan perdebatan Walid ini dalam Surat Al-Muddatsir yang artinya: “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia” (QS. Al-Muddatsir: 18-25)
Dampak Propaganda dan Masuk Islamnya Thufail bin Amr
Selanjutnya, para jamaah haji diperingatkan dengan stigma yang sama. Banyak orang menjadi takut kepada Rasulullah. Namun, di sisi lain, ada juga yang penasaran. Mereka ingin mencari tahu kebenaran di balik semua tuduhan itu. Salah satunya adalah Thufail bin Amr Ad-Dausi, seorang tokoh terkemuka Bani Daus. Ia dikenal sebagai penyair cerdas, arif, dan bijaksana.
Para tokoh Quraisy pun mendekatinya. Mereka berusaha menakut-nakuti Thufail dengan berkata, “Thufail, ada orang yang mengaku Nabi. Ia telah merusak dan mencerai-beraikan kami. Jangan sampai bencana itu menimpa kepemimpinanmu. Kami menyarankan, jangan bicara dengannya dan jangan mendengar apa pun darinya. Kata-katanya berbisa laksana sihir yang memisahkan anak dari ayahnya dan suami dari istrinya.”
Thufail sempat menutup telinganya dengan kapas, karena takut akan perkataan Quraisy. Namun, takdir berkata lain. Di dekat Ka’bah, ia samar-samar mendengar apa yang dikatakan Rasulullah. Tiba-tiba, suara hati Thufail mendorongnya: “Thufail, engkau orang yang cerdas. Kau juga penyair hebat. Bagaimana mungkin engkau takut dengan kata-kata. Coba dengarkan saja. Jika kata-katanya baik, engkau bisa menerimanya. Namun, jika kata-katanya tidak baik, engkau bisa meninggalkannya.” Thufail pun membuang kapasnya.
Apa yang dikatakan Rasulullah sungguh mempesona. Beliau memiliki diksi indah, balaghah tinggi, dan makna mendalam. “Ini bukanlah syair, apalagi sihir,” pikir Thufail. Ia segera mendekati Rasulullah, menceritakan peringatan Quraisy. Kemudian, Rasulullah mengajarkan Surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq kepadanya. Tak lama kemudian, Thufail pun masuk Islam. Kisah Thufail ini menunjukkan kekuatan kebenaran Islam. Ia bisa menembus segala propaganda dan mencapai hati yang tulus.
Hikmah dari Dakwah Terang-Terangan
Fase dakwah terang-terangan ini penuh dengan pelajaran berharga bagi umat Muslim. Pertama, hal ini menegaskan keberanian dan ketabahan Rasulullah SAW. Beliau menghadapi permusuhan frontal dengan teguh hati. Kedua, ini menunjukkan pentingnya integritas. Reputasi Al-Amin menjadi modal besar beliau dalam berdakwah. Ketiga, dukungan keluarga sangat krusial. Perlindungan Abu Thalib, sebagai contoh, adalah anugerah besar bagi Nabi. Keempat, kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Meskipun ada propaganda, hati yang tulus akan menerima Islam. Kelima, dakwah harus adaptif. Transisi dari sembunyi-sembunyi ke terang-terangan adalah strategi jitu yang memastikan Islam dapat tumbuh dan menyebar luas ke seluruh dunia.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
