Pesantren berusia lebih dua abad di Trenggalek, Jawa Timur masih berdiri kokoh. Gempuran sekolah modern, masih terus memegang tradisi salaf yang merupakan ciri khas pesantren. Pondok Pesantren Hidayatut Thullab (PPHT) menjadi penjaga tradisi, tetapi juga mengajarkan kemandirian yang mengakar kuat pada santrinya.
Pesantren Hidayatut Thullab atau populer dengan sebut Pondok Tengah telah berdiri lebih dari dua abad menjadi pusat pendidikan Islam yang menarik banyak orang bahkan hingga ke luar Jawa. Meski usianya sudah sangat tua, bangunan yang terletak di desa Kamulan ini tampak megah dan terawat, Pesantren ini juga sering disebut dengan Pondok Kamulan atau Pondok Durenan mempunyai ribuan santri. Lokasinya terletak Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Berdiri semenjak 1790, pesantren ini menjadi salah satu pesantren tertua di Indonesia.
Sejak Zaman Mataram
Dalam sejarah Pondok Tengah mulai muncul tahun 1790. Pendirian pesantren tidak dari nama Kiai Ahmad Yunus. Lahan pesantren ini awalnya adalah hutan belantara yang letaknya tidak jauh dari puing-puing bekas Kerajaan Sendang Kamulyan Trenggalek yang telah runtuh.
Kiai Ahmad Yunus masyhur sebagai kiai sufi putra Mbah Bagus Mukmin yang merupakan cucu Raja Mataram. Di Kamulan, Kiai Yunus membangun bangunan sederhana beratapkan alang-alang sebagai pusat penyebaran ajaran Islam. Dengan keuletannya beliau mengubah hutan menjadi pemukiman penduduk yang kini disebut Desa Kamulan.
Kehidupan Sunan Wilis sebuta masyarakat untuk Kiai Yunus menjadi legenda. Salah satunya adalah kepiawaiannya dalam menaklukkan binatang buas. Sepeninggal Kiai Yunus, perjuangan pesantren ini terus berlanjut, menantunya yang bernama Kiai Ali Murtadho atau Mbah Dho Ali yang meneruskannya. Kiai Ali ini adalah prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri pasca penangkapan Pangeran Diponegoro.
Bom Sekutu hingga
Pada masa Kiai Ali pesantren berdirilah masjid dengan beberapa santri bahkan mengukir batu dengan telapak tangannya. Tongkat estafet kepemimpinan kemudian beralih kepada putra Kiai Ali Murtadho yang bernama Kiai Ihsan. Pada masa tersebut, Pondok Tengah memainkan peran penting dalam sejarah kemerdekaan. Pesantren ini menjadi markas sementara tentara Hizbullah pada tahun 1948-1949.
Sekutu yang mengetahui hal tersebut kemudian mengirimkan pesawat dan mengebom pesanteren pada 10 November 1948. Uniknya, dari lima bom yang mendarat di lahan pondok, hanya dua yang meledak di luar area pesantren. Sementara tiga lainnya jatuh di area pesantren tanpa meledak.
Peran Pondok Tengah dalam sejarah terus berlanjut KH M. Mahmud Ihsan. Pada masa tersebut, pesantren menjadi pusat pelatihan dan pengembangan kader-kader Pemuda Ansor untuk ikut serta menumpas pemberontakan G30S PKI. Hingga kini, kepemimpinan Pondok Tengah dipegang oleh dzurriyah (keturunan) para pendiri.
Kurikulum Salafiyah dan Kemandirian Santri
Salah satu ciri khas utama Pondok Tengah adalah keteguhannya mempertahankan model pendidikan salafiyah murni. Meskipun banyak pesantren lain mulai mengintegrasikan pendidikan formal, namun Pondok Tengah tetap memegang teguh tradisi tersebut. Hal ini sesuai dengan wasiat pendahulunya yaitu KH Mahmud Ihsan.’
Meski demikian, ada terobosan yang menarik dalam penerapan kurikulum dan kegiatan santri. Berbeda dengan pesantren pada umumnya di Jawa Timur yang memulai kegiatan mengaji sejak pagi, di Pondok Tengah, kegiatan mengaji dimulai menjelang sore hingga tengah malam, tepatnya dari jam dua siang sampai jam sebelas malam.
Hal ini karena seluruh santrinya bekerja pada pagi hari. Para santri tersebut bekerja di berbagai sektor mulai membuat genteng, batu bata, atau bekerja di lahan warga. Menurut pihak pesantren ini adalah bagian dari pendidikan dan kemandirian yang ditanamkan. Tujuannya adalah agar para santri tidak kebingungan mencari pekerjaan setelah lulus. Selain itu banyak santri yang berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan ada yang mampu mengirimkan sebagian hasil usahanya kepada orang tua.
Kurikulum
Untuk kegiatan pengajian, Pondok Tengah menerapkan kurikulum kitab kuning yang umum di pesantren salafiyah. Kitab-kitan yang menjadi bahan ajar antara lain seperti Tafsir Jalalain, Bukhari Muslim, Ihya’ Ulumuddin, dan pelajaran Fiqih. Selain itu ada bahtsul masail yang menjadi andalan utama untuk santri senior. Ada juga pengajian umum bagi masyarakat setiap seperti pengajian selapan. Pondok Tengah juga aktif dalam organisasi alumni untuk menjaga silaturahmi dan tanggung jawab terhadap keberadaan pondok. Alumni Pondok Tengah tersebar di berbagai wilayah, sebagian besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta sebagian kecil di Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, bahkan Ambon.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
